Data Pribadi Menlu Italia Disebar Hacker Pro-Rusia di Dark Web
- Kelompok peretas pro-Rusia NoName057(16) menyebarkan data pribadi Menlu Italia Antonio Tajani di dark web dan menawarkan imbalan untuk kata sandi serta alamat pejabat.
- Sebanyak 18 tokoh penting Italia turut menjadi target, termasuk pejabat kejaksaan dan kepolisian siber; Tajani menyebut kebocoran itu mengancam dirinya serta keluarganya.
- Pemerintah Italia menyebut insiden ini serangan hibrida serius, memperketat perlindungan komunikasi diplomat, dan menegaskan dukungan terhadap Ukraina tidak berubah.
Jakarta, IDN Times - Data pribadi Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani dilaporkan bocor dan disebarkan di jaringan dark web oleh kelompok peretas pro-Rusia pada Sabtu (7/11/2026). Aksi peretasan ini diduga kuat sebagai bentuk balas dendam atas sikap politik Italia yang selama ini konsisten mendukung Ukraina.
Menanggapi serangan siber tersebut, otoritas pertahanan siber dan Kejaksaan Roma langsung bergerak cepat menggelar penyelidikan untuk melacak pelaku. Di sisi lain, Pemerintah Italia menegaskan bahwa mereka tidak akan gentar menghadapi ancaman digital ini dan memastikan kebijakan luar negeri mereka terhadap Ukraina tidak akan berubah.
1. Peretas tawarkan imbalan uang untuk informasi pejabat Italia
Otoritas keamanan siber Italia menemukan data sensitif milik Menteri Luar Negeri Antonio Tajani beredar di dark web saat melakukan patroli rutin. Data tersebut diunggah oleh kelompok peretas bernama NoName057(16). Kelompok ini bahkan nekat menawarkan imbalan uang bagi siapa saja yang bisa menyetor kata sandi maupun alamat rumah para pejabat yang menjadi target mereka.
Selain Tajani, ada 18 tokoh penting lain yang masuk dalam daftar buruan peretas ini. Beberapa di antaranya adalah Kepala Kejaksaan Roma, Francesco Lo Voi, dan Kepala Kepolisian Siber Italia, Ivano Gabrielli.
"Selama berhari-hari, pelaku kejahatan siber telah menyebarkan data pribadi saya di dark web dan terus mencari informasi lain, yang pada dasarnya mengekspos saya dan keluarga saya terhadap ancaman serta intimidasi baru," kata Tajani, dilansir Times of Israel.
2. PM Meloni sebut peretasan sebagai ancaman tata kelola negara
Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, langsung menyatakan dukungannya secara terbuka atas kasus peretasan yang menimpa para pejabatnya. Meloni menilai aksi penyebaran data aparatur negara ini bukan lagi kejahatan siber biasa, melainkan ancaman langsung terhadap keselamatan pejabat dan stabilitas pemerintahan.
Akibat dampak buruk yang ditimbulkan, aparat penegak hukum di Roma kini menggolongkan kasus ini sebagai serangan hibrida yang serius. Sebagai langkah antisipasi, pemerintah langsung menerapkan sistem perlindungan ekstra guna menutup segala celah keamanan pada jalur komunikasi para diplomat.
"Publikasi data pribadi di dark web serta upaya memperjualbelikan informasi rahasia pejabat publik oleh peretas pro-Rusia adalah persoalan yang sangat serius dan harus ditangani dengan tekad yang sebesar-besarnya," kata Meloni.
3. Bantahan pemerintah Rusia terkait operasi sabotase di Eropa
Pemerintah Rusia hingga kini masih bungkam dan belum memberikan tanggapan resmi mengenai bocornya data pribadi para pejabat penting Italia. Meski demikian, dalam berbagai kasus serupa sebelumnya, Moskow selalu membantah tuduhan bahwa mereka mendalangi operasi mata-mata atau peretasan di luar negeri.
Di sisi lain, insiden kebocoran data di Italia ini ternyata terjadi bersamaan dengan rentetan gangguan digital di sejumlah negara Eropa. Serangan siber tersebut dilaporkan sempat mengacaukan operasional transportasi kereta hingga sektor logistik, yang semakin menegaskan meluasnya ancaman siber lintas negara.






















