Kisah Lettu Boy Jaga Laut Lebanon di Tengah Ancaman Perang
- Lettu Laut Boy Avianto bertugas sebagai Public Information Officer Satgas MTF TNI di Lebanon, mewakili Indonesia dalam misi perdamaian dunia dan menjaga stabilitas kawasan Timur Tengah.
- Hidup berbulan-bulan di kapal perang membuat Boy dan tim menjalani rutinitas ketat patroli laut sambil menahan rindu keluarga karena komunikasi terbatas selama jauh dari daratan.
- Saat konflik Iran-Israel memanas, Boy menyaksikan langsung dentuman roket di langit Lebanon, menguji kesiapan mental prajurit sekaligus memperdalam makna pengabdian dan kerja sama internasional.
Jakarta, IDN Times - Malam di perairan Lebanon tak selalu sunyi. Di tengah gelap, dentuman roket sesekali membelah langit. Pemandangan yang bagi sebagian orang hanya terlihat di layar televisi. Namun, bagi Lettu Laut (KH) Boy Avianto, itu adalah kenyataan yang ia saksikan langsung dari atas kapal perang Indonesia.
Di tengah ketegangan kawasan Timur Tengah, Boy menjalankan tugas sebagai bagian dari Satgas Maritime Task Force (MTF) TNI. Jauh dari rumah, hidup dalam ruang terbatas bersama ratusan personel lain, dan di bawah ancaman yang tak selalu terlihat, Lettu Boy tetap menjalankan perannya sebagai prajurit sekaligus perwakilan Indonesia di misi perdamaian dunia.
Pengalaman tersebut ia ceritakan saat wawancara di kantor IDN Times, Rabu (1/4/2026). Baca cerita selengkapnya berikut ini.
1. Menjadi suara Indonesia dalam misi perdamaian dunia di Lebanon
Tak semua prajurit berada di garis depan dengan senjata. Dalam penugasan ini, Lettu Boy justru memegang peran yang berbeda, namun tak kalah penting sebagai Public Information Officer (PIO) atau Public Affairs Officer.
Di tengah dinamika operasi militer, ia bertugas menyampaikan informasi kepada publik tentang apa yang sebenarnya dilakukan Satgas Indonesia di Lebanon. Mulai dari kegiatan patroli, kerja sama internasional, hingga kontribusi nyata dalam menjaga stabilitas kawasan.
“Tugas saya adalah memberikan gambaran terkait operasi yang kita lakukan di sana, termasuk apa saja yang dikerjakan selama misi di Lebanon,” ujar Lettu Boy, bersemangat.
Lettu Boy tergabung dalam Satgas MTF TNI Konga XXVIII-P, bagian dari misi perdamaian dunia yang telah diikuti Indonesia sejak 2009. Dalam satu kapal, terdapat 120 personel yang berasal dari berbagai latar belakang keahlian, mulai dari awak kapal, kru helikopter, tenaga medis, hingga psikolog.
Di tengah keberagaman itu, mereka dipersatukan oleh satu tujuan yang sama: menjaga perdamaian dunia.
2. Hidup di tengah laut dengan rutinitas dan rasa rindu
Perjalanan menuju Lebanon menjadi awal dari kehidupan panjang di laut. Berangkat dari Jakarta pada Desember 2024, Lettu Boy bersama tim menempuh perjalanan selama 27 hari menggunakan KRI Sultan Iskandar Muda-367, sebelum akhirnya tiba di wilayah misi pada Januari 2025.
Sejak saat itu, hari-hari mereka berjalan dalam pola yang nyaris sama. Patroli selama tujuh hingga sembilan hari di laut, lalu bersandar dua hingga tiga hari untuk mengisi bahan bakar, air, dan logistik.
“Kita maksimal sembilan–sepuluh hari harus bekal ulang bahan bakar, air, dan makanan,” katanya.
Rutinitas tersebut terus berulang selama berbulan-bulan. Di ruang kapal yang panjangnya hanya sekitar 90 meter, mereka hidup berdampingan, berbagi ruang, tugas, dan waktu.
Namun, di balik rutinitas itu, ada satu hal yang tak pernah benar-benar bisa diatasi, yaitu rasa rindu. Komunikasi dengan keluarga menjadi hal yang tidak selalu mudah. Sinyal terbatas membuat mereka hanya bisa mengirim kabar saat kapal berada cukup dekat dengan daratan.
“Kita baru bisa kirim pesan kalau tidak lebih dari 20 nautical mile dari pantai,” ujar Lettu Boy.
Momen singkat saat sandar di pelabuhan pun menjadi sangat berarti. Bukan hanya untuk beristirahat, tetapi juga untuk sekadar menghubungi keluarga, memastikan mereka baik-baik saja di sini.
3. Saat dentuman perang terasa nyata di depan mata

Di antara semua pengalaman selama bertugas, ada satu momen yang tak akan pernah dilupakan Lettu Boy. Pada Juni 2025, konflik antara Iran dan Israel memanas selama 12 hari. Saat itu, kapal mereka sedang berada di wilayah operasi, menjalankan patroli seperti biasa. Namun, malam-malam berikutnya berubah menjadi berbeda.
Langit yang biasanya gelap berubah terang oleh kilatan roket. Dentuman terdengar hampir setiap malam. Memekikkan telinga.
“Kita menyaksikan langsung serangan roket itu. Itu pertama kali dalam hidup saya melihat kejadian seperti itu,” ungkapnya.
Tak ada lagi batas antara “berita” dan “kenyataan”. Semua terjadi di depan mata. Meski serangan tidak ditujukan langsung kepada mereka, ancaman tetap terasa dekat.
“Walau pun bukan ditujukan langsung ke kita, kita tidak tahu dampaknya bisa ke mana,” ucap Lettu Boy.
Dalam situasi seperti itu, ketenangan menjadi hal yang paling penting. Semua pelatihan yang telah dijalani sebelumnya benar-benar diuji.
4. Tidak ada tempat yang benar-benar aman di daerah misi, hanya kesiapan yang membuat bertahan

Bagi Boy, berada di daerah misi berarti menerima satu kenyataan, yaitu tidak ada tempat yang benar-benar aman. Baik di laut maupun di darat, semua memiliki risiko yang sama. Serangan bisa terjadi kapan saja, dan dampaknya bisa menjangkau siapa saja.
“Ketika kita sudah berada di daerah misi, tidak ada satu daerah pun yang benar-benar aman,” ucapnya, dengan mata berkaca-kaca.
Namun, di situlah arti kesiapan seorang prajurit diuji. Mereka tidak hanya mengandalkan kemampuan fisik, tetapi juga mental.
Di dalam kapal, dukungan antaranggota menjadi hal yang sangat penting. Mereka saling menjaga, saling menguatkan, dan memastikan tidak ada yang merasa sendiri.
Bahkan, berbagai kegiatan dilakukan untuk menjaga kondisi psikologis tetap stabil, mulai dari aktivitas bersama hingga sesi pendampingan dengan tim psikologi.
"Ada perwira yang membantu masalah psikolog, kita bisa bertanya kapan saja, ada masalah apa, kita bisa tanya langsung," ujarnya.
5. Pengalaman yang mengubah cara pandang tentang dunia dan pengabdian

Di balik segala tantangan, Lettu Boy justru menemukan hal yang tak ternilai: pengalaman dan perspektif baru. Ia berkesempatan bekerja sama dengan pasukan dari berbagai negara seperti Jerman, Bangladesh, Yunani, dan Turki.
Dari sana, Lettu Boy belajar menjaga perdamaian bukanlah tugas satu negara saja, melainkan tanggung jawab bersama.
“Pengalaman ini membuka wawasan saya, karena tidak semua orang punya kesempatan seperti ini,” ujarnya.
Penugasan ini juga mengajarkan Lettu Boy tentang arti pengabdian yang sesungguhnya, bahwa menjadi prajurit bukan hanya soal menjalankan perintah, tetapi juga tentang membawa nama bangsa di kancah internasional.
Di atas kapal yang terus berlayar, di tengah laut yang tak selalu tenang, Lettu Boy menjalankan tugasnya dengan penuh dedikasi.
Di balik seragam yang ia kenakan, tersimpan cerita tentang keberanian, kerinduan, dan tanggung jawab besar yang mungkin tak terlihat banyak orang.
Namun, dari sanalah, Indonesia hadir diam-diam, tapi nyata, menjaga perdamaian dunia.














.png)



