Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Fenomena Penumpang Gratisan Tanpa Tap, Transjakarta akan Evaluasi

Fenomena Penumpang Gratisan Tanpa Tap, Transjakarta akan Evaluasi
Koridor 9 Transjakarta (IDN Times/Dini Suciatiningrum
Intinya Sih
  • Transjakarta tengah mengevaluasi sistem pengawasan dan teknologi pembayaran setelah maraknya penumpang Non-BRT yang naik tanpa tap kartu, guna menekan potensi kebocoran pendapatan.
  • Evaluasi dilakukan secara berkala dengan memantau titik layanan berisiko tinggi, memperkuat pengawasan lapangan, serta mengkaji mekanisme verifikasi kartu pelanggan di halte tertentu.
  • Sejumlah opsi pencegahan kebocoran dikaji, termasuk penempatan petugas verifikasi, penerapan area berbayar di lokasi tertentu, dan edukasi pelanggan tentang kewajiban tap in serta tap out.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times – Fenomena penumpang “gratisan” di layanan bus feeder atau Non-BRT Transjakarta menjadi sorotan usai ramai dibahas di media sosial. Menanggapi hal tersebut, Transjakarta mengaku tengah mengevaluasi sistem pengawasan hingga teknologi pembayaran untuk menekan risiko kebocoran pendapatan.

Kepala Departemen Humas dan CSR TransJakarta Ayu Wardhani mengatakan evaluasi dilakukan secara berkala terhadap titik layanan, khususnya pada koridor dan halte Non-BRT dengan volume pelanggan tinggi.

"Transjakarta terus melakukan identifikasi dan evaluasi terhadap titik layanan, khususnya pada koridor dan halte layanan Non BRT dengan volume pelanggan tinggi. Proses ini dilakukan melalui monitoring operasional dan penguatan pengawasan lapangan, termasuk dukungan dari pramudi dan petugas operasional," ucapnya saya dihubungi IDN Times, Kamis (28/5/2026).

1. Evaluasi terhadap sistem ticketing

Bus Transjakarta
Bus Transjakarta Koridor 9 tetap beroperasi normal pasca-demonstrasi, Senin (1/9/2025). (IDN Times/Rochmanudin)

Ayu mengatakan pihaknya memahami kepatuhan pelanggan dalam melakukan tap in dan tap out penting untuk ketertiban layanan, akurasi data perjalanan, serta optimalisasi sistem pembayaran transportasi publik.

"Transjakarta secara berkala melakukan evaluasi terhadap sistem ticketing, pola transaksi, dan pola pergerakan pelanggan untuk memastikan sistem berjalan sesuai ketentuan," ujarnya

2. Evaluasi skema berbasis data operasional

Pemprov DKI Jakarta melalui PT Transjakarta telah mengoperasikan bus pink yang dikhususkan untuk wanita.
Pemprov DKI Jakarta melalui PT Transjakarta telah mengoperasikan bus pink yang dikhususkan untuk wanita. (instagram.com/@beritajakarta)

Dia menilai setiap potensi anomali maupun area yang memerlukan penguatan pengawasan menjadi bagian dari evaluasi internal perusahaan. Sejumlah opsi penguatan tengah dikaji, termasuk penambahan mekanisme verifikasi kartu pelanggan pada titik layanan tertentu sebagai bagian dari upaya peningkatan ketertiban dan akurasi validasi perjalanan.

"Sebagai langkah penguatan layanan, Transjakarta tengah mengevaluasi sejumlah skema perbaikan berbasis data operasional dan karakteristik titik layanan," katanya.

3. Opsi cegah kebocoran

WhatsApp Image 2025-08-13 at 14.55.09 (3).jpeg
Koridor 9 Transjakarta (IDN Times/Dini Suciatiningrum)

Ayu menerangkan sejumlah opsi yang sedang dikaji untuk mencegah kebocoran yakni dengan menempatkan petugas verifikasi kartu pelanggan pada titik layanan tertentu. Lalu, menguatkan pengawasan pada lokasi dengan volume pelanggan tinggi atau tingkat ketidakpatuhan yang memerlukan perhatian lebih.

Kemudian melakukan evaluasi kemungkinan penerapan area berbayar (paid area) pada titik tertentu yang dinilai membutuhkan pengendalian akses pelanggan lebih optimal dan penguatan edukasi pelanggan terkait kewajiban melakukan tap in dan tap out.

"Konsep implementasi akan disesuaikan berdasarkan hasil evaluasi internal agar langkah yang diambil efektif, proporsional, dan tetap menjaga kenyamanan pelanggan," ujarnya.

Sebelumnya, sejumlah pengguna mengeluhkan masih banyak penumpang yang naik dan turun bus tanpa melakukan tap kartu pembayaran, sehingga membuat bus semakin padat dan merugikan penumpang lain yang membayar tarif resmi.

Keluhan tersebut diunggah akun Threads @a**ngmr*. Ia mengaku sering menemukan penumpang yang memanfaatkan lemahnya pengawasan di armada Non-BRT untuk naik tanpa membayar.

"Sebagai pengguna setia TransJakarta rute Non-BRT (yang busnya lewat jalan raya biasa), gue sering banget nemu "celah" sistem pembayaran yang makin ke sini makin meresahkan," tulisnya.

Menurut dia, kondisi itu terjadi karena saat ini tidak ada lagi petugas pramusapa di dalam bus. Sementara sopir dinilai tidak mungkin mengawasi mesin tap sekaligus fokus mengemudi di tengah lalu lintas Jakarta.

“Banyak banget penumpang yang naik-turun di bus stop tanpa tap in maupun tap out,” tulis akun tersebut.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More