4 Seruan Indonesia kepada Dunia Terkait Krisis Air Global

- Indonesia menyerukan percepatan implementasi komitmen global terkait air, menyoroti bahwa krisis air kini berdampak pada stabilitas global, ekonomi, dan masa depan sistem internasional.
- Arrmanatha Nasir menegaskan empat seruan utama: memperkuat kerja sama regional, meningkatkan investasi strategis di sektor air, memperbarui tata kelola untuk era digital, serta mendorong reformasi PBB.
- Reformasi PBB dianggap penting untuk menghadapi krisis air dunia, sementara Indonesia berkomitmen melalui inisiatif seperti Center of Excellence for Water and Climate Resilience dan Resolusi Hari Danau Sedunia.
Jakarta, IDN Times - Indonesia menyampaikan empat seruan utama kepada dunia internasional untuk mempercepat implementasi komitmen global terkait air di tengah meningkatnya ancaman krisis air dunia. Seruan itu disampaikan Wakil Menteri Luar Negeri RI Arrmanatha Nasir dalam forum internasional terkait Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) 6 tentang air bersih dan sanitasi.
Dalam pidatonya, Arrmanatha menegaskan, persoalan air kini tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga menyangkut stabilitas global, pembangunan ekonomi, hingga masa depan sistem internasional.
Ia mengingatkan bahwa miliaran orang di dunia masih belum memiliki akses terhadap air minum aman, sanitasi layak, dan fasilitas kebersihan dasar.
“Air bukan sekadar sumber daya, air adalah kehidupan. Dan ketahanan air telah menjadi ujian utama pembangunan berkelanjutan,” kata Arrmanatha dalam pernyataan Kemlu RI, Kamis (28/5/2026).
Menurutnya, tantangan global terkait air kini semakin kompleks dengan munculnya ancaman baru dari perkembangan teknologi dan ekonomi digital.
1. RI soroti ancaman baru dari AI dan ekonomi digital

Arrmanatha mengatakan, kebutuhan air global meningkat pesat akibat perkembangan industri berbasis teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), pusat data, hingga pertambangan mineral kritis.
“Pertambangan mineral kritis, infrastruktur AI, pusat data, dan industri digital kini mengonsumsi miliaran liter air setiap hari,” ujarnya.
Ia menyebut, kebutuhan tersebut terus meningkat dalam waktu singkat dan berpotensi memicu konflik global di masa depan apabila tidak diatur secara strategis.
“Jika kita gagal mengelolanya secara strategis, krisis berikutnya tidak akan diperebutkan karena minyak atau tanah, tetapi karena air,” kata Arrmanatha.
Menurutnya, air kini menjadi “sumber daya tak terlihat” yang menopang ekonomi digital global. Di sisi lain, ia juga menilai sistem multilateralisme global yang seharusnya menangani tantangan tersebut justru sedang menghadapi krisis kepercayaan.
2. Indonesia sampaikan empat seruan global

Dalam forum tersebut, Indonesia menyampaikan empat seruan utama untuk memperkuat implementasi komitmen global terkait air. “Pertama, kita harus memperkuat kerja sama regional terkait air,” kata Arrmanatha.
Seruan kedua adalah meningkatkan investasi strategis di sektor air sebagai fondasi pembangunan jangka panjang. “Kedua, kita harus meningkatkan investasi strategis di sektor air sebagai dasar pembangunan,” ujarnya.
Indonesia juga mendorong pembaruan tata kelola air agar mampu menghadapi tantangan era AI dan ekonomi digital. “Ketiga, kita harus menyiapkan tata kelola air untuk menghadapi era AI dan ekonomi digital,” kata Arrmanatha.
Selain itu, Indonesia menyerukan reformasi PBB agar memiliki kapasitas yang lebih kuat dalam menangani persoalan air global. “Keempat, kita harus secara aktif mendorong reformasi PBB agar memiliki kewenangan, sumber daya, dan keadilan untuk benar-benar mampu menangani isu air,” ujarnya.
3. Indonesia soroti pentingnya Reformasi PBB

Dalam pidatonya, Arrmanatha menilai, reformasi PBB kini menjadi bagian penting dalam upaya menghadapi krisis air dunia. “Reformasi PBB bukan sekadar perdebatan prosedural, tetapi juga perdebatan soal air,” katanya.
Menurutnya, kemampuan PBB dalam menjawab isu air akan menentukan kredibilitas organisasi tersebut dalam isu perdamaian dan pembangunan global. “PBB yang tidak mampu menghadirkan solusi atas air, tidak bisa secara kredibel mengklaim mampu menghadirkan perdamaian atau pembangunan,” ujar Arrmanatha.
Indonesia juga menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam isu ketahanan air global. Salah satunya melalui pembentukan Center of Excellence for Water and Climate Resilience pasca-World Water Forum ke-10 di Bali pada 2024.
Selain itu, Indonesia juga memprakarsai Resolusi Majelis Umum PBB tentang Hari Danau Sedunia dan menempatkan infrastruktur air sebagai bagian dari pembiayaan strategis nasional melalui Sovereign Wealth Fund Danantara.
Di akhir pidatonya, Arrmanatha menegaskan tantangan terbesar dunia saat ini bukan pada kurangnya teknologi atau modal, melainkan kemauan politik bersama untuk bertindak. “Air bukan sebuah sektor. Air adalah fondasi dari semua hal yang kita lindungi di sini,” katanya.


















