Menag: Tidak Semua Hadiah Itu Gratifikasi

- Menag Nasaruddin Umar menegaskan tidak semua hadiah tergolong gratifikasi, mencontohkan kisah Nabi Muhammad yang menerima pemberian dengan tulus dan penuh penghormatan.
- Ia mengaitkan kisah tersebut dengan pentingnya pendidikan yang menanamkan cinta terhadap alam, hewan, dan lingkungan melalui pengembangan kurikulum cinta serta ekoteologi.
- Nasaruddin berharap Indonesia bisa menjadi teladan global dalam menerapkan pendekatan pendidikan berbasis kasih sayang dan kepedulian terhadap lingkungan.
Jakarta, IDN Times – Menteri Agama Nasaruddin Umar menyinggung soal perbedaan antara gratifikasi dan pemberian tulus saat berbicara mengenai keteladanan Nabi Muhammad dalam memperlakukan hadiah dari masyarakat.
Hal itu diungkapkan Menag saat menghadiri Peringatan Syukur 219 Tahun Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) di Paroki Katedral Jakarta, Jakarta Pusat, Sabtu (9/5/2026).
Dalam ceritanya, Nasaruddin mencontohkan kisah Nabi Muhammad yang menerima seekor kijang dari seseorang dengan penuh penghormatan. Menurut dia, tidak semua pemberian bisa langsung dimaknai sebagai gratifikasi.
“Kalau kita dikasih hadiah seseorang dengan penuh ketulusan, tidak semua hadiah itu gratifikasi. Ini tulus kok, dikasih,” ujar Nasaruddin.
1. Beri contoh nabi Muhammad

Ia mengatakan, Nabi Muhammad bahkan membawa sendiri kijang tersebut tanpa meminta bantuan sahabat atau ajudan. Menurutnya, sikap itu menunjukkan penghargaan terhadap pemberian orang lain.
“Begitu dilepaskan: ‘Hai sahabatku, pergilah membesarkan anak-anaknya.’ Tunduk kijang itu: ‘Terima kasih, berarti aku punya kesempatan menghidupi anak-anakku,’” katanya.
2. Kembangkan kurikulum cinta

Dalam kesempatan itu, Nasaruddin juga mengaitkan kisah tersebut dengan pentingnya menanamkan rasa cinta terhadap alam, hewan, dan lingkungan melalui pendidikan. Ia menyebut konsep “kurikulum cinta” dan ekoteologi perlu dikembangkan di lembaga pendidikan.
“Saya mengimbau lembaga pendidikan manapun juga, mari kita kembangkan ekoteologi dan kurikulum cinta,” ujarnya.
3. Bangun pendekatan berbasis kasih sayang

Menag berharap Indonesia dapat menjadi contoh di tingkat internasional dalam membangun pendekatan pendidikan berbasis kasih sayang dan kepedulian terhadap lingkungan.
“Mari kita menjadi contoh dalam dunia internasional bahwa cinta adalah jalan penyelesaian yang terbaik di atas semua problem yang ada,” kata dia.

















