Mengaku Kaget Dengar Isu Merger NasDem-Gerindra, Surya Paloh: Hanya Asumsi

- Surya Paloh membantah isu merger Partai NasDem dengan Gerindra yang diberitakan Tempo, menegaskan kabar itu hanya asumsi tanpa konfirmasi darinya.
- Paloh menekankan NasDem tetap berkomitmen berkontribusi bagi bangsa dan tidak pernah menerima hak istimewa atau monopoli selama berada di pemerintahan Jokowi.
- Ia juga membantah tudingan bahwa unit usahanya, Indonesia One, mendapat pendanaan setelah bertemu Prabowo, menyebut pemberitaan tersebut menyesatkan.
Jakarta, IDN Times - Ketua Umum DPP Partai NasDem Surya Paloh angkat bicara menanggapi isu merger partainya dengan Partai Gerindra, seperti yang diberitakan majalah Tempo yang terbit pekan ini.
Surya Paloh mengaku kaget atas pemberitaan tersebut karena setidaknya menyeret tiga entitas, pertama, dirinya secara personal terkait pamor kepemimpinannya yang melorot, kedua, Partai NasDem, dan ketiga, unit usaha yang didirikannya.
"Kalau yang dimaksudkan adalah mengenai pemberitaan Tempo, kawan-kawan dari Tempo, saya harus katakan, saya sendiri pun kaget. Ya saya kaget lah. Itu harus saya katakan," kata Paloh dalam Forum Pemred di NasDem Tower, Jakarta, Kamis (16/4/2026).
Paloh menegaskan, semua isu yang disajikan dalam majalah Tempo bisa dianggap benar bila ada konfirmasi dari dirinya sendiri. Ia menegaskan, isu merger tersebut merupkan asumsi.
Terkait isu merger NasDem, Paloh menegaskan, partainya masih bertekad untuk bekontribusi penuh bagi bangsa dan negara.
"Saya sudah jelaskan tadi partai ini masih punya tekad, masih punya spirit, masih punya konsistensi. Apa yang diminta dibicarakan, apa yang diutarakan dengan persepsi asumsi, ya saya mau bilang apa? Kalau ada itu konfirmasi dari diri saya, berarti itu benar. Tapi kalau enggak ada? Seakan-akan saya itu menawarkan untuk dan atas nama Partai NasDem, ya bagusnya kalau bisa tolonglah terima ini partai ini, bla bla bla. Tunggu dulu lah," kata NasDem.
Paloh juga menekankan bahwa unit usahanya tak pernah mendapatkan hak keistimewaan, termasuk hak monopoli di negeri ini. Hal ini yang juga dialami NasDem selama 10 tahun berada di lingkaran pemerintahan Presiden Joko "Jokowi" Widodo.
"Perusahaan yang ada tidak pernah mendapatkan hak monopoli di negeri ini. Apa saja, komoditi apa saja. Dia mau, tapi belum dapat. Sial aja dia, enggak dapat. Ya oh begitu dekat 10 tahun dengan Presiden Jokowi, masa enggak ada hak tambahan? Nanti kalau saya bilang enggak ada tambahan, ada ada," kata dia.
"Saya tolol dalam hal ini. Dalam tanda kutip. Kenapa enggak manfaatkan untuk sesuatu? Terlupa. Karena kesibukan hal-hal yang tadi, yang barangkali saya anggap itu lebih prioritas. Enggak ada, tidak mendapat hak monopoli," kata dia.
Selain itu, Paloh juga membantah berita Tempo yang menyebut satu unit usahanya, yakni Menara Indonesia One, mendapatkan bantuan pendanaan setelah ia bertemu Presiden Prabowo Subianto. Ia menegaskan pemberitaan ini misleading.
"Dikatakan ada perusahaan yang dapat pembiayaan bank. Indonesia One. Sampai hari ini dia enggak dapat dana tuh. Kapan itu? Dicek sama banknya. Ada pembiayaan untuk Indonesia? Ya enggak ada lah. Jadi mislead ini," kata Surya Paloh.
Sebelumnya, Pemimpin Redaksi Majalah Tempo Setri Yasra mengatakan, materi pemberitaan yang dipublikasikan oleh Tempo merupakan karya jurnalistik yang telah melalui proses verifikasi, akuntabel, dan berdasarkan Kode Etik Jurnalistik.
"Tempo sudah dan akan selalu memberikan ruang bagi Partai NasDem atau pihak mana pun untuk memberikan klarifikasi atas temuan dalam laporan utama tersebut," kata dia dalam keterangan, Selasa (14/4/2026).



















