Jakarta, IDN Times - Sejumlah negara menerapkan kebijakan untuk mengurangi beban biaya menstruasi, mulai dari menyediakan pembalut gratis di sekolah dan fasilitas publik, hingga memberikan bantuan pembelian produk menstruasi. Kebijakan ini muncul di tengah persoalan period poverty atau kemiskinan menstruasi, yakni keterbatasan akses terhadap produk menstruasi akibat hambatan ekonomi.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 500 juta orang yang menstruasi di seluruh dunia tidak memiliki akses terhadap bahan menstruasi dan fasilitas yang memadai. WHO menilai akses terhadap produk menstruasi yang terjangkau, fasilitas sanitasi, dan informasi kesehatan merupakan bagian penting dari kesehatan menstruasi.
