Bersih-Bersih Xi Jinping, Partai Komunis China Pecat 33 Pejabat

- PKC memecat 33 pejabat tinggi, terdiri dari 17 pejabat sipil dan 16 perwira militer, terkait dugaan pelanggaran disiplin dan hukum berat.
- Daftar pemecatan mencakup mantan pejabat senior militer, Zhong Shaojun yang pernah menjadi sekretaris Xi Jinping, serta sejumlah mantan pejabat sipil daerah dan pusat.
- Kehadiran pleno turun menjadi 279 orang; partai menetapkan Kongres ke-21 pada 2027 dan mengesahkan pengetatan tata kelola serta pengawasan pejabat.
Jakarta, IDN Times - Partai Komunis China (PKC) memecat 33 pejabat tinggi dalam penutupan Sidang Pleno Kelima Komite Sentral ke-20 di Beijing pada Kamis (29/10/2026). Langkah ini menjadi pembersihan terbesar yang disahkan Komite Sentral sejak era reformasi dan keterbukaan China guna memperketat disiplin internal partai. Para pejabat yang didepak dari keanggotaan partai diduga terlibat pelanggaran disiplin dan hukum yang berat.
Melansir kantor berita Xinhua, daftar pemecatan tersebut mencakup 17 pejabat pemerintahan dan 16 perwira militer. Angka ini melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan rekor 14 pemecatan pada Sidang Pleno Keempat pada Oktober 2025. Pemecatan terbaru menambah jumlah pejabat yang disingkirkan pada masa jabatan ketiga Presiden Xi Jinping menjadi 51 orang.
1. Belasan petinggi militer dan mantan sekretaris Xi Jinping ikut didepak

Presiden China Xi Jinping di Brazil pada 2024 (Vice-Presidência da República, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons) Daftar pejabat yang dipecat mencakup mantan Wakil Ketua Komisi Militer Pusat (CMC) Zhang Youxia dan mantan Kepala Kantor Umum CMC Zhong Shaojun. Zhong merupakan mantan sekretaris pribadi Xi Jinping sejak sang presiden menjabat Ketua Partai di Zhejiang pada akhir 2002. Otoritas China baru kali ini mengonfirmasi pelanggaran hukum Zhong setelah mencopot statusnya sebagai deputi Kongres Rakyat Nasional pada Agustus lalu.
Sejumlah tokoh kunci militer yang mengawasi operasi dan urusan politik turut tersingkir dari partai. Mereka meliputi mantan Kepala Staf Departemen Staf Gabungan CMC Liu Zhenli, Sekretaris Komisi Politik dan Hukum CMC Wang Renhua, serta mantan Panglima Angkatan Darat Li Qiaoming. Mantan Komisaris Politik Komando Teater Timur Liu Qingsong dan mantan Komandan Komando Teater Utara Huang Ming juga masuk dalam daftar pemecatan.
Di jajaran sipil, partai memecat mantan Ketua Partai Wilayah Otonomi Xinjiang Ma Xingrui dan mantan Kepala Departemen Internasional PKC Liu Jianchao. Liu sempat digadang-gadang menjadi kandidat Menteri Luar Negeri sebelum menghilang dari publik pada pertengahan tahun lalu. Mantan Menteri Perindustrian dan Teknologi Informasi Jin Zhuanglong, mantan Ketua Komisi Regulasi Sekuritas Yi Huiman, mantan Ketua Wilayah Otonomi Guangxi Lan Tianli, serta mantan Ketua Wilayah Otonomi Mongolia Dalam Wang Lixia juga kehilangan kursi mereka.
"Xi tidak ragu menyingkirkan orang-orang yang pernah ia promosikan. Tindakan yang ia lakukan sesuka hati dengan sedikit perlawanan ini menegaskan betapa posisinya tidak tergoyahkan saat ini," kata peneliti non-residen Carnegie China, Chong Ja Ian, dilansir BBC.
2. Tingkat kehadiran sidang pleno anjlok ke rekor terendah sejak era Mao Zedong

Ilustrasi bendera China. (unsplash.com/Yan Ke) Gelombang pemecatan massal ini memicu kekosongan kepemimpinan yang terlihat dari anjloknya kehadiran peserta sidang pleno. Tercatat hanya 279 orang yang terdiri dari 162 anggota penuh dan 117 anggota alternatif Komite Sentral yang menghadiri pertemuan empat hari tersebut. Angka ini setara 74,2 persen dari total 376 anggota yang terpilih pada Kongres Nasional ke-20 pada 2022.
Jumlah kursi kosong pada pertemuan pekan ini menjadi yang tertinggi dalam sejarah modern China sejak era Mao Zedong. Sebagai perbandingan, Sidang Pleno Keempat pada Oktober 2025 dihadiri 315 anggota dan Sidang Pleno Ketiga pada Juli 2024 dihadiri 364 anggota. Ini juga pertama kalinya tingkat kehadiran sidang pleno turun di bawah 300 orang selama 14 tahun masa kepemimpinan Xi Jinping.
"Semakin banyaknya kursi kosong menegaskan fokus pleno pada visi Xi mengenai disiplin internal yang ketat," ujar peneliti senior di lembaga pemikir Asia Society, Neil Thomas, dilansir The Guardian.
Rangkaian pembersihan ini turut memangkas anggota Komisi Militer Pusat dari tujuh orang menjadi tersisa dua orang, yakni Xi Jinping dan Wakil Ketua CMC Zhang Shengmin. Pada sidang pleno ini, Zhang Shengmin dipromosikan masuk ke Politbiro sehingga menjadikannya satu-satunya perwakilan militer di badan pembuat keputusan tertinggi partai tersebut. Partai juga mengangkat 10 anggota alternatif menjadi anggota penuh Komite Sentral, tetapi melewati lima kandidat berperingkat suara tertinggi.
3. Manuver konsolidasi kekuasaan menjelang Kongres Partai ke-21 pada 2027
Sidang pleno ini turut menetapkan penyelenggaraan Kongres Nasional Partai ke-21 pada paruh kedua 2027 di Beijing. Agenda lima tahunan tersebut akan merombak jajaran kepemimpinan tertinggi dan menentukan peluang Xi Jinping mengamankan masa jabatan keempat. Para pengamat menilai pengetatan disiplin dan pembersihan aparat saat ini bertujuan mengonsolidasikan kekuasaan sekaligus menguji loyalitas politik menjelang kongres.
Sejak memimpin pada 2012, Xi menjadikan pemberantasan korupsi sebagai pilar utama pemerintahannya untuk menjaga otoritas partai. Pejabat komisi disiplin partai, Zhang Fuhai, mengungkapkan bahwa lebih dari 2 juta orang telah dijatuhi sanksi atas kasus birokratisme, hedonisme, dan pemborosan sejak 2012. Sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini, badan pengawas antikorupsi China juga telah menindak 680 ribu aparat di seluruh jajaran partai.
"Dalam kasus ini, kampanye tersebut akan terus berlanjut dan meluas bergantung pada seberapa aman perasaan Xi, ketimbang masalah korupsi yang sebenarnya," tutur Chong.
Melalui komunike resminya, partai mengesahkan keputusan tentang tata kelola mandiri partai yang ketat guna memperkuat kepemimpinan terpusat. Aturan ini mencakup pengetatan proses seleksi, pengangkatan, hingga pengawasan pejabat melalui penerapan pemikiran Xi Jinping. Banyaknya pejabat yang tumbang membuat Xi diperkirakan akan menyeleksi kandidat pemimpin generasi berikutnya dari kalangan teknokrat muda di tingkat provinsi yang terhubung dengan jaringan politiknya.






















