Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Perang Lawan Iran, Biaya Militer AS Melonjak Capai Rp854 Triliun

3 min read
Perang Lawan Iran, Biaya Militer AS Melonjak Capai Rp854 Triliun
ilustrasi konflik AS-Israel dengan Iran (unsplash.com/Saifee Art)
  • Biaya kampanye militer AS melawan Iran mencapai sedikitnya US$47,1 miliar atau Rp854,02 triliun hingga pertengahan Oktober 2026, naik US$3,5 miliar dari perkiraan awal September.
  • Penggantian amunisi menjadi pengeluaran terbesar senilai US$29 miliar, disusul biaya operasional US$11,9 miliar dan penggantian peralatan tempur US$6,1 miliar; kerusakan pangkalan belum dihitung.
  • Perang memasuki bulan kesembilan saat Pentagon menghadapi defisit stok munisi, proyeksi biaya bulanan US$2–3 miliar, serta permintaan dana tambahan yang belum disetujui Kongres.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Biaya kampanye militer Amerika Serikat dalam perang melawan Iran dilaporkan melonjak hingga sedikitnya 47,1 miliar dolar AS atau setara Rp854,02 triliun (kurs Rp18.132) sampai pertengahan Oktober 2026. Angka tersebut mengalami kenaikan sebesar 3,5 miliar dolar AS atau setara Rp63,46 triliun bila dibandingkan dengan perkiraan pada awal September lalu.

Komando Pusat Amerika Serikat menyusun taksiran pengeluaran terbaru tersebut pada Jumat (16/10/2026) sebelum diserahkan Pentagon kepada Kongres pada pekan lalu. Sebagian besar total biaya perang tersebut terserap demi mengganti amunisi pertahanan udara dan bom yang terkuras di kawasan Timur Tengah.

  1. 1. Penggantian amunisi sedot porsi anggaran terbesar

    Pelaut AL AS lepaskan sling pengangkat bom Mark 84 dari peti amunisi.
    Pelaut AL AS lepaskan sling pengangkat bom Mark 84 dari peti amunisi. (U.S. Navy photo by Photographer's Mate 3rd Class Lance H. Mayhew, Jr., Public Domain, via Wikimedia Commons)

    Rincian taksiran terbaru yang dilansir CBS News mencatat bahwa beban terberat berasal dari penggantian amunisi dengan nilai sekitar 29 miliar dolar AS atau setara Rp525,83 triliun. Biaya ini terutama dialokasikan guna membeli kembali rudal pencegat pertahanan udara serta bom yang dilepaskan selama pertempuran berlangsung.

    Militer juga mengalokasikan sekitar 11,9 miliar dolar AS atau setara Rp215,77 triliun untuk biaya tambahan operasional, termasuk fasilitas pendukung prajurit mereka. Selain itu, dana sekitar 6,1 miliar dolar AS atau setara Rp110,61 triliun disiapkan untuk mengganti peralatan tempur yang rusak atau musnah. Perhitungan tersebut belum memasukkan total kerugian kerusakan pada sejumlah pangkalan militer AS di Timur Tengah yang menjadi target serangan drone dan rudal Iran.

  2. 2. Belanja matra militer dan proyeksi biaya lanjutan

    Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth
    Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth (Pete Hegseth, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)

    Angkatan Udara tercatat menghabiskan porsi tertinggi senilai 7,6 miliar dolar AS atau setara Rp137,80 triliun sejak AS dan Israel melancarkan serangan militer gabungan ke Iran pada Februari 2026. Pengeluaran tersebut kemudian disusul oleh Angkatan Darat sebesar 2,1 miliar dolar AS atau setara Rp38,08 triliun dan Angkatan Laut senilai 1,5 miliar dolar AS atau setara Rp27,20 triliun. Tiga bulan lalu, Menteri Pertahanan Pete Hegseth sempat menyampaikan kepada anggota parlemen bahwa biaya perang menyentuh angka 37,5 miliar dolar AS atau setara Rp679,95 triliun yang juga belum memperhitungkan kerusakan pangkalan.

    Kantor Anggaran Kongres bulan lalu memperkirakan perang ini dapat menelan biaya dua miliar dolar AS hingga tiga miliar dolar AS atau setara Rp36,26 triliun hingga Rp54,40 triliun per bulan selama pertempuran berlanjut. Angka pengeluaran bulanan ini diprediksi membengkak apabila eskalasi saling serang kembali intensif seperti pada musim panas lalu. Merujuk laporan CNN, Pentagon bahkan telah bersiap meluncurkan operasi baru berskala besar terhadap Iran dalam waktu 96 jam setelah menerima instruksi dari Presiden Donald Trump.

  3. 3. Isu pasokan senjata picu perdebatan politik

    Pentagon, Markas Besar Departemen Pertahanan AS
    Pentagon, Markas Besar Departemen Pertahanan AS (Touch Of Light, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

    Inspektur Jenderal Pentagon pada bulan lalu mengungkapkan bahwa militer AS tengah menghadapi defisit stok inventaris strategis menyusul tingginya jumlah munisi yang dilepaskan selama perang. Kondisi ini memaksa Departemen Pertahanan memacu percepatan kapasitas produksi senjata mereka. Di sisi lain, Donald Trump membantah adanya isu kelangkaan logistik dengan menyatakan pada awal September bahwa "kita memiliki amunisi kelas menengah hingga tinggi dalam jumlah yang hampir tak terbatas, jauh lebih banyak dari yang pernah bisa kita gunakan."

    Perang yang memasuki bulan kesembilan pada pekan ini menyisakan ketidakpastian mengenai masa depan kelanjutan konflik tersebut. Trump memberi sinyal dapat mengulang operasi militer setelah pemilihan paruh waktu jika perundingan gagal, sebagaimana ia sampaikan dalam rapat umum di Florida pekan lalu, "Kita mungkin akan melakukan sedikit Epic Fury lagi, atau mereka akan sepakat." Sementara itu, permintaan dana militer tambahan puluhan miliar dolar AS belum disetujui Kongres, dan di saat bersamaan politisi Partai Demokrat terus mendesak Hegseth untuk memaparkan rincian biaya perang secara transparan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More