Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Mental Petugas Haji Harus "Melayani", Bukan "Dilayani"

Petugas haji sedang mengatur lalu lintas bus di Makkah. IDN Times/ Faiz Nashrillah
Petugas haji sedang mengatur lalu lintas bus di Makkah. IDN Times/ Faiz Nashrillah
Intinya sih...
  • Mindset Petugas harus melayani, bukan dilayani
  • Tantangan Psikologis Jemaah: "Culture Shock" dan Perubahan Sosial
  • Gunakan teknik eliminasi untuk menemukan akar masalah utama jemaah
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Aspek psikologis menjadi salah satu fondasi utama yang harus dimiliki oleh Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 2026.

Guru Besar Psikologi, Prof. Dr. Abdul Mujib, menegaskan bahwa kesiapan mental petugas tidak hanya berkaitan dengan penanganan stres, tetapi juga soal tata kelola diri sebagai pelayan profesional.

1. Mindset pelayanan

Prof Dr Abdul Mujib dari Fakuktas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Dok. MCH)
Prof Dr Abdul Mujib dari Fakuktas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Dok. MCH)

Hal tersebut disampaikan Prof. Mujib di sela-sela pembekalan petugas haji, Senin (19/01/2026). Menurutnya, hal paling mendasar yang harus ditanamkan dalam alam bawah sadar setiap petugas adalah mindset pelayanan.

"Yang paling penting adalah sikap atau perilaku bahwa kita itu harus melayani, tidak dilayani. Kalau secara psikologis kita sudah membawa pikiran di sana untuk dilayani, ya pasti akan bermasalah nanti," tegas Prof. Mujib.

2. Tantangan Psikologis Jemaah: "Culture Shock" dan Perubahan Sosial

Anggota PPIH Arab Saudi, Warijan, saat menyambut Mbah Sumbuk di Bandara Jeddah, Arab Saudi, Sabtu (17/5/2025)
Anggota PPIH Arab Saudi, Warijan, saat menyambut Mbah Sumbuk di Bandara Jeddah, Arab Saudi, Sabtu (17/5/2025)

Prof. Mujib menjelaskan bahwa petugas harus memiliki asumsi dasar bahwa setiap jemaah haji berpotensi mengalami masalah psikologis. Hal ini wajar terjadi akibat perubahan drastis yang dialami jemaah, mulai dari perbedaan waktu, iklim, budaya, hingga pola hidup.

"Perubahan sosial, perubahan segalanya. Yang awalnya serba mandiri di rumah kemudian harus akomodasi bersama, dengan budaya yang berbeda, itu akan menjadi masalah," jelasnya.

Oleh karena itu, petugas dituntut memiliki kompetensi setara dengan pertolongan pertama pada masalah psikologis (Psychological First Aid). Petugas tidak harus menjadi psikolog, namun harus mampu menenangkan jemaah yang mengalami stres atau depresi akibat gegar budaya (culture shock).

"Setidak-tidaknya ada sesuatu yang umum bisa dikuasai. Misalnya bagaimana bisa menenangkan orang yang lagi stres. Kalau tidak bisa menyelesaikan secara utuh, nanti dia lah yang kemudian bisa men-driver (merujuk) ke ahlinya, ke psikolog atau psikiater," tambahnya.

3. Teknik prioritas masalah

Pemerintah melalui Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi menyediakan layanan Bus Shalawat gratis selama jemaah berada di Kota Suci (dok. Kemenag)
Pemerintah melalui Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi menyediakan layanan Bus Shalawat gratis selama jemaah berada di Kota Suci (dok. Kemenag)

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Mujib juga membagikan tips praktis bagi petugas dalam menangani keluhan jemaah yang kompleks. Mengingat masalah psikologis bersifat personal, petugas disarankan menggunakan teknik eliminasi untuk menemukan akar masalah utama jemaah.

Caranya adalah dengan meminta jemaah menyebutkan seluruh masalahnya, kemudian membandingkan satu per satu untuk mencari mana yang paling berat.

"Tanya saja, masalah kelima dengan keempat lebih berat mana? Oh keempat, maka yang kelima abaikan. Terus dibandingkan hingga ketemu satu masalah yang paling penting. Itulah yang perlu kita terapi atau kita bantu selesaikan," papar Prof. Mujib.

Ia menekankan bahwa pendekatan terhadap jemaah harus dilakukan secara personal (orang per orang), mengingat latar belakang jemaah yang beragam, mulai dari masyarakat perkotaan hingga pedesaan yang memiliki karakter penanganan berbeda.

"Petugas haji yang profesional dan berkualitas adalah yang mampu melakukan amanah ini dengan bagus, termasuk menyelesaikan masalah psikologis jemaah di lapangan," pungkasnya.

Share
Topics
Editorial Team
Yogie Fadila
EditorYogie Fadila
Follow Us

Latest in News

See More

Istana Sampaikan Duka atas Tragedi Jatuhnya Pesawat ATR 42-500

19 Jan 2026, 19:05 WIBNews