WHO: Hujan Hitam di Iran Berisiko Sebabkan Gangguan Kesehatan

- WHO memperingatkan hujan hitam di Iran pascaserangan kilang minyak berisiko sebabkan gangguan pernapasan akibat polusi berat yang bercampur dengan hujan.
- Pemerintah Iran mengimbau warga tetap di rumah karena udara tercemar hidrokarbon, oksida sulfur, dan senyawa nitrogen yang dapat memicu penyakit serius.
- Iran menuduh Israel melakukan perang kimia setelah serangan ke kilang minyak Teheran, sementara Amnesty International mempertanyakan legalitas dan dampak serangan terhadap warga sipil.
Jakarta, IDN Times - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa hujan hitam yang terjadi di Iran pascaserangan terhadap kilang minyak di negara itu dapat menimbulkan risiko kesehatan serius, terutama gangguan pernapasan.
Asap tebal menyelimuti Teheran pada Minggu (8/3/2026) setelah sebuah kilang minyak di kota itu diserang dalam eskalasi konflik dengan Amerika Serikat(AS)-Israel. Polusi yang bercampur dengan hujan menimbulkan fenomena yang disebut warga dan pejabat sebagai hujan hitam.
"Hujan hitam dan hujan asam yang menyertainya memang menjadi bahaya bagi masyarakat, terutama bagi saluran pernapasan," kata juru bicara WHO, Christian Lindmeier, dalam konferensi pers di Jenewa, dikutip dari The Straits Times.
1. Warga diimbau tetap berada di dalam rumah

Pihak berwenang Iran mengimbau warganya untuk tetap berada di dalam rumah guna menghindari paparan udara dan hujan yang tercemar. WHO mengatakan saran tersebut sudah tepat mengingat risiko lingkungan yang ditimbulkan.
“Mengingat risiko saat ini — fasilitas penyimpanan minyak dan kilang yang telah diserang, memicu kebakaran, menimbulkan kekhawatiran serius terhadap kualitas udara — itu jelas merupakan ide yang baik," kata Lindmeier.
Ia menambahkan bahwa serangan tersebut telah menyebabkan pelepasan hidrokarbon beracun, oksida sulfur, dan senyawa nitrogen dalam jumlah besar ke udara.
2. Paparan jangka panjang terhadap asap dapat tingkatkan risiko kanker

Para ilmuwan mengatakan bahwa menghirup atau bersentuhan dengan asap maupun partikelnya dapat menyebabkan sakit kepala, iritasi kulit dan mata, serta kesulitan bernapas. Selain itu, paparan jangka panjang terhadap beberapa senyawa tersebut dapat meningkatkan risiko beberapa jenis kanker.
Akshay Deoras, peneliti di University of Reading, menjelaskan bahwa data mengenai kualitas udara di wilayah itu masih terbatas, tapi prakiraan cuaca menunjukkan bahwa kondisi kering kemungkinan akan bertahan hingga akhir pekan. Ia memperkirakan kualitas udara akan membaik seiring waktu.
“Risiko paparan berkurang selama tidak ada serangan baru — jika terjadi serangan baru, itu akan menjadi masalah,” ujarnya
3. Serangan Israel terhadap kilang minyak Iran disebut sebagai perang kimia yang disengaja

Dalam pernyataan pada Sabtu (7/3/2026), Pasukan Pertahanan Israel (IDF), mengonfirmasi bahwa pihaknya telah mengebom fasilitas penyimpanan bahan bakar di Teheran. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyebut serangan itu sebagai perang kimia yang disengaja.
“Para agresor melepaskan bahan berbahaya dan zat beracun ke udara, meracuni warga sipil, merusak lingkungan, dan membahayakan nyawa secara masif,” tulis Baqaei di X.
Agnes Callamard, Sekretaris Jenderal Amnesty International, mempertanyakan apakah kilang minyak tersebut merupakan sasaran militer yang sah dan apakah militer Israel telah mengambil seluruh langkah yang memungkinkan untuk mencegah kerugian terhadap warga sipil.
“Kerugian yang tidak disengaja pada warga sipil, termasuk pelepasan zat beracun, tampaknya menunjukkan bahwa langkah pencegahan yang diambil terlalu sedikit dan kerugian yang terjadi terhadap warga sipil bersifat tidak proporsional,” kata Callamard, dilansir dari NBC News.

















