Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Curhat ke Putin, Iran Kritik Pendekatan Negosiasi AS

Curhat ke Putin, Iran Kritik Pendekatan Negosiasi AS
Menlu Iran Abbas Araghchi (kiri) berjabat tangan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin (kanan). (AFP/POOL/DMITRY LOVETSKY)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Iran menyalahkan pendekatan negosiasi Amerika Serikat yang dianggap terlalu menekan dan tidak fleksibel, menyebabkan kebuntuan diplomasi meski ada kemajuan dalam perundingan sebelumnya.
  • Pertemuan Araghchi dan Putin menegaskan penguatan hubungan strategis Iran-Rusia di tengah tekanan Barat, mencerminkan munculnya aliansi geopolitik baru di kawasan Timur Tengah.
  • Iran mengajukan proposal baru melalui Pakistan untuk meredakan krisis di Selat Hormuz, namun Amerika Serikat belum memberikan respons positif karena isu nuklir belum dibahas.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyalahkan Amerika Serikat atas kegagalan perundingan damai yang bertujuan meredakan konflik di Timur Tengah. Pernyataan tersebut disampaikan Araghchi saat bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin di Saint Petersburg, Senin (27/4/2026), di tengah kebuntuan diplomasi antara Washington dan Teheran.

Araghchi menilai pendekatan Amerika Serikat menjadi faktor utama gagalnya putaran negosiasi sebelumnya. Ia menyebut tuntutan yang diajukan Washington dinilai terlalu berlebihan, sehingga menghambat tercapainya kesepakatan yang diharapkan kedua pihak.

“Pendekatan AS, meskipun ada kemajuan, menyebabkan putaran negosiasi sebelumnya gagal mencapai tujuannya karena tuntutan yang berlebihan,” kata Araghchi, dikutip dari AFP, Selasa (28/4/2026).

Kunjungan ke Rusia ini menjadi bagian dari rangkaian diplomasi Iran, setelah sebelumnya Araghchi melakukan perjalanan ke Oman dan Pakistan, dua negara yang berperan sebagai mediator dalam konflik yang telah berlangsung lebih dari satu bulan tersebut.

1. Iran kritik pendekatan AS

Menlu Iran Seyed Abbas Araghchi
Menlu Iran Seyed Abbas Araghchi (AFP/Atta Kenare)

Dalam pertemuan dengan Presiden Putin, Araghchi menegaskan, kebuntuan perundingan tidak lepas dari sikap Amerika Serikat yang dinilai tidak fleksibel. Ia menyoroti meskipun terdapat kemajuan dalam proses diplomasi, tuntutan tambahan dari Washington justru memperumit proses negosiasi.

Pernyataan tersebut mencerminkan posisi Iran yang sejak awal menolak tekanan dalam perundingan, terutama yang berkaitan dengan isu strategis seperti keamanan dan kedaulatan wilayah. Iran juga menegaskan bahwa setiap kesepakatan harus didasarkan pada prinsip kesetaraan dan saling menghormati.

Selain itu, Araghchi menyampaikan bahwa dialog dengan Rusia menjadi momentum penting untuk mengevaluasi situasi terkini. Ia menekankan pentingnya koordinasi antarnegara dalam menghadapi dinamika konflik yang terus berkembang.

“Saya yakin bahwa konsultasi dan koordinasi antara kedua negara hal ini akan sangat penting,” ungkap Araghchi.

Sikap Iran ini muncul di tengah belum adanya kepastian kelanjutan negosiasi tahap kedua, setelah gencatan senjata sementara yang disepakati pada 8 April lalu berakhir tanpa kejelasan arah diplomasi selanjutnya.

2. Rusia-Iran perkuat hubungan strategis

Menlu Iran Seyed Abbas Araghchi
Menlu Iran Seyed Abbas Araghchi (AFP/Valentin Flauraud)

Pertemuan antara Araghchi dan Putin juga menegaskan kedekatan hubungan bilateral antara Iran dan Rusia di tengah konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel. Kedua pihak dilaporkan menyatakan komitmen untuk memperkuat kerja sama strategis mereka.

Putin bahkan memberikan apresiasi terhadap ketahanan Iran dalam menghadapi tekanan eksternal. Ia memuji rakyat Iran yang dinilai tetap berjuang mempertahankan kedaulatan di tengah situasi perang.

Penguatan hubungan ini menunjukkan bagaimana dinamika konflik turut membentuk aliansi geopolitik baru. Rusia, sebagai salah satu kekuatan global, menjadi mitra penting bagi Iran dalam menghadapi tekanan diplomatik maupun militer dari Barat.

Di sisi lain, kerja sama ini juga memperlihatkan pergeseran keseimbangan kekuatan di kawasan, di mana negara-negara non-Barat mulai memainkan peran lebih aktif dalam proses diplomasi internasional.

3. Negosiasi buntu, proposal baru jadi sorotan

Donald Trump sedang berpidato.
potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (commons.wikimedia.org/Michael Vadon)

Di tengah kebuntuan, Iran mengajukan proposal baru melalui Pakistan sebagai mediator. Proposal tersebut berfokus pada penyelesaian krisis di Selat Hormuz dan penghentian blokade yang dilakukan Amerika Serikat.

Langkah ini menunjukkan Iran berupaya mengalihkan fokus negosiasi ke isu yang berdampak langsung pada stabilitas global, terutama terkait jalur perdagangan energi dunia. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital bagi distribusi minyak global.

Namun, respons dari pihak Amerika Serikat disebut belum sepenuhnya positif. Seorang pejabat AS menyebut Presiden Donald Trump tidak puas dengan proposal tersebut karena tidak mencakup pembahasan terkait program nuklir Iran.

Sebelumnya, Trump juga sempat menyatakan jika Iran ingin melanjutkan pembicaraan, dapat menghubunginya lewat telepon. Pernyataan ini mencerminkan perbedaan pendekatan antara kedua negara dalam membuka jalur komunikasi.

Dengan perbedaan posisi yang masih tajam, masa depan negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran menjadi tidak pasti, sementara dinamika konflik terus berkembang dan melibatkan berbagai aktor global.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwifantya Aquina
EditorDwifantya Aquina
Follow Us

Related Articles

See More