Comscore Tracker

15 Tahun Tsunami Sudah Berlalu, Aceh Masih Butuh Alat Pendeteksi Gempa

Berharap bisa ditambah tahun 2020

Banda Aceh, IDN Times - Provinsi Aceh terus berbenah dalam mempersiapkan diri untuk menangani bencana. Hal ini mengingat, karena daerah berjulukan Serambi Makkah ini pernah luluh lantak diterjang gempa dan tsunami pada 26 Desember 2004 silam.

Upaya-upaya yang dilakukan untuk sigap dalam menangani dan menghadapi bencana bukan hanya melalui mitigasi semata. Sarana dan prasarana untuk mengetahui dan mendeteksi bencana juga diperlukan. Di antaranya dengan memiliki alat deteksi gempa bumi.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui Kepala Stasiun Geofisika Klas III Aceh Besar, Djati Cipto Kuncoro, mengatakan tahun ini Aceh mendapatkan tambahan alat sensor pendeteksi gempa bumi.

"Tiga belas peralatan yang dipasang di Aceh, ini juga dipasang di seluruh wilayah Indonesia, mulai dari Sabang sampai dengan Merauke," kata Djati, saat dijumpai di Kantor Stasiun Geofisika Klas III Aceh Besar di Mata Ie, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, Senin (16/12).

Baca Juga: Kisah Mistis di Villa Stephanie, Tempat Terparah Tsunami Banten 2018 

1. Aceh hanya punya dua alat pendeteksi gempa sebelum gempa dan tsunami 2004

15 Tahun Tsunami Sudah Berlalu, Aceh Masih Butuh Alat Pendeteksi GempaSalah satu shalter berisi alat pendeteksi gempa bumi yang ada di Kota Jantho, Kabupaten Aceh Besar (IDN Times/BMKG).

Djati mengatakan, sebelum gempa dengan magnitude besar dan tsunami menerjang Aceh. Daerah ini hanya memiliki dua alat sensor pendeteksi gempa.

"Di Provinsi Aceh sendiri, pada saat sebelum terjadinya gempa bumi tahun 2004, BMKG hanya memiliki 2 alat pendeteksi gempa," ujarnya.

Usai peristiwa besar tersebut, pemerintah melalui BMKG mulai membangun beberapa tempat penampungan (shalter) untuk peralatan sensor pendeteksi gempa. Di antaranya, di kawasan Mata Ie, Aceh Jaya, BMKG Lhokseumawe, dan Langsa.

"Tahun 2004, BMKG mulai memasang beberapa peralatan gempa walaupun belum banyak," ungkap Djati.

2. Mulai memperbanyak alat sensor gempa di daerah rawan

15 Tahun Tsunami Sudah Berlalu, Aceh Masih Butuh Alat Pendeteksi GempaSalah satu shalter berisi alat pendeteksi gempa bumi yang ada di Kota Jantho, Kabupaten Aceh Besar (IDN Times/BMKG)

Tahun ini BMKG memasang sebanyak 190 alat sensor pendeteksi gempa bumi. Alat-alat ini selanjutnya tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Di Aceh sendiri, 13 alat sensor yang dipasang.

"Namun sejak tahun 2019 ini, BMKG memasang dan membangun shelter sebanyak 13 di seluruh wilayah Aceh," kata Kepala Stasiun Geofisika Klas III Aceh Besar itu.

Untuk di wilayah Aceh, dikatakan Djati, pembangunan tempat penampungannya itu telah dilakukan sejak Agustus lalu.

Adapun daerah yang dibangun alat sensor pendeteksi gempa, yakni Kota Sabang, Kabupaten Aceh Besar, Aceh Jaya, Pidie Jaya, Bener Meriah. Di Aceh Tengah dipasang tiga alat dan di Pidie serta Aceh Selatan, BMKG memasang hingga tiga alat pendeteksi.

"Sejak bulan Agustus sudah mulai proses pembangunan dan diharapkan Bulan Desember ini sudah berdiri semua, sehingga bisa dilakukan penginstalan," jelasnya.

3. Berharap sensor pendeteksi gempa bertambah lagi tahun 2020

15 Tahun Tsunami Sudah Berlalu, Aceh Masih Butuh Alat Pendeteksi GempaKepala Stasiun Geofisika Klas III Aceh Besar, Djati Cipto Kuncoro (IDN Times/BMKG).

Kepala Stasiun Geofisika Klas III Aceh Besar berencana dan berharap di tahun 2020, BMKG kembali membangun tempat penampungan serta memasang ala pendeteksi gempa di Aceh.

Menurutnya, dengan semakin banyaknya alat tersebut membuat BMKG bisa lebih mudah mengetahui lebih detail hasil jika sewaktu-waktu terjadi gempa bumi. Misalnya gempa yang disebabkan oleh pergerakan lempeng maupun patahan di wilayah Aceh.

"Dari informasi yang kita dapatkan, bahwasanya Aceh sebelum tahun 2004, sudah pernah dilanda gempa bumi dan tsunami," ujarnya.

Jika pemasangan jadi dilakukan, Djati rencananya akan menempatkan alat tersebut di kawasan Pidie, Sabang, dan Aceh Selatan.

"Harapan kita, BMKG, melihat dari beberapa lokasi yang intensitas gempanya sangat tinggi," ungkap Djati.

Baca Juga: 15 Tahun Tsunami, PFI Aceh Gelar Pameran Foto Melawan Lupa

Topic:

  • Muhammad Saifullah
  • Arifin Al Alamudi

Berita Terkini Lainnya