Pakar IPB Ungkap Penyebab Populasi Ikan Sapu-Sapu Meledak di Jakarta

- Pakar IPB menilai ledakan populasi ikan sapu-sapu di sungai Jakarta perlu dikendalikan dengan metode terpadu, bukan hanya lewat penangkapan massal oleh Pemprov DKI.
- Ikan sapu-sapu memiliki kemampuan reproduksi tinggi, seekor betina bisa menghasilkan hingga 19 ribu telur dan berkembang biak beberapa kali dalam setahun.
- Ketiadaan predator alami di sungai Jakarta membuat ikan sapu-sapu sulit dikendalikan, berbeda dengan habitat aslinya di Sungai Amazon yang memiliki pemangsa spesifik.
Jakarta, IDN Times - Ledakan populasi ikan sapu-sapu di sungai-sungai Jakarta kian meresahkan. Di tengah rencana Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memperluas penangkapan massal, pakar IPB University mengingatkan bahwa pendekatan tersebut belum cukup efektif jika dilakukan secara tunggal.
Pakar ikan dan konservasi ikan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Charles Simanjuntak, menegaskan bahwa pengendalian populasi ikan sapu-sapu harus dilakukan secara terpadu.
“Cara yang paling efektif adalah menggabungkan beberapa metode secara terpadu. Mulai dari pencegahan, penangkapan, hingga kontrol biologis,” ungkapnya dalam keterangan, Senin (20/4/2026).
1. Seekor ikan bisa hasilkan 19 ribu telur

Ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis) merupakan ikan asing introduksi yang dikenal sebagai spesies invasif dengan kemampuan reproduksi sangat tinggi. Dalam satu siklus, seekor betina mampu menghasilkan hingga 19 ribu telur dan dapat berkembang biak beberapa kali dalam setahun.
“Satu ekor ikan jantan dapat membuahi dua ekor ikan betina. Ikan jantan akan menjaga telur di dalam liang yang mereka gali sampai menetas sehingga sintasan (persentase kelangsungan hidup) bisa mencapai lebih dari 90 persen,” paparnya.
2. Hewan omnivora

Tak hanya itu, ikan ini mampu bereproduksi pada ukuran yang masih kecil yakni 23,9–28,99 cm untuk jantan dan 13,0–25,98 cm untuk betina sehingga mempercepat siklus invasi.
"Ikan ini juga bersifat omnivora dan memiliki kemampuan adaptasi tinggi terhadap berbagai sumber makanan," katanya.
3. Tidak ada predator ikan sapu-sapu

Di habitat asalnya di Sungai Amazon, Amerika Selatan, predator alami ikan sapu-sapu adalah ikan Common Snook (Centropomus undecimalis), ikan Tarpon (Megalops atlanticus), buaya Spectacled Caiman (Caiman crocodilus), dan burung Neotropic Cormorant (Phalacrocorax brasilianus).
“Tidak adanya predator spesifik di ekosistem seperti Sungai Ciliwung menjadi alasan utama mengapa ikan ini sangat sulit dikendalikan,” jelasnya.


















