Penyaluran Bansos Dinilai Tak Ada Efek untuk Pemenangan Prabowo-Gibran

Jakarta, IDN Times - Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari, menilai, penyaluran bantuan sosial (bansos) tidak memiliki efek untuk pemenangan pasangan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden Nomor Urut 2, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.
“Riset yang pertama exit poll Litbang Kompas tentang penerima bansos yang kesimpulannya adalah ini kesimpulan Kompas sendiri, ya, penulisnya bukan dari saya, tidak ada perbedaan proporsi penerima bansos di antara pemilih ketiga calon dan perlinsos atau bansos bukan penentu untuk kemenangan kandidat,” ujar Qodari dalam keterangannya, dikutip Sabtu (6/4/2024).
Qodari juga mengutip hasil survei Indikator Politik Indonesia yang menunjukkan sebanyak 77,3 persen responden percaya Prabowo-Gibran tidak menerima bansos.
“Yang menerima bansos yang memilih Prabowo-Gibran 59,3 persen, yang tidak menerima bansos yang memilih Prabowo-Gibran 58,7 persen. Jadi sama saja, terima bansos gak terima bansos itu tetap milih Prabowo-Gibran,” kata dia.
1. Prabowo dipilih karena tegas

Kemudian, kata Qodari, berdasarkan hasil riset Indonesia Barometer pada Oktober 2023, responden ingin memilih Prabowo yang paling tinggi karena tegas dan berani sebesar 26 persen, perhatian pada rakyat 16,2 persen, dan 8,4 persen pintar berwibawa.
“Kalau di-breakdown ternyata 100 persen orang yang memilih presiden karena tegas itu ke Prabowo 87,9 persen, ke Ganjar 6,9 persen, ke Anies 5,3 persen. Orang yang memilih presiden karena alasan dekat dengan rakyat yang ke Prabowo 9,4 persen, ke Ganjar 78,8 persen, ke Anies 11,9 persen. Orang yang mau presiden pintar ke Prabowo 8,4 persen, ke Ganjar 20,5 persen, ke Anies 71,1 persen, dan seterusnya. Jadi kita lihat memang masyarakat itu memilih capres karena dia punya kualitas tertentu,” ucap dia.
2. Masyarakat ingin punya pemimpin yang tegas

Dalam kesempatan itu, masyarakat dinilai ingin mempunyai pemimpin yang tegas seperti Prabowo daripada Anies atau Ganjar yang disebut pintar.
“Kenapa calon A menang dibandingkan dengan calon B? Karena yang mau kualifikasi A mungkin proporsinya lebih besar daripada kualifikasi B. Saya ingat tahun 2014 yang menang Pak Jokowi, karena yang mau presiden merakyat lebih tinggi dari pada yang mau presiden tegas,” kata dia.
“Tahun 2019 pola itu tetap sama, ditambah satu variabel lagi yang tinggi kerja nyata dan itu lari kepada Pak Jokowi. Tahun ini, kalau survei Indo Barometer paling tinggi adalah orangnya tegas,” sambungnya.
3. Menko PMK harap penyaluran bansos tak dikaitkan dengan Pemilu 2024

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Muhadjir Effendy, menjawab soal tudingan adanya politisasi bantuan sosial pada Pemilu 2024 oleh pemerintah.
Menurutnya, program bantuan sosial yang turun pada awal 2024 merupakan program lanjutan dari tahun 2023.
"Kami memahami, apabila tugas dan fungsi kami untuk mengkoordinasikan, mensinkronisasikan dan mengendalikan pelaksanaan program di lapangan kemudian dikaitkan dengan pesta demokrasi beberapa waktu lalu. Namun perlu kami tegaskan bahwa pelaksanaan program-program tersebut di atas sudah direncanakan sejak awal, untuk mencegah angka kenaikan kemiskinan sekaligus menurunkannya, serta menghapus kemiskinan ekstrem," ujar Muhadjir di ruang sidang MK, Jakarta, Jumat (5/4/2024).
Muhadjir menjelaskan, berdasarkan data Badan Perlindungan Sosial (BPS) angka kemiskinan nasional berada di 9,36 persen. Sementara, target RPJMN pada 2020-2024 ditetapkan 6,5 sampai 7,5 persen.
Baca berita terbaru terkait Pemilu 2024, Pilpres 2024, Pilkada 2024, Pileg 2024 di Gen Z Memilih IDN Times.



















