Peringati Hari Bumi, Pangdam Jaya Ikut Tangkap Ikan Sapu-Sapu

- Pangdam Jaya Letjen Deddy Suryadi memimpin aksi bersih ikan sapu-sapu di Setu Babakan, mengangkat 200 kilogram ikan invasif dan menebar 500 bibit ikan lokal.
- Kegiatan ini bagian dari program Jaga Jakarta-Jaga Bumi dalam rangka Hari Bumi, melibatkan TNI, pegiat lingkungan, dan masyarakat untuk menjaga keseimbangan ekosistem perairan.
- Pemprov DKI Jakarta turut mendeklarasikan perang terhadap ikan sapu-sapu dengan instruksi gubernur agar seluruh wali kota ikut memberantas spesies invasif yang merusak ekosistem ibu kota.
Jakarta, IDN Times - Pangdam Jaya, Letnan Jenderal Deddy Suryadi memimpin aksi bersih ikan sapu-sapu di kawasan Setu Babakan pada Kamis (16/4/2026). Hasilnya dalam kegiatan pada Kamis kemarin berhasil diangkat sekitar 200 kilogram ikan sapu-sapu. Kemudian, di saat bersamaan turut dilakukan pelepasan 500 bibit ikan ke perairan.
"Kegiatan ini merupakan lanjutan kedua dalam program Jaga Jakarta-Jaga Bumi yang melibatkan sekitar 100 personel Koramil jajaran Kodim 0504/Jakarta Selatan. Kegiatan tersebut turut didampingi Danrem 051 dan jajaran," ujar Kepala Dinas Penerangan Kodam Jaya, Kolonel Inf Arief Wicaksana di dalam keterangan pada Jumat (17/4/2026).
Deddy memimpin aksi bersih ikan invasif itu dengan turut menggandeng pemengaruh dan pegiat lingkungan, Arif Kamarudin. Arief menambahkan kegiatan bersih ikan dilakukan dua kali.
"Secara kumulatif dari dua kali kegiatan lebih dari 400 kilogram ikan invasif telah berhasil dikendalikan dan lebih dari 1.000 bibit ikan telah ditebar untuk memperkuat populasi ikan lokal," tutur dia.
1. Ikan sapu-sapu yang ditangkap dimanfaatkan sebagai bakan ternak

Lebih lanjut, Arief mengatakan ikan sapu-sapu merupakan spesies invasif yang mampu berkembang biak dengan cepat dan mendominasi hingga 70 persen populasi di suatu perairan. Keberadaan ikan sapu-sapu tidak hanya menekan populasi ikan lokal tetapi juga merusak struktur dasar perairan dengan mengikis sedimentasi.
"Selain itu, ikan sapu-sapu juga menyebabkan air keruh, menurunkan kadar oksigen, dan menganggu siklus reproduksi biota lain,"ujar Arief.
Ia menambahkan 400 kilogram ikan sapu-sapu yang diangkat dalam kegiatan tersebut kemudian dikumpulkan dan dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak. Selain itu, ikan sapu-sapu yang diangkat juga diolah oleh komunitas setempat sehingga tidak ada limbah.
"Ikan sapu-sapu yang diangkat tetap memiliki nilai guna," imbuhnya.
2. Pengangkatan ikan sapu-sapu dilakukan memperingati hari bumi

Sementara, Pangdam Jaya, Letjen Deddy Suryadi mengatakan kegiatan pegangkatan ikan sapu-sapu merupakan bagian kolaborasi yang berkelanjutan dalam rangka hari bumi. "Momentum hari bumi ini menjadi pengingat bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Kami ingin Setu Babakan bukan sekedar obyek wisata," ujar Deddy.
Ia berharap Setu Babakan bisa menjadi ekosistem yang sehat bagi ikan lokal dan nyaman bagi masyarakat Jakarta. "Kegiatan ini menunjukkan kuatnya sinergi antara TNI, pegiat lingkungan dan masyarakat dalam menjaga ruang hidup bersama," katanya.
Dengan berkurangnya ikan invasif maka akan berdampak pada meningkatnya peluang hidup ikan lokal. Dampak lainnya yakni tumbuh kesadaran kolektif untuk menjaga lingkungan.
Deddy menyebut kegiatan serupa akan tetap dilakukan secara berkelanjutan di berbagai titik sebagai bagian dari komitmen untuk menjaga keseimbangan ekosistem perkotaan.
3. Pemprov Jakarta deklarasi perang untuk basmi ikan sapu-sapu

Aksi serupa sudah lebih dulu dilakukan oleh Pemprov DKI Jakarta. Gubernur Jakarta, Pramono Anung menginstruksikan seluruh wali kota di Jakarta turun tangan membasmi spesies invasif ikan sapu-sapu yang dinilai telah merusak ekosistem perairan dan infrastruktur tanggul di ibu kota. Pramono mengatakan jajaran Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta segera mengumpulkan para wali kota mengingat dampak kerusakan dari hama air ini sudah semakin mengkhawatirkan.
"Dan dalam waktu dekat ini Pemerintah DKI Jakarta akan mengadakan rapat khusus mengenai ikan sapu-sapu. Karena saya akan minta seluruh wali kota, kalau di Pulau Seribu enggak lah, semua wali kota untuk menangani ini karena memang dampaknya sudah terasa," ujar Pramono di Kantor Unit Pengelola Penyelidikan, Pengujian, dan Pengukuran Bina Marga Dinas Bina Marga DKI Jakarta, Jakarta Timur pada Selasa (14/4/2026).
Pramono menjelaskan, langkah awal penertiban spesies asing ini telah diuji coba saat pemberantasan di kali depan Plaza Indonesia.
"Jadi penanganan ikan sapu-sapu yang dilakukan di depan Plaza Indonesia itu sebagai contoh role model penanganan nanti di tempat lain," tutur dia.



















