Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Presma Trisakti: HUT RI Bukan Cuma Perayaan, Evaluasi Perjalanan Bangsa

Presma Trisakti: HUT RI Bukan Cuma Perayaan, Evaluasi Perjalanan Bangsa
Menteri Luar Negeri Kepresidenan Mahasiswa Trisakti Arief Rizquna. (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)
  • Mahasiswa menilai HUT ke-81 RI perlu menjadi ruang evaluasi atas perwujudan cita-cita kemerdekaan dalam kehidupan masyarakat.
  • Arief Rizquna menyoroti ketimpangan sosial, pendidikan, keadilan ekonomi, demokrasi, dan partisipasi publik sebagai pekerjaan rumah bangsa.
  • Ia juga menekankan politik luar negeri bebas aktif dan diplomasi yang membawa kepentingan rakyat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Menurutmu, HUT RI perlu lebih dari sekadar seremoni?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia tidak semestinya hanya menjadi momentum seremonial untuk mengenang kemerdekaan. Mahasiswa menilai, peringatan kemerdekaan juga harus menjadi ruang untuk mengevaluasi sejauh mana cita-cita kemerdekaan telah diwujudkan dalam kehidupan masyarakat.

Hal itu disampaikan Menteri Luar Negeri Kepresidenan Mahasiswa Trisakti, Arief Rizquna. Menurutnya, momentum Agustus harus dimanfaatkan untuk mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar mengenai makna kemerdekaan saat ini, dan siapa saja yang benar-benar merasakan manfaatnya.

“Bagi saya, HUT Republik Indonesia tidak semestinya hanya dimaknai sebagai ritual tahunan untuk mengingat bahwa kita pernah merdeka. Justru setiap Agustus kita perlu mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar: apa makna kemerdekaan hari ini, dan siapa yang benar-benar merasakan kemerdekaan itu?” kata Arief kepada IDN Times, Minggu (16/8/2026).

  1. 1. HUT RI jadi momentum evaluasi perjalanan bangsa

    Mahasiswa Universitas Trisakti jelang demo berkumpul di Monumen Tragedi 12 Mei, Jakarta, Jumat (19/6/2026).
    Mahasiswa Universitas Trisakti jelang demo berkumpul di Monumen Tragedi 12 Mei, Jakarta, Jumat (19/6/2026). (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

    Arief mengatakan, Agustus sebagai bulan kelahiran Indonesia seharusnya menjadi momentum refleksi. Menurut dia, masyarakat tidak cukup hanya menghitung usia kemerdekaan, tetapi juga perlu melihat perjalanan bangsa selama 81 tahun.

    “Kalau Agustus memang bulan kemerdekaan, maka Agustus sebagai bulan kelahiran Indonesia juga harus menjadi waktu yang tepat untuk melakukan refleksi. Bukan sekadar merayakan usia bangsa, tetapi mengevaluasi perjalanan bangsa,” ujarnya.

    Arief mengingatkan agar peringatan kemerdekaan tidak terjebak pada romantisme sejarah. Penghormatan terhadap perjuangan para pendiri bangsa, kata dia, tidak cukup diwujudkan melalui upacara, pengibaran bendera, maupun seremoni.

    “Penghormatan itu adalah keberanian untuk melihat realitas hari ini secara jujur,” katanya.

    Menurut Arief, masih terdapat sejumlah pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Persoalan tersebut antara lain ketimpangan sosial, pendidikan, keadilan ekonomi, demokrasi, hingga ruang partisipasi publik.

    “Masih ada ketimpangan yang harus kita lawan, pendidikan yang harus kita benahi, ekonomi yang harus dibuat lebih berkeadilan, demokrasi yang harus terus dijaga, dan ruang partisipasi publik yang harus semakin dibuka,” kata dia.

  2. 2. Kemerdekaan harus dirasakan masyarakat

    Presma Trisakti: HUT RI Bukan Cuma Perayaan, Evaluasi Perjalanan Bangsa
    Pengibaran bendera Merah Putih dari bawah laut Pulau Maratua, Kabupaten Berau, HUT ke-81 Kemerdekaan RI, 7-9 Agustus 2026. (istimewa)

    Arief menilai kemerdekaan tidak boleh hanya dipahami sebagai status konstitusional. Makna kemerdekaan harus dapat dirasakan secara nyata oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

    “Kemerdekaan tidak boleh berhenti sebagai status konstitusional. Kemerdekaan harus hadir sebagai pengalaman nyata dalam kehidupan rakyat,” tuturnya.

    Karena itu, Arief berharap, masyarakat tidak hanya mempertanyakan berapa lama Indonesia telah merdeka. Lebih jauh, masyarakat perlu melihat sejauh mana cita-cita yang diperjuangkan para pendiri bangsa telah diwujudkan.

    “Harapan saya di HUT RI tahun ini adalah agar kita tidak hanya bertanya ‘sudah berapa tahun Indonesia merdeka?’, tetapi juga berani bertanya, ‘sudah sejauh mana cita-cita kemerdekaan itu kita wujudkan?’” katanya.

    Bagi generasi muda, Arief melanjutkan, refleksi tersebut tidak boleh berhenti sebagai kritik. Generasi muda harus berani mengambil peran dalam memperbaiki kondisi bangsa sekaligus bertanggung jawab terhadap masa depan Indonesia.

    “Sebab bangsa ini tidak hanya membutuhkan generasi yang bangga terhadap sejarahnya, tetapi juga generasi yang berani mengoreksi hari ini dan bertanggung jawab membentuk masa depan,” ujarnya.

    Menurut Arief, kemerdekaan merupakan amanat yang harus terus dijaga dan diperjuangkan. Kemerdekaan bukan sesuatu yang selesai hanya karena Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

    “Pada akhirnya, kemerdekaan bukan warisan yang selesai diterima. Kemerdekaan adalah amanat yang harus terus dijaga, dikritisi, dan diperjuangkan,” kata dia.

    “Sebab bangsa yang dewasa bukan bangsa yang hanya pandai merayakan sejarahnya, tetapi bangsa yang berani mengoreksi dirinya ketika cita-cita kemerdekaan belum sepenuhnya menjadi kenyataan," sambungnya.

  3. 3. Mahasiswa soroti arah politik luar negeri Indonesia

    Presma Trisakti: HUT RI Bukan Cuma Perayaan, Evaluasi Perjalanan Bangsa
    Suasana General Assembly Hall di Markas Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), di kota New York, Amerika Serikat, Senin sore (22/9/2025) saat Presiden Prabowo pidato. (IDN Times/Uni Lubis)

    Selain persoalan domestik, Arief turut menyoroti pekerjaan rumah pemerintah dalam bidang politik luar negeri pada momen HUT ke-81 RI. Arief berharap Indonesia dapat semakin dihormati di dunia internasional tanpa meninggalkan kepentingan rakyat.

    “Bagaimana Indonesia bisa semakin dihormati di dunia, tetapi tetap berpihak pada kepentingan rakyat,” ujarnya.

    Arief menilai prinsip politik luar negeri bebas aktif harus terus dipertahankan. Indonesia, kata dia, harus memiliki keberanian untuk menentukan sikap sendiri, dan tidak sekadar mengikuti kepentingan negara-negara besar.

    “Indonesia harus punya keberanian untuk menentukan sikap sendiri dan tidak hanya mengikuti kepentingan negara-negara besar,” katanya.

    Arief juga mengingatkan agar diplomasi Indonesia tidak hanya terlihat dalam forum internasional. Diplomasi, menurutnya, harus memberikan manfaat yang dapat dirasakan langsung masyarakat. Manfaat tersebut antara lain melalui perlindungan warga negara Indonesia di luar negeri, pendidikan, ekonomi, hingga kerja sama antarnegara.

    “Jadi kalau ditanya harapan saya di usia ke-81 RI ini, saya ingin Indonesia bukan hanya hadir di dunia, tetapi benar-benar diperhitungkan,” kata dia.

    Menurut Arief, Indonesia tidak harus menjadi negara paling kuat untuk diperhitungkan dunia. Hal yang lebih penting adalah memiliki prinsip, keberanian mengambil sikap, serta kemampuan membawa kepentingan rakyat dalam setiap langkah diplomasi.

    “Bukan karena kita paling kuat, tetapi karena kita punya prinsip, punya keberanian bersikap, dan mampu membawa kepentingan rakyat dalam setiap langkah diplomasi,” ujarnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More