Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Ironi 81 Tahun Kemerdekaan RI, Ancaman Krisis Iklim Bayangi Generasi Muda

Ironi 81 Tahun Kemerdekaan RI, Ancaman Krisis Iklim Bayangi Generasi Muda
Ilustrasi peta Indonesia (unsplash.com/Rizki Oceano)
  • Aktivis Nurul Habaib menilai generasi muda belum sepenuhnya merdeka karena krisis iklim, kerusakan ekosistem, dan pembangunan tak sensitif mengancam ruang hidup, kesehatan, pangan, serta ekonomi.
  • Kerusakan hutan, reklamasi pesisir, dan ketergantungan bahan bakar fosil berdampak langsung pada meja makan, pekerjaan, tempat tinggal, dan kelompok rentan; banjir, gempa, serta kekeringan menandakan tekanan ekologis.
  • Nurul menegaskan penanganan krisis iklim perlu aksi kolektif lintas generasi; keterlambatan bertindak akan membebani generasi berikutnya dengan kerusakan, biaya adaptasi, kesehatan, dan kerugian ekonomi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Meski Indonesia telah 81 tahun merdeka dari penjajahan, kondisi berbeda masih dihadapi generasi muda ketika berhadapan dengan isu krisis iklim dan kerusakan lingkungan. Aktivis lingkungan yang juga merupakan World Bank Group Climate Ambassador, Nurul Habaib, menilai generasi muda belum sepenuhnya merdeka dari ancaman tersebut karena dampaknya dapat menyasar ruang hidup, kesehatan, pangan hingga masa depan ekonomi dunia.

“Menurut saya, walaupun memang kita sudah 81 tahun bebas dari penjajahan, tetapi menurut saya generasi muda itu belum sepenuhnya merdeka," kata Lulu, sapaan akrabnya, kepada IDN Times, Minggu (16/8/2026).

  1. 1. Ancaman krisis iklim ciptakan dampak berantai bagi masyarakat

    Nurul Habaib Al Mukarramah (Lulu) (dok. pribadi)
    Nurul Habaib Al Mukarramah (Lulu) (dok. pribadi)

    Lulu mengatakan persoalan yang mengkhawatirkan bukan hanya satu bentuk kerusakan lingkungan. Menurut dia, krisis iklim, kerusakan ekosistem, dan kebijakan pembangunan yang tidak sensitif terhadap kondisi lapangan dapat menciptakan dampak berantai bagi kehidupan masyarakat.

    “Yang mengkhawatirkan bagi saya sebenarnya bukan hanya satu jenis kerusakan, tapi aspek berantai dari krisis iklim, kerusakan ekosistem, juga terutama kebijakan pembangunan yang tidak sensitif terhadap kondisi di lapangan," ujar penerima penghargaan IDN Times Youth Climate Warrior itu.

    Dia menilai tekanan terhadap lingkungan pada akhirnya tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Kerusakan hutan, pesisir, serta ketergantungan terhadap bahan bakar fosil dapat membawa konsekuensi langsung bagi masyarakat, terutama kelompok rentan.

  2. 2. Sistem ekologis sedang berada dalam tekanan

    ilustrasi hutan mangrove (IDN Times/Putra Gema Pamungkas)
    ilustrasi hutan mangrove (IDN Times/Putra Gema Pamungkas)

    Lulu mengatakan dampak perubahan iklim dapat masuk ke berbagai aspek kehidupan. Menurut dia, kerusakan lingkungan berpotensi memengaruhi meja makan, kesehatan, pekerjaan, akses terhadap pangan hingga tempat tinggal masyarakat.

    “Jadi ketika misalnya kita merusak hutan, pesisir direklamasi, energi masih bergantung sama bahan bakar fosil, semua dampaknya akan kembali ke kehidupan kita, ke meja makan, kesehatan, pekerjaan, akses ke pangan dan tempat tinggal kita," ujarnya.

    Dia juga menilai berbagai peristiwa seperti banjir, gempa dan kekeringan menunjukkan sistem ekologis sedang berada dalam tekanan. Karena itu, kebijakan yang tidak berpihak pada perlindungan iklim dan lingkungan dinilai tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang normal.

  3. 3. Generasi muda tak bisa dibebani tanggung jawab sendirian atasi krisis iklim

    ilustrasi krisis iklim (pexels.com/kostolac)
    ilustrasi krisis iklim (pexels.com/kostolac)

    Meski dampak krisis iklim banyak dibicarakan sebagai persoalan masa depan anak muda, Lulu menilai tanggung jawab penyelesaiannya tidak boleh hanya diberikan kepada generasi muda. Generasi sebelumnya juga dinilai harus ikut mengambil peran.

    “Saya sering mendengar bahwa anak mudalah yang memegang tanggung jawab untuk melindungi dan juga memperbaiki iklim kita," ujarnya.

    Menurut dia, persoalan krisis iklim yang terjadi saat ini juga merupakan hasil dari proses panjang. Karena itu, solusi membutuhkan kerja sama lintas generasi, termasuk kesediaan generasi sebelumnya mendengarkan suara anak muda.

  4. 4. Dampak krisis iklim akan ditanggung generasi berikutnya

    Nurul Habaib Al Mukarramah (Lulu) (dok. pribadi)
    Nurul Habaib Al Mukarramah (Lulu) (dok. pribadi)

    Nurul memperingatkan keterlambatan bertindak dapat membuat generasi berikutnya menghadapi beban yang lebih besar. Beban tersebut bukan hanya berupa lingkungan yang semakin rusak, tetapi juga biaya untuk beradaptasi dan memulihkan dampak kerusakan.

    “Jadi kalau hari ini kita terlambat bertindak, generasi setelah kita itu bukan hanya mereka yang menerima lingkungan yang lebih rusak, tapi mereka juga menanggung biaya adaptasi, biaya kerusakan dan kerugian, kesehatan, dan loss of economy yang akan jauh lebih besar jika kita melakukan business as usual," Katanya.

    Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan bahwa upaya memperbaiki lingkungan bukan sekadar agenda ekologis, melainkan bagian dari upaya memastikan generasi berikutnya tetap memiliki ruang hidup yang layak.

  5. 5. Menuju kemerdekaan yang sesungguhnya

    Climate Change - Informasi Iklim BMKG
    Climate Change - Informasi Iklim BMKG

    Lulu menilai penyelesaian krisis iklim membutuhkan aksi kolektif. Menurut dia, seluruh lapisan generasi perlu mengambil komitmen dan bekerja sama, bukan menyerahkan tanggung jawab tersebut kepada kelompok usia tertentu.

    “Sehingga yang terjadi adalah aksi-aksi kolektif dan menurut saya ketika seluruh lapisan generasi mau mengambil komitmen dan mau melakukan upaya apapun untuk menyelesaikan masalah krisis iklim dan memperbaiki lingkungan hidup kita, maka di situlah menurut saya kita berada di jalan yang tepat menuju kemerdekaan," katanya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More