“Kami belum mengambil keputusan untuk memulai kembali negosiasi dengan pihak Amerika Serikat,” kata Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam sebuah unggahan di media sosial Telegram pada Sabtu (15/8/2026), seperti dilansir Al Jazeera.
Iran Masih Ogah Lanjut Negosiasi Langsung dengan AS

- Iran belum memutuskan melanjutkan negosiasi langsung dengan AS; kedua pihak hanya bertukar pesan serta proposal perdamaian melalui mediator Pakistan dan Qatar.
- Iran membahas rute pelayaran baru Selat Hormuz dengan Oman dan menuntut AS memenuhi enam syarat, termasuk penghentian serangan serta ganti rugi perang.
- Iran dan AS saling mengklaim kendali atas Selat Hormuz, sementara Donald Trump menyatakan akan mendeklarasikannya sebagai wilayah teritorial AS setelah mengalahkan Iran.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Iran mengatakan pihaknya hingga saat ini belum berniat untuk melanjutkan negosiasi langsung dengan Amerika Serikat (AS). Sikap Iran ini membuat progres perdamaian dengan AS berjalan alot. Hal ini berpotensi membuat perang di antara Teheran dan Washington kembali meletus pada kemudian hari.
1. Iran dan AS hanya bertukar pesan lewat Pakistan dan Qatar sebagai mediator

potret bendera Pakistan (unsplash.com/Ali Khokhar) Menurut Araghchi, delegasi Iran dan AS saat ini hanya bertukar pesan saja melalui mediator, yakni Pakistan dan Qatar. Lewat pesan tersebut, Teheran dan Washington saling bertukar gagasan dan proposal perdamaian untuk mengakhiri konflik. Meski demikian, Araghchi mengatakan aktivitas tersebut tetap tidak bisa dikategorikan sebagai negosiasi. Sebab, negosiasi harus dilakukan secara langsung, bukan hanya dengan bertukar pesan lewat mediator.
Araghchi menambahkan, Iran saat ini masih melanjutkan diskusi dengan Oman soal rute pelayaran baru di Selat Hormuz. Sebab, rute sebelumnya sudah tidak berlaku lagi. Namun, hingga saat ini, belum ada keputusan final soal diskusi tersebut. Araghchi mengatakan, kebebasan berlayar di Selat Hormuz akan bergantung pada hasil diskusi dengan Oman.
2. Araghchi mendesak AS mematuhi syarat Iran jika Selat Hormuz ingin dibuka

potret Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi (tasnimnews.ir/Hamed Malekpour via commons.wikimedia.org/Hamed Malekpour) Dalam pernyataannya, Araghchi juga meminta AS untuk mematuhi semua syarat yang diberikan Iran jika Selat Hormuz ingin kembali dibuka. Sebab, Teheran sebelumnya sudah mengajukan enam syarat ke Washington agar selat tersebut bisa dibuka sehingga pelayaran kapal komersial kembali berjalan normal. Salah satunya adalah penghentian serangan dan ganti rugi kerusakan akibat perang. Namun, Negeri Paman Sam hingga saat ini belum mau menyetujui syarat tersebut.
“Rute yang sebelumnya ada sudah tidak berfungsi lagi dan rute baru harus ditentukan. Saat ini, kami sedang merancang rute sementara yang akan menjadi rute final pada tahap selanjutnya. Apakah lalu lintas di Selat Hormuz akan dilanjutkan atau tidak, itu semua bergantung pada pemenuhan persyaratan lain yang harus dipatuhi oleh Amerika Serikat,” lanjut Araghchi.
3. Iran dan AS saling klaim kekuasaan di Selat Hormuz

potret Selat Hormuz (commons.wikimedia.org/MODIS Land Rapid Response Team) Selama beberapa pekan terakhir, Iran dan AS masih saling mengklaim kekuasaan di Selat Hormuz. Di satu sisi, Teheran mengklaim Selat Hormuz kini masih ditutup dan masih berada di bawah kekuasaannya. Namun, di sisi lain, Washington mengklaim sudah 100 persen berkuasa atas selat tersebut. Dalam pernyataan terbarunya, Presiden AS, Donald Trump, bahkan mengatakan akan segera mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai wilayah teritorial AS.
Menurut Trump, pengumuman itu akan disampaikan usai AS resmi mengalahkan Iran. Trump menilai Washington sebentar lagi akan mengalahkan Teheran. Sebab, Presiden AS ke-45 dan ke-47 itu mengklaim Iran kini sudah tidak bisa lagi melanjutkan perlawanan terhadap AS. Sebab, kekuatan militer dan ekonomi mereka sudah hancur lebur akibat perang dengan Negeri Paman Sam sejak 28 Februari.



















