Sosiolog: Penjarahan Tak Mungkin oleh Mahasiswa-Buruh, Ada Aktor Lain

- Penjarahan rumah anggota DPR dan Menkeu Sri Mulyani terjadi setelah demo besar-besaran di Jakarta.
- Sosiolog Universitas Nasional (Unas) Prof. Sigit Rochadi menyatakan bahwa penjarahan tidak mungkin dilakukan oleh mahasiswa maupun buruh yang sebelumnya menyuarakan kekesalannya pada pemerintah.
- Gelombang demonstrasi memiliki dua lapisan, yaitu buruh yang menuntut kenaikan gaji dan penghapusan kebijakan outsourcing, serta mahasiswa yang fokus menyuarakan aspirasi tanpa praktik kekerasan.
Jakarta, IDN Times – Gelombang demonstrasi meluas di berbagai daerah belakangan ini. Bahkan penjarahan terjadi di rumah milik anggota DPR Ahmad Sahroni, Eko Patrio, Uya Kuya, dan Nafa Urbach. Bahkan rumah Menteri Keuangan Sri Mulyani juga ikut jadi sasaran penjarahan.
Sosiolog Universitas Nasional (Unas) Prof. Sigit Rochadi menjelaskan penjarahan tidak mungkin dilakukan oleh mahasiswa maupun buruh yang sebelumnya menyuarakan kekesalannya pada pemerintah.
"Jadi kalau itu terjadi ke penjarahan, kalau penjarahan tidak mungkin dilakukan oleh para mahasiswa. Itu pasti ada aktor lain," katanya kepada IDN Times, Minggu (31/8/2025).
Gerakan massa disebut memiliki dua lapisan. Lapisan pertama adalah buruh yang sejak awal menuntut kenaikan gaji sebesar 8,5 persen, penghapusan kebijakan outsourcing.
“Itu tuntutan buruh murni, dan itu tidak ada campur apa-apa,” ujarnya. Setelah aksi mereka selesai, kelompok buruh mundur dengan tertib.
Setelah itu, mahasiswa mengambil alih panggung dengan mendatangi DPR. Kehadiran mereka dikatakan tetap fokus menyuarakan aspirasi.
"Mahasiswa pun menyampaikan tuntutan juga secara murni dan secara polite, secara sopan. Jadi tidak ada berlaku anarkis. Artinya, baik buruh maupun mahasiswa keduanya, kata Sigit, menyalurkan aspirasi tanpa praktik kekerasan.
Namun situasi berbeda muncul setelah mahasiswa bubar. Dari sini, muncul indikasi ada pihak lain. Kelompok yang dimaksud disebut tidak beratribut, berbeda dengan buruh dan mahasiswa yang jelas mengenakan simbol-simbol organisasinya.
"Jadi pola, maksudnya apa? Mahasiswa tidak mungkin menjarah. Tidak ada penjaraan yang dilakukan mahasiswa. Buruh-buruh juga tidak mungkin menjarah. Karena buruh dalam demonstrasi mengenakan atribut mereka dan mudah ketahuan," kata dia.
Sebaliknya, pihak yang melakukan penjarahan justru sengaja disamarkan. "Yang menjarah adalah orang yang tidak mengenakan atribut, misalnya jaket almamater tidak ada, dia tidak membawa simbol-simbol bendera organisasi tidak ada, tapi dia mendatangi rumahnya Uya Kuya, rumahnya Eko dan semalam rumahnya Ibu Sri Mulyani, rumahnya Sahroni," ujarnya.
"Dan itu dilakukan oleh orang-orang yang diorganisasi memang dengan tujuan untuk menciptakan suasana chaos," ungkap Sigit.
Oleh karena itu, aksi penjarahan perlu dipisahkan dari demonstrasi buruh maupun mahasiswa. “Nah, ini harus dibedakan demonstrasi mahasiswa buruh dengan para penjarah ini. Para penjarah ini digerakkan oleh orang yang tujuannya itu memang untuk menciptakan chaos, menciptakan ketidakpercayaan kepada pemerintah," kata Sigit.
Aksi demo besar-besaran berujung ricuh terjadi di sejumlah titik di ibu kota, di antaranya kawasan Kramat Kwitang dan Pasar Senen, Jakarta Pusat, juga depan Gedung DPR. Massa memblokir akses jalan, membakar pos polisi, serta merusak rambu lalu lintas di sekitar simpang Pasar Senen, pada Jumat (29/8/2025). Tak hanya demo, juga terjadi penjarahan di sejumlah rumah anggota DPR dan Menkeu Sri Mulyani.
Demo besar-besaran ini dipicu oleh kemarahan warga setelah seorang driver ojol bernama Affan Kurniawan tewas dilindas mobil rantis polisi pada Kamis malam, 28 Agustus 2025. Pada Jumat pagi, jenazahnya telah dimakamkan di TPU Karet Bivak pukul 10.00 WIB.