Wamen BKKBN: Child Grooming Manipulasi Psikologis, Incar Anak-Remaja

- Pelaku biasanya manfaatkan kondisi psikologis anak yang masih berkembang
- Anak harus merasa nyaman untuk bercerita
- Perkuat kolaborasi lintas sektor dalam pencegahan dan penanganan kasus child grooming
Jakarta, IDN Times - Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Wakil Kepala BKKBN, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, menegaskan bahwa praktik child grooming merupakan bentuk manipulasi yang secara sistematis menyasar kerentanan anak dan remaja.
Hal tersebut disampaikan Isyana dalam keterangannya terkait meningkatnya kasus kekerasan dan eksploitasi anak, khususnya yang bermula dari interaksi di ruang digital. Menurutnya, pelaku grooming kerap membangun hubungan emosional secara bertahap untuk mendapatkan kepercayaan korban sebelum melakukan eksploitasi.
“Child grooming merupakan bentuk manipulasi yang menyasar kerentanan anak dan remaja,” ujar Isyana, Kamis (29/1/2026).
1. Pelaku biasanya manfaatkan kondisi psikologis anak yang masih berkembang

Dia menjelaskan, pelaku biasanya memanfaatkan kondisi psikologis anak yang masih berkembang, rasa ingin tahu, kebutuhan akan perhatian, serta minimnya literasi digital. Dalam banyak kasus, proses ini berlangsung secara perlahan dan sulit dikenali oleh korban maupun orang di sekitarnya.
Isyana menilai, perkembangan teknologi dan media sosial turut memperluas ruang terjadinya child grooming. Interaksi daring yang tidak terpantau dengan baik membuka peluang bagi pelaku untuk mendekati anak tanpa harus bertemu secara langsung.
2. Anak harus merasa nyaman untuk bercerita

Karena itu, dia menekankan pentingnya peran keluarga, sekolah, dan lingkungan dalam membangun sistem perlindungan yang kuat. Orang tua diminta lebih aktif mengawasi aktivitas digital anak, sekaligus menciptakan komunikasi yang terbuka dan aman.
Menurut Isyana, anak harus merasa nyaman untuk bercerita apabila mengalami situasi yang membuat mereka tidak nyaman, tanpa takut disalahkan atau dihakimi. Pendekatan yang represif justru berpotensi membuat korban memilih diam.
3. Perkuat kolaborasi lintas sektor dalam pencegahan dan penanganan kasus child grooming

Selain keluarga, dia juga dorong lembaga pendidikan untuk memperkuat edukasi mengenai keamanan digital, kesehatan mental, serta relasi yang sehat. Pemahaman ini dinilai penting agar anak mampu mengenali tanda-tanda manipulasi sejak dini.
Pemerintah, kata Isyana, terus berupaya memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam pencegahan dan penanganan kasus child grooming. Upaya tersebut melibatkan kementerian, aparat penegak hukum, lembaga perlindungan anak, serta penyedia platform digital.
4. Pencegahan harus dilakukan dengan berkelanjutan

Dia menegaskan, perlindungan anak bukan hanya tanggung jawab negara, tetapi juga seluruh elemen masyarakat. Pencegahan harus dilakukan secara berkelanjutan, tidak bersifat reaktif setelah kasus terjadi.
“Upaya perlindungan anak harus dimulai dari lingkungan terdekat, yaitu keluarga dan sekolah, serta diperkuat oleh kebijakan dan penegakan hukum,” kata Isyana.
Dengan langkah terpadu tersebut, pemerintah berharap risiko terjadinya child grooming dapat ditekan, sekaligus memastikan anak dan remaja tumbuh dalam lingkungan yang aman, sehat, dan bermartabat.


















