Afghanistan Luncurkan Program Ketahanan Pangan

- Krisis pangan Afghanistan memburuk akibat deportasi massal
- Program Rp1,6 triliun jangkau 1 juta orang untuk pulihkan pertanian pedesaan
- Inisiatif pangan Afghanistan tutup defisit produksi
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Afghanistan pada Kamis (29/1/2026), meluncurkan program ketahanan pangan senilai 100 juta dolar AS (Rp1,6 triliun), untuk mengatasi krisis kelaparan yang semakin parah di negara tersebut. Program berdurasi dua tahun ini didukung oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Bank Pembangunan Asia (ADB).
Inisiatif tersebut dirancang khusus untuk menanggulangi dampak deportasi massal warga Afghanistan dari negara-negara tetangga serta pemangkasan bantuan kemanusiaan asing yang semakin terbatas.
1. Krisis pangan Afghanistan memburuk akibat deportasi massal
Situasi kemanusiaan di Afghanistan memburuk secara signifikan, dengan jutaan penduduk terancam kelaparan akibat hilangnya remitansi, minimnya kesempatan kerja, serta pengurangan besar-besaran bantuan internasional. Lebih dari 2,5 juta warga Afghanistan telah dideportasi dari Iran dan Pakistan dalam setahun terakhir, yang meningkatkan populasi negara hingga 10 persen sekaligus memutus aliran pendapatan keluarga.
Kondisi musim dingin ekstrem ditambah kekeringan berkepanjangan semakin menyulitkan akses terhadap pekerjaan dan makanan bagi masyarakat. Badan Pangan Dunia (FAO) memproyeksikan bahwa 17,4 juta orang akan menghadapi ketidakamanan pangan akut pada 2026, termasuk 4,7 juta orang dalam fase darurat dengan tingkat malnutrisi tinggi.
Deportasi massal ini juga memberatkan Afghanistan yang sudah rentan akibat gempa bumi serta banjir baru-baru ini.
2. Program Rp1,6 triliun jangkau 1 juta orang untuk pulihkan pertanian pedesaan
Program ketahanan pangan senilai 100 juta dolar AS (Rp1,6 triliun) yang diluncurkan pemerintah Afghanistan akan menjangkau lebih dari 151 ribu rumah tangga atau sekitar 1 juta orang selama dua tahun ke depan. Sasaran utama mencakup pengungsi yang kembali dari Pakistan dan Iran, komunitas tuan rumah, serta keluarga terdampak gempa bumi dan banjir, dengan fokus memulihkan mata pencaharian pedesaan, melindungi ternak, serta membangun kembali sistem produksi pertanian yang terganggu.
Inisiatif ini menekankan pendekatan ramah iklim dan berorientasi pada kebutuhan manusia untuk meningkatkan produksi pertanian, ketahanan pangan, serta diversifikasi sumber penghidupan di wilayah pedesaan.
“Kemitraan kami dengan ADB menghasilkan dampak nyata dan terukur bagi keluarga petani di seluruh Afghanistan,” ujar Qu Dongyu, Direktur Jenderal FAO, dikutip NBC News.
Program tersebut melanjutkan kolaborasi FAO dan ADB sejak 2022, yang telah menjangkau 5,6 juta orang melalui dukungan pertanian senilai 265 juta dolar AS (Rp4,4 triliun). Paket bantuan seperti benih gandum bersertifikat FAO terbukti meningkatkan hasil panen hingga 27 persen, yang cukup untuk memberi makan dua orang tambahan per rumah tangga selama setahun.
3. Inisiatif pangan Afghanistan tutup defisit produksi
Inisiatif kolaborasi ini tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan mendesak di Afghanistan, tetapi juga menutup kesenjangan produksi pangan serta mendorong pemulihan sektor swasta. Dukungan untuk ternak berhasil meningkatkan kepemilikan hewan hingga 50 persen, memperbaiki nutrisi rumah tangga lewat konsumsi susu dan daging yang lebih baik, serta memprioritaskan perempuan di provinsi paling terdampak.
"Sejak awal, kolaborasi ini tidak hanya memenuhi kebutuhan keamanan pangan mendesak, tetapi juga menutup kesenjangan produksi pangan Afghanistan serta membuka ruang pemulihan sektor swasta," ujar Qu Dongyu, dilansir Devdiscourse.
Meski begitu, pemangkasan bantuan global sejak kembalinya Presiden AS, Donald Trump, telah mengurangi sumber daya organisasi seperti WFP, sementara negara donatur lain juga memangkas kontribusi.
Tanpa investasi berkelanjutan, jutaan warga Afghanistan berisiko semakin dalam terjerat ketidakamanan pangan akibat La Niña yang diprediksi membawa curah hujan di bawah rata-rata hingga awal 2026.


















