Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kasus Bunuh Diri Pelajar di Jepang Capai Rekor Tertinggi di 2025

Ilustrasi bendera Jepang. (unsplash.com/Roméo A.)
Ilustrasi bendera Jepang. (unsplash.com/Roméo A.)
Intinya sih...
  • Jumlah pelajar perempuan yang bunuh diri terus meningkat sejak 2020, melampaui jumlah pelajar laki-laki di semua kelompok usia.
  • Jepang berencana memperluas layanan konseling melalui media sosial untuk mengatasi masalah kesehatan mental termasuk depresi.
  • Korea Selatan (Korsel) juga sedang berjibaku dalam menurunkan angka bunuh diri di negaranya dengan strategi pencegahan bunuh diri nasional 2025.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang melaporkan jumlah anak-anak di negara tersebut yang meninggal karena bunuh diri mencapai rekor tertinggi pada tahun lalu. Laporan tersebut dirilis pada Kamis (29/1/2026), yang mendata kasus dari kalangan pelajar SD hingga SMA.

Laporan awal dari kementerian tersebut mengungkapkan bahwa 532 pelajar meninggal karena kasus bunuh diri pada 2025. Angka tersebut merupakan yang tertinggi sejak pencatatan dimulai pada 1980.

"Di antara mereka, 352 orang adalah pelajar SMA, 170 pelajar SMP, dan 10 pelajar SD," kata kementerian tersebut, dikutip dari NHK News.

1. Apa pemicu tingginya angka bunuh diri di Jepang?

Laporan pemerintah mengatakan bahwa jumlah pelajar perempuan yang bunuh diri terus meningkat sejak kasus melonjak pada 2020. Ini melampaui jumlah pelajar laki-laki di semua kelompok usia tahun lalu. Berdasarkan gender, perempuan menyumbang 277 kasus dan laki-laki 255 kasus.

Disebutkan, alasan utama untuk bunuh di kalangan orang yang berusia 19 tahun ke bawah adalah masalah yang berkaitan dengan sekolah. Kasus tersebut, meliputi nilai buruk dan ketidakmampuan untuk memutuskan masa depan mereka, hingga masalah kesehatan seperti depresi.

Kementerian mencatat, kasus bunuh diri di kalangan anak-anak tetap berada di atas 500 kasus setiap tahunnya sejak pandemik COVID-19, dikutip dari Kyodo News.

2. Apa langkah pemerintah Jepang?

Ilustrasi anak-anak. (pexels.com/Pragyan Bezbaruah)
Ilustrasi anak-anak. (pexels.com/Pragyan Bezbaruah)

Merespons masalah tersebut, Jepang berencana memperluas layanan konseling melalui media sosial. Kementerian mengatakan bahwa ketika kasus bunuh diri meningkat di kalangan pelajar di masa lalu, masalah kesehatan mental termasuk depresi juga cenderung meningkat. Pihaknya akan menganalisis data tersebut dan mengatasi masalah ini.

Di sisi lain, laporan baru-baru ini menyebutkan bahwa secara keseluruhan jumlah total kasus bunuh diri di Jepang turun ke angka terendah, yaitu 19.097 kasus, turun 1.223 kasus dari tahun sebelumnya. Angka tersebut berada di bawah 20 ribu untuk pertama kalinya sejak pencatatan dimulai pada 1978.

Secara keseluruhan, laki-laki menyumbang 13.117 kasus, turun 684, dan perempuan menyumbang 5.980 kasus, turun 539. Alasan utama yang disebutkan adalah masalah kesehatan, kesulitan ekonomi dan kehidupan sehari-hari, serta masalah keluarga.

3. Korsel juga mencatat kasus angka bunuh diri yang tinggi

Presiden Korea Selatan (Korsel) Lee Jae Myung. (x.com/대한민국 대통령실)
Presiden Korea Selatan (Korsel) Lee Jae Myung. (x.com/대한민국 대통령실)

Selain Jepang, Korea Selatan (Korsel) juga sedang berjibaku dalam menurunkan angka bunuh diri di negaranya. Korsel berencana untuk melepaskan statusnya sebagai negara dengan angka bunuh diri tertinggi di Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD).

Tahun lalu, Negeri Ginseng mengumumkan Strategi Pencegahan Bunuh Diri Nasional 2025, guna menurunkan angka bunuh diri nasional dari 28,3 kematian per 100 ribu orang, menjadi 17 pada 2034.

Presiden Korsel Lee Jae Myung menyatakan bahwa tingginya angka bunuh diri di negaranya sebagai bencana sosial. Ia juga menyerukan dibentuknya badan pemerintah untuk mengatasi pencegahan bunuh diri dan kebijakan kesehatan mental, dilansir Korea Herald.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us

Latest in News

See More

Longsor Cisarua, Kemenag Beri Bantuan Rp596 Juta untuk Madrasah-Guru

01 Feb 2026, 18:18 WIBNews