Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
AS Berencana Pakai 'Ibu dari Semua Bom' untuk Gempur Iran
potret bom Massive Ordnance Air Blast (MOAB) GBU-43/B yang dijuluki mother of all bombs (Fl295 at English Wikipedia, public domain, via Wikimedia Commons)
  • AS menyiapkan skenario serangan lanjutan ke Iran, termasuk kemungkinan memakai bom MOAB GBU-43/B, amunisi nonnuklir terbesar militernya yang belum pernah digunakan di wilayah Iran.
  • MOAB dirancang menghantam target permukaan luas, tetapi dinilai kurang efektif menembus fasilitas bawah tanah berlapis granit; penggunaannya berpotensi menjadi eskalasi konflik signifikan.
  • Trump menyatakan belum akan memerintahkan serangan sebelum pemilu paruh waktu, sementara Iran memperkuat pertahanan situs energi dan nuklir di tengah ketegangan regional.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Amerika Serikat (AS) menyiapkan opsi baru untuk serangan lanjutan ke Iran, termasuk kemungkinan penggunaan bom Massive Ordnance Air Blast (MOAB) GBU-43/B yang dijuluki mother of all bombs (ibu dari semua bom). Rencana tersebut dilaporkan oleh CNN pada Kamis (15/10/2026), dengan mengutip sejumlah pejabat AS. Amunisi tersebut merupakan bom nonnuklir terbesar milik militer AS yang belum pernah dipakai dalam serangan ke wilayah Iran sebelumnya.

Pihak Departemen Pertahanan AS mengonfirmasi adanya penyusunan skenario militer tersebut untuk merespons dinamika di lapangan.

"(Departemen Pertahanan) merencanakan berbagai skenario operasional untuk melaksanakan arahan tingkat Presiden dan Sekretaris serta untuk memastikan keberhasilan misi di lingkungan operasional apa pun,” kata seorang pejabat kepada CNBC, meski media tersebut mencatat belum mengonfirmasi laporan itu secara independen.

1. Efektivitas penggunaan senjata MOAB

potret bom Massive Ordnance Air Blast (MOAB) GBU-43/B yang dijuluki mother of all bombs (U.S. Air Force, public domain, via Wikimedia Commons)

Bom berbobot 21.600 pon itu merupakan amunisi ledakan udara berpemandu satelit yang dirancang untuk merusak target permukaan seluas sembilan blok kota. Senjata ini baru tercatat sekali dipakai dalam pertempuran di Nangarhar, Afghanistan, pada 2017 saat periode pemerintahan Presiden AS Donald Trump terdahulu.

Dilansir TRT World, pengerahan amunisi tersebut berpotensi menjadi eskalasi konflik yang signifikan meski diragukan mampu menembus fasilitas bawah tanah seperti di Pickaxe Mountain, Isfahan, yang ditengarai menyimpan komponen program nuklir. Sebuah sumber yang mengetahui perencanaan militer menilai bom itu lebih berfungsi sebagai operasi informasi untuk pembersihan area terbuka, sehingga tidak cocok untuk menghancurkan target yang dilindungi lapisan granit tebal.

2. Dinamika politik dan arah kebijakan pemimpin

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (The White House from Washington, DC, public domain, via Wikimedia Commons)

Trump menyatakan tidak akan memerintahkan serangan militer lanjutan sebelum pelaksanaan pemilihan paruh waktu pada 3 November 2026. Gedung Putih kini menghadapi tekanan untuk menunjukkan kemajuan situasi di Timur Tengah di tengah lonjakan harga energi, sementara fokus utama kampanye tetap berupaya mencegah Teheran mendapatkan senjata nuklir.

Di sisi lain, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan bahwa pihaknya harus mengombinasikan kekuatan militer, pengaruh regional, dan negosiasi guna menekan AS agar mencabut sanksi, pemblokiran, serta menarik pasukannya. Menurut laporan media yang berafiliasi dengan pemerintah Iran, Ghalibaf menyebut langkah tersebut bertujuan mencegah musuh mencapai tujuannya melalui serangan militer tanpa harus terjebak dalam perang tanpa akhir.

3. Langkah pertahanan Iran di tengah ketegangan

ilustrasi perang AS-Israel melawan Iran (unsplash.com/Saifee Art)

Teheran dilaporkan mulai memperkuat sistem pertahanan di sekitar situs energi serta fasilitas nuklir sensitif milik mereka untuk mengantisipasi potensi gempuran susulan. Laporan dari The Wall Street Journal menyebutkan bahwa langkah antisipasi ini diambil menyusul insiden tenggelamnya kapal peti kemas di Selat Hormuz.

Eskalasi ketegangan regional tersebut juga dipicu oleh serangan fatal ke Arab Saudi yang dilancarkan oleh kelompok Houthi dengan dukungan Iran. Kondisi ini membuat situasi keamanan di kawasan Timur Tengah semakin siaga tinggi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article