El Salvador Akan Bebaskan 50 Persen Napi Kolaborator Geng Kriminal

- Presiden Nayib Bukele berencana membebaskan bersyarat sekitar 50 persen narapidana yang diduga berkolaborasi dengan geng kriminal, dengan tetap berada dalam pengawasan.
- Bukele melanjutkan keadaan darurat meski ingin mengakhirinya, dengan alasan kebijakan tersebut menekan pembunuhan, serangan, perampokan, dan pemerkosaan.
- Dalam pembicaraan dengan Menlu AS Marco Rubio, Bukele diminta mengamankan pelabuhan dan infrastruktur penting; El Salvador juga bergabung dengan aliansi keamanan Shield of the Americas.
Jakarta, IDN Times - Presiden El Salvador, Nayib Bukele, pada Rabu (14/10/2026), mengungkapkan rencana membebaskan ribuan narapidana karena dugaan berkolaborasi dengan geng kriminal. Mereka akan dibebaskan dengan syarat tertentu.
Beberapa tahun terakhir, El Salvador sudah menangkap ribuan orang yang diduga anggota geng kriminal. Langkah ini diklaim berhasil mengatasi masalah keamanan di El Salvador, meski dikritik karena maraknya kasus pelanggaran hak asasi manusia (HAM).
1. Banyak warga yang jadi kolaborator geng kriminal

Presiden El Salvador, Nayib Bukele. (Casa Presidencial El Salvador, CC0, via Wikimedia Commons) Bukele menyebut bahwa kebijakan ini akan menguntungkan sekitar 50 narapidana di El Salvador. Pembebasan bersyarat ini akan diberikan kepada orang yang kemungkinan bersalah karena menjadi kolaborator geng kriminal dan akan berada dalam pantauan.
Ia menekankan bahwa kolaborator geng kriminal memang layak dihukum. Namun, menurutnya, El Salvador sudah menjadi negara di mana kolaborasi dengan geng kriminal adalah sesuatu yang biasa, sehingga akan banyak orang yang harus ditangkap.
“Kolaborator geng kriminal memang layak berada di penjara. Namun, jika itu dilakukan maka kami harus menangkap 20 persen dari penduduk El Salvador,” terangnya, dikutip dari Democrata.
2. Bukele lanjutkan keadaan darurat di El Salvador

ilustrasi bendera El Salvador (unsplash.com/aboodi_vm) Pada saat yang sama, Bukele juga mengungkapkan kelanjutan keadaan darurat di El Salvador. Menurutnya, keadaan darurat masih harus diterapkan, meski ia mengaku ingin menghapusnya.
“Kami ingin menghapus keadaan darurat. Kami akan melakukannya. Namun, kebijakan ini seperti kemoterapi untuk pasien kanker. Saya menganalogikan ini dengan geng kriminal,” terangnya.
Ia berpendapat bahwa keadaan darurat telah sukses membawa negaranya menjadi aman. Ia menekankan, berkurangnya kasus pembunuhan, serangan, perampokan, dan pemerkosaan di El Salvador dalam beberapa tahun terakhir.
3. Rubio minta Bukele amankan pelabuhan El Salvador

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio. (Matt Johnson from Omaha, Nebraska, United States, CC BY 2.0 , via Wikimedia Commons) Sebelumnya, Bukele sudah berbicara dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Marco Rubio. Keduanya membicarakan soal penguatan kerja sama antara AS dan El Salvador di berbagai bidang.
Dilansir CNN, Rubio mendesak Bukele untuk menjaga infrastruktur penting dan pelabuhan El Salvador agar aman. Menurut Rubio, terdapat ancaman kebebasan dan pengaruh jahat yang bisa berdampak pada pelabuhan di El Salvador.
Selama ini, Bukele dikenal sebagai sekutu dekat Presiden AS, Donald Trump. El Salvador juga setuju bergabung dengan aliansi keamanan di Benua Amerika, Shield of the Americas yang dibentuk oleh Trump.






















