Dosis Vaksin Dipotong Trump, Jutaan Anak AS Terancam Penyakit Menular

- Kebijakan pemotongan jumlah dosis vaksin untuk anak-anak dilakukan lewat lembaga CDC.
- Kebijakan pemotongan jumlah vaksin harus melewati kajian mendalam terlebih dahulu.
- Menkes AS mendukung kebijakan pemotongan dosis vaksin untuk anak-anak.
Jakarta, IDN Times - Asosiasi Medis Amerika Serikat (AMA) menyebut jutaan anak di AS kini terancam penyakit menular. Hal ini karena kebijakan pemotongan jumlah dosis vaksin untuk anak-anak yang diterapkan oleh Presiden Donald Trump.
Salah satu dewan pengurus AMA, Sandra Adamson Fryhofer, mengecam kebijakan tersebut. Ia mengatakan kebijakan pemotongan jumlah vaksin bisa berdampak buruk terhadap kesehatan anak-anak di AS. Sebab, mereka bisa rentan terkena penyakit menular jika tak diberi vaksin yang cukup.
"Kami sangat prihatin dengan perubahan terbaru pada jadwal imunisasi yang memengaruhi kesehatan dan keselamatan jutaan anak. Kebijakan vaksinasi telah lama dipandu oleh proses ilmiah yang ketat dan transparan yang didasarkan pada bukti selama beberapa dekade yang menunjukkan bahwa vaksin aman, efektif, dan menyelamatkan jiwa," ujar Fryhofer dalam pernyataannya yang dirilis pada Senin (5/1/2026) dilansir Al Jazeera.
1. Kebijakan pemotongan jumlah dosis vaksin untuk anak-anak dilakukan lewat lembaga CDC

Keputusan ini dilakukan Donald Trump melalui Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat pada Senin sore kemarin. Saat itu, mereka memutuskan mengurangi jumlah dosis vaksin untuk anak-anak dari yang semula 17 menjadi 11 suntikan. Kebijakan ini membuat kaget banyak pihak karena baru pertama kali diterapkan di AS.
Selain itu, CDC juga menghapus beberapa jenis vaksin penting untuk anak-anak di AS. Beberapa di antaranya, seperti vaksin rotavirus, influenza, penyakit meningitis, dan hepatitis A. Padahal, menurut para ahli, semua vaksin tersebut sangat penting. Jika tak diberikan, penyakit menular akan mudah menyerang anak-anak kapan pun dan di mana pun.
“Keputusan ini akan membahayakan dan membunuh anak-anak di AS, seperti semua keputusan anti-vaksinasi yang lain. Sebab, virus dan bakteri yang sebelumnya terkendali kini bisa dilepaskan kepada kelompok yang paling rentan,” kata seorang ahli virologi sekaligus anggota komite koordinasi Defend Public Health, James Alwine, dilansir The Guardian.
2. Kebijakan pemotongan jumlah vaksin harus melewati kajian mendalam terlebih dahulu

Lebih lanjut, AMA menilai kebijakan pemotongan jumlah vaksin ini sangat krusial karena menyangkut kesehatan banyak anak di Amerika Serikat. Oleh karena itu, Pemerintah AS seharusnya melakukan kajian mendalam terlebih dahulu bersama para ahli sebelum mengambil keputusan.
“Perubahan sebesar ini memerlukan peninjauan yang cermat, masukan dari para ahli dan publik, serta justifikasi ilmiah yang jelas. Sayangnya, tingkat ketelitian dan transparansi tersebut tak menjadi bagian dari keputusan ini,” tambah Sandra Adamson Fryhofer dilansir Al Jazeera.
“Ketika rekomendasi yang telah lama ada diubah tanpa proses yang kuat dan berbasis bukti, hal itu akan merusak kepercayaan publik. Ini juga akan menempatkan anak-anak di AS pada risiko yang tidak perlu terhadap penyakit yang dapat dicegah,” lanjutnya.
3. Menkes AS mendukung kebijakan pemotongan dosis vaksin untuk anak-anak

Menteri Kesehatan Amerika Serikat, Robert F. Kennedy Jr., rupanya mendukung kebijakan pemotongan dosis vaksin untuk anak-anak. Sebab, ia menilai vaksin hanya akal-akalan perusahaan obat-obatan untuk mendapatkan keuntungan.
Kennedy yang juga merupakan aktivis anti-vaksin sebetulnya sudah beberapa kali membuat kebijakan soal produksi vaksin di AS. Pada Mei 2025 lalu, misalnya, Kennedy mengumumkan pihaknya tak akan lagi merekomendasikan vaksin COVID-19 untuk anak-anak sehat dan wanita hamil.
Kemudian, pada Agustus 2025, Kennedy juga mengumumkan bahwa AS akan memangkas anggaran untuk pengembangan vaksin mRNA. Hal ini ia lakukan untuk menghemat anggaran pemerintah.
Kebijakan yang dibuat Kennedy soal vaksin ini sebetulnya sudah mendapat kecaman dari banyak ahli dan pengamat kesehatan. Sebab, mereka menilai langkah tersebut sangat berbahaya terhadap kesehatan warga AS ke depan.
Namun, Kennedy tak bergeming. Ia tetap melakukan kebijakan-kebijakan antivaksin karena didukung oleh Donald Trump.



















