Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Efek Serangan Israel, Ibu Hamil di Gaza Palestina Sering Keguguran
ilustrasi ibu hamil (unsplash.com/Devon Divine)

Jakarta, IDN Times - Jalur Gaza, Palestina, kini sedang mengalami darurat keguguran. Sebab, angka keguguran kandungan yang dialami ibu hamil di sana semakin meningkat. Seorang pegawai kesehatan Palestina mengatakan, sejauh ini, sudah ada hampir 4.000 angka keguguran yang terjadi di Gaza. Angka kini kemungkinan akan terus bertambah seiring waktu. 

"Peningkatan angka keguguran ini belum pernah terjadi sebelumnya. Memburuknya kondisi kemanusiaan telah membuat perempuan hamil berada pada risiko yang lebih tinggi," kata Bassam Zaqout, Direktur Bantuan Medis di Gaza, dalam pernyataan pers pada Kamis (23/7/2026), seperti dilansir The New Arab.  

1. Serangan Israel jadi sebab peningkatan angka keguguran di Gaza

Sejumlah bangunan di Jalur Gaza hancur lebur akibat serangan Israel. (unsplash.com/Mohammed Ibrahim)

Zaqout mengatakan, peningkatan angka keguguran ini disebabkan oleh serangan Israel yang hingga kini masih berlangsung. Serangan ini membuat banyak ibu hamil di Gaza mengalami stres dan kekurangan gizi sehingga akhirnya mengalami keguguran. Padahal, ibu hamil seharusnya jauh dari ancaman bahaya dan selalu terpenuhi gizinya agar kandungannya bisa tetap sehat.

Selain itu, krisis kesehatan juga menjadi salah satu penyebab peningkatan angka keguguran di Gaza. Ini karena serangan Israel telah menghancurkan sebagian besar fasilitas sanitasi di wilayah tersebut. Oleh karena itu, semua ibu hamil yang tinggal di Gaza menjadi sangat rentan terpapar penyakit berbahaya bagi kandungannya. "Krisis kesehatan (di Gaza) terus memburuk," lanjut Zaqout.

2. Israel kerap mengganggu pasokan medis ke Gaza

ilustrasi pasokan medis (unsplash.com/Arpad Czapp)

Menurut seorang dokter kandungan yang bertugas di Gaza, Mohammed Subaih, peristiwa keguguran di wilayah tersebut kian diperparah oleh hambatan pasokan medis. Sebab, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) kerap menyerang konvoi bantuan kemanusiaan yang mengirim pasokan medis ke Gaza. Akibatnya, banyak rumah sakit di Gaza yang kekurangan peralatan dan obat-obatan untuk memfasilitasi perawatan ibu hamil. 

"Sebelum perang, ibu hamil (di Gaza) menerima perawatan prenatal rutin sejak minggu-minggu awal kehamilannya. Mereka menjalani tes laboratorium, pemeriksaan USG, pemantauan pertumbuhan janin, tekanan darah, kadar gula darah dan hemoglobin, serta menerima vitamin dan suplemen nutrisi. Namun, saat ini, banyak ibu hamil yang bahkan tidak dapat mengakses tes paling dasar sekalipun. Beberapa dari mereka justru baru menemui dokter setelah mengalami pendarahan, nyeri hebat, atau ketika persalinan dimulai," jelas Subaih.

3. Israel masih menyerang Gaza hingga saat ini

Sejumlah bangunan di Jalur Gaza hancur akibat serangan Pasukan Pertahanan Israel (IDF). (unsplash.com/Emad El Byed)

Hingga saat ini, Israel masih terus menyerang Gaza. Serangan terbaru terjadi pada Selasa (21/7/2026) lalu. Dilansir Al Jazeera, serangan tersebut menewaskan sebuah keluarganya yang berjumlah enam orang, yakni suami, istri, dan keempat anak mereka. Mereka tewas usai diserang IDF saat sedang tertidur pulas di kediamannya.

Gempuran Israel di Gaza yang tidak kunjung berhenti membuat hamil menjadi hal paling menakutkan sekaligus penuh perjuangan. Sebab, alih-alih hidup tenang sambil menunggu kelahiran buah hatinya, semua ibu hamil yang tinggal di Gaza malah diserang kecemasan, ketakutan, penyakit berbaya, hingga malnutrisi akut akibat serangan Israel. Hal ini membuat kandungan mereka menjadi tidak sehat sehingga akhirnya gagal berkembang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article