Israel Kuasai Lagi Kastel Beaufort di Lebanon Setelah 26 Tahun

- Militer Israel merebut kembali Kastel Beaufort di Lebanon selatan, menandai invasi darat terdalam sejak beberapa dekade dan memicu kecaman dari negara-negara Eropa serta tuduhan kebijakan bumi hangus oleh Lebanon.
- Pemerintah Israel menyebut penguasaan Beaufort penting untuk keamanan perbatasan utara, sementara pengamat Lebanon menilai posisi pasukan Israel di bukit tersebut rentan secara logistik.
- Hizbullah membantah memiliki pasukan di Beaufort sebelum serangan, lalu melancarkan serangan drone balasan yang menewaskan satu tentara Israel di tengah konflik yang telah menewaskan ribuan warga Lebanon.
Jakarta, IDN Times - Militer Israel mengumumkan telah merebut Kastel Beaufort di Lebanon selatan pada Minggu (31/5/2026). Penaklukan benteng bersejarah ini menandai perluasan invasi darat terdalam yang dilakukan Israel dalam beberapa dekade terakhir.
Langkah ini memicu kecaman dari negara-negara Eropa seperti Inggris, Prancis, dan Jerman. Di sisi lain, pemerintah Lebanon menuduh militer Israel sedang menerapkan kebijakan bumi hangus dan hukuman kolektif terhadap warga sipil.
1. Sejarah dan nilai strategis Kastel Beaufort

Kastel Beaufort atau Qalaat al-Shaqif merupakan benteng kuno berusia 900 tahun yang dibangun oleh tentara Perang Salib. Nama benteng ini diambil dari bahasa Prancis Kuno yang memiliki arti kastel yang indah.
Berdasarkan letak geografis, kastel bersejarah ini berdiri kokoh di atas bukit batu dengan ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut. Letaknya yang berada di dekat kota Nabatieh membuat siapa pun yang menguasainya bisa memantau pergerakan di wilayah Lebanon selatan hingga Israel utara.
Situs ini memiliki rekam jejak panjang dalam sejarah konflik karena pernah dikuasai Israel sejak invasi tahun 1982. Pasukan Israel baru menarik diri dari sana pada tahun 2000 setelah menghadapi perlawanan dari kelompok Hizbullah.
Kini militer Israel kembali menduduki bukit tersebut untuk membongkar infrastruktur pertahanan lawan. Pasukan dari Brigade Golani bahkan telah mengibarkan bendera nasional mereka di puncak tertinggi kastel.
2. Pejabat Israel sambut penaklukan Beaufort

Pejabat Israel menyambut keberhasilan operasi militer di benteng peninggalan Perang Salib tersebut. Mereka menilai penguasaan bukit tinggi ini sangat penting untuk menjamin keamanan warga di perbatasan utara.
"Penaklukan Beaufort merupakan sebuah langkah dramatis. Pasukan Israel akan memperdalam dan memperluas kontrol wilayah di Lebanon," ujar PM Benjamin Netanyahu, dilansir The New York Times.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menyatakan bahwa pasukannya akan mempertahankan posisi di kastel tersebut.
"Prajurit heroik kami telah merebut kembali Beaufort dan akan tetap berada di sana sebagai bagian dari zona keamanan di Lebanon. Bendera Israel kini berkibar kembali di puncak yang menghadap ke komunitas Galilea," kata Katz, dilansir Al Jazeera.
Di sisi lain, pengamat militer Lebanon, Bassam Yassin, meragukan signifikansi pendudukan Beaufort. Keberadaan tentara Israel di atas bukit batu itu dinilai akan sangat rapuh karena lini pasokan logistik mereka rentan diserang.
3. Hizbullah sebut pasukannya tidak menjaga Beaufort

Kelompok Hizbullah membantah narasi kemenangan yang disebarkan oleh pihak militer Israel. Mereka menegaskan tidak ada satu pun personel kelompoknya yang berjaga di dalam kastel tersebut sebelum penyerangan terjadi.
"Penaklukan kastel ini menunjukkan bahwa Lebanon tidak mendapatkan apa pun dalam negosiasi. Gambar bendera Israel di sana seharusnya mengobarkan semangat rakyat untuk menentang invasi," tutur pejabat Hizbullah Hassan Fadlallah, dilansir The New York Times.
Tak lama setelah pengibaran bendera, sebuah drone peledak milik Hizbullah langsung menghantam pasukan Israel di dekat benteng. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan seorang prajurit dan melukai tiga tentara lainnya.
Konflik bersenjata yang kembali pecah sejak Maret 2026 telah merenggut lebih dari 3 ribu nyawa warga Lebanon. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat adanya gelombang pengungsian besar-besaran yang terus terjadi seiring hancurnya desa-desa di wilayah perbatasan.


















