Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Harga Solar Tembus Rp48 Ribu, Nelayan Prancis Blokir Pelabuhan
ilustrasi kapal nelayan (pexels.com/PHILIPPE SERRAND)
  • Harga solar Prancis mencapai 2,37 euro per liter, memicu nelayan memblokir pelabuhan Sète dan Nice serta depot minyak karena beban operasional dan regulasi.
  • Pemblokiran mengganggu Corsica Ferries, membatalkan sejumlah pelayaran dan mengalihkan rute penumpang; nelayan juga menyoroti kuota tuna, aturan belut, serta subsidi pemerintah yang belum cair.
  • Pemerintah menaikkan subsidi dan menawarkan pinjaman tanpa bunga setelah dialog enam jam; nelayan membuka akses pelabuhan, namun tetap menuntut pembekuan harga BBM di tingkat pengecer.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Aksi protes nelayan di pesisir Mediterania, Prancis, melumpuhkan akses menuju pelabuhan Sète dan Nice serta depot minyak di Frontignan. Penutupan akses ini terjadi akibat kenaikan harga bahan bakar dan semakin beratnya tekanan regulasi. Langkah tersebut diambil saat harga solar paling populer di negara itu menyentuh 2,37 euro per liter (setara Rp48,2 ribu) pada Kamis (17/9/2026), mendekati rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) tersebut langsung memicu keresahan mendalam di kalangan pelaku industri perikanan setempat. Para nelayan merasa beban operasional yang harus mereka tanggung sudah melampaui batas kemampuan harian.

“Kami benar-benar sudah cukup. Harga solar, peraturan Eropa — semuanya sudah terlalu berlebihan,” ujar Tony Dalmasso, nelayan yang ikut dalam aksi di Nice kepada AFP, dikutip France24.

1. Nelayan Prancis mengganggu operasional pelayaran

ilustrasi kapal nelayan (pexels.com/PHILIPPE SERRAND)

Publikasi Maritime Executive melaporkan bahwa aksi pemblokiran dari Sète hingga Nice telah mengganggu operasional Corsica Ferries. Pelayaran malam dari L’Île-Rousse pada Selasa (15/9/2026) dan Rabu (16/9/2026) terpaksa dibatalkan. Sementara itu, rute perjalanan penumpang terpaksa dialihkan melalui pelabuhan alternatif di Toulon dan Nice.

Para demonstran juga memblokir pintu masuk depot minyak di Fos-sur-Mer dekat Sète dengan membakar ban dan memasang spanduk protes. Selain persoalan harga BBM, nelayan tertekan oleh pembatasan kuota penangkapan tuna sirip biru dan aturan baru penangkapan belut. Peserta aksi di depot Frontignan, Pierre Palumbo, menegaskan bahwa lonjakan harga solar menjadi beban terakhir di tengah tumpukan aturan tersebut.

Wali Kota Nice, Eric Ciotti, menyamakan posisi nelayan saat ini seperti spesies terancam punah di Mediterania. Ia menyoroti janji subsidi 35 sen per liter (setara Rp7,1 ribu) dari pemerintah yang tak kunjung dicairkan. Menurutnya, pengumuman janji saja tidak cukup karena bantuan finansial tersebut harus segera diterima oleh pihak yang membutuhkan.

2. Pemerintah Prancis menaikkan subsidi bahan bakar

ilustrasi kapal nelayan (pexels.com/Jan van der Wolf)

Lonjakan harga BBM di Prancis dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah dunia sebesar 20 persen akibat ketegangan Amerika Serikat (AS) dan Iran. Selain itu, penutupan jalur pipa utama Arab Saudi akibat konflik dengan pejuang Houthi di Yaman turut memperparah pasokan. Pemerintah Prancis menyalahkan konflik AS-Iran sebagai pemicu utama, sementara Perdana Menteri Sébastien Lecornu menaikkan subsidi BBM sektor perikanan hingga batas maksimal Uni Eropa (UE).

Meski demikian, langkah kebijakan pemerintah tersebut belum berhasil meredakan kemarahan para nelayan. Pemerintah kemudian melanjutkan penanganan melalui dialog selama lebih dari enam jam antara Menteri Laut dan Perikanan, Catherine Chabaud, dengan perwakilan nelayan.

Dalam pertemuan itu, Chabaud menawarkan skema pinjaman tanpa bunga bagi nelayan yang mengalami krisis keuangan. Pembicaraan tersebut dinilai berlangsung konstruktif hingga demonstran sepakat membuka kembali akses pelabuhan. Langkah kompromi ini diambil setelah nelayan sempat mengancam akan memperluas aksi protes ke sektor industri lainnya.

3. Nelayan Prancis menuntut pembekuan harga BBM

ilustrasi SPBU (pexels.com/Mustafa Kurt)

Dalam dialog bersama otoritas setempat di Paris, para nelayan memusatkan tuntutan pada penghentian kenaikan harga BBM di tingkat pengecer.

Ange Natoli, nelayan asal kota Martigues dekat Marseille, menyampaikan kepada AFP bahwa permintaan utama mereka kepada menteri adalah pembekuan harga di pompa bensin. Pada saat bersamaan, antrean panjang kendaraan terjadi di SPBU TotalEnergies setelah perusahaan membatasi harga solar maksimal 1,99 euro per liter (setara Rp40 ribu).

Tekanan harga BBM ini kembali mengingatkan publik pada gejolak sosial protes Rompi Kuning yang melanda Prancis pada 2018 lalu. Berdasarkan data analisis AFP, harga solar di Prancis saat ini telah menembus 10 hingga 12 dolar AS per galon (setara Rp177 ribu hingga Rp213 ribu). Tingginya lonjakan harga ini dinilai para nelayan sebagai ancaman langsung terhadap keberlangsungan hidup dan mata pencaharian mereka.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article