Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Indonesia Bawa Kisah Tsunami Aceh ke Sydney Festival 2026

Indonesia Bawa Kisah Tsunami Aceh ke Sydney Festival 2026
Indonesia berpartisipasi dalam Sydney Festival 2026. (KJRI Sydney)
Intinya sih...
  • Pertunjukan Sisa-Sisa mendapat respons positif dari penonton lintas budaya di Australia, menampilkan narasi personal yang kuat dan hangat.
  • Audiens internasional seperti Wiwid Howat dan Carol menyampaikan apresiasi atas pertunjukan yang kuat dan menyentuh secara emosional.
  • KJRI Sydney memberikan dukungan terhadap partisipasi Indonesia dalam Sydney Festival 2026, mengapresiasi keterlibatan seniman Indonesia dalam festival tersebut.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Indonesia turut berpartisipasi dalam penyelenggaraan Sydney Festival 2026, melalui pertunjukan tari kontemporer Sisa-Sisa karya dua seniman berdarah Indonesia, Murtala dan Alfira O’Sullivan.

Partisipasi tersebut bertepatan dengan 50 tahun penyelenggaraan Sydney Festival sebagai salah satu festival seni paling bergengsi di Australia. Sisa-Sisa menampilkan dua karya solo yang berangkat dari pengalaman personal dan ingatan kolektif.

Karya Gelumbang Raya mengulas pengalaman Murtala saat menjadi relawan pascatsunami Aceh 2004. Pengalaman tersebut diterjemahkan ke dalam koreografi yang merekam duka dan trauma pascabencana.

Sementara, Jejak & Bisik karya Alfira O’Sullivan mengangkat isu tubuh perempuan, termasuk fertilitas, perimenopause, keibuan, dan penuaan, sebagai bagian dari siklus kehidupan dan identitas. Pertunjukan didukung musik orisinal karya Gondrong Gunarto, yang mengiringi keseluruhan pementasan.

1. Penonton merespons pertunjukan dengan antusiasme

Indonesia Bawa Kisah Tsunami Aceh ke Sydney Festival 2026
Indonesia berpartisipasi dalam Sydney Festival 2026. (KJRI Sydney)

Sisa-Sisa menyajikan narasi personal yang disampaikan kepada penonton lintas budaya di Australia. Pendekatan tersebut mendapat respons baik dari sejumlah penonton yang hadir.

Salah satu penonton, Wiwid Howat, 35 tahun, menilai pertunjukan tersebut terasa kuat, karena bersumber dari pengalaman nyata. Dia menyebut karya tersebut mampu menghadirkan nuansa hangat di tengah tema yang diangkat serta memperlihatkan budaya kontemporer Indonesia kepada audiens Australia.

"Vibe kehangatan terasa di sela-sela penampilan, dan karya ini dengan indah membawa budaya kontemporer Indonesia ke hadapan audiens di Australia," ujar Howat.

2. Audiens internasional menyampaikan apresiasi

Indonesia Bawa Kisah Tsunami Aceh ke Sydney Festival 2026
Indonesia berpartisipasi dalam Sydney Festival 2026. (KJRI Sydney)

Tanggapan juga disampaikan Carol, penonton yang tinggal di Australia. Dia menggambarkan Sisa-Sisa sebagai pertunjukan yang kuat dan menyentuh secara emosional.

“Pertunjukan ini sangat kuat dan menyentuh. Perpaduan musik dan ritmenya terasa menenangkan,” tuturnya.

Perempuan 41 tahun itu juga mengapresiasi ekspresi budaya Indonesia yang tercermin melalui seni pertunjukan. Sisa-Sisa menjadi pengalaman pertamanya menyaksikan seni kontemporer Indonesia.

3. KJRI Sydney dukung partisipasi Indonesia

Indonesia Bawa Kisah Tsunami Aceh ke Sydney Festival 2026
Indonesia berpartisipasi dalam Sydney Festival 2026. (KJRI Sydney)

Partisipasi Sisa-Sisa dalam Sydney Festival 2026 mendapat dukungan dari KJRI Sydney. Konsul Jenderal Republik Indonesia di Sydney, Pendekar Muda Leonard Sondakh mengapresiasi keterlibatan seniman Indonesia dalam festival tersebut.

“Sisa-Sisa merupakan karya yang membanggakan, yang menunjukkan bagaimana seniman Indonesia mampu menghadirkan pengalaman personal dan memori kolektif menjadi bahasa seni yang kuat dan relevan bagi audiens global,” ungkapnya.

Sondakh menilai karya tersebut menunjukkan kemampuan seniman Indonesia dalam mengolah pengalaman personal dan memori kolektif menjadi karya seni yang dapat diterima audiens internasional.

"Inilah bentuk diplomasi budaya yang hidup, humanis, dan menjembatani dialog antarbangsa," tuturnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Rochmanudin Wijaya
EditorRochmanudin Wijaya
Follow Us

Latest in News

See More

Kelompok HAM Sebut 104 Tahanan Politik di Venezuela Telah Dibebaskan

27 Jan 2026, 10:09 WIBNews