Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Insinyur OpenAI Ditangkap FBI Terkait Dugaan Pemasangan Alat Sadap
OpenAI (unsplash.com/Andrew Neel)
  • FBI menangkap insinyur OpenAI Abdulrahman Alfozan atas dugaan menyembunyikan perekam nirkabel di ruang rapat pimpinan San Francisco untuk menyadap percakapan sensitif.
  • Alfozan diduga memetakan pertemuan rahasia lewat akses internal; OpenAI mengidentifikasinya melalui pemeriksaan data, memberhentikannya, dan menyerahkan bukti kepada aparat federal.
  • OpenAI menyatakan belum ada indikasi akses atau kebocoran model AI, kode, maupun data pelanggan; kasus ini menyoroti risiko spionase fisik terhadap riset teknologi strategis.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Aparat penegak hukum Amerika Serikat mengumumkan penangkapan seorang insinyur OpenAI asal Arab Saudi, Abdulrahman Alfozan, pada Selasa (13/10/2026). Tersangka didakwa memasang alat perekam tersembunyi untuk menyadap pembicaraan rahasia jajaran pimpinan perusahaan teknologi.

Departemen Kehakiman Amerika Serikat menilai kasus ini sebagai peringatan nyata terkait kerentanan keamanan fisik di tengah ketatnya riset kecerdasan buatan dunia. Tindakan hukum ini diambil guna memastikan inovasi komputasi strategis tidak disusupi pihak luar untuk kepentingan ekonomi maupun intelijen.

1. Penemuan alat perekam di ruang rapat eksekutif

potret logo OpenAI (unsplash.com/Levart_Photographer)

Petugas keamanan menemukan sebuah perekam nirkabel yang terbungkus tisu toilet di balik layar televisi ruang rapat pimpinan di San Francisco. Perangkat yang memanfaatkan daya listrik kabel USB tersebut diketahui telah aktif merekam percakapan sejak akhir September 2026.

Rekaman kamera pengawas memperlihatkan tersangka berulang kali memasuki ruangan terbatas tersebut hingga akhirnya ditangkap saat membawa alat perekam cadangan. Alfozan ditahan sejak 9 Oktober 2026 dan diajukan ke Pengadilan Distrik California Utara dengan ancaman hukuman lima tahun penjara serta denda sebesar 250.000 dolar AS (Rp4,48 miliar).

"Berdasarkan berkas dakwaan yang diumumkan, Abdulrahman Alfozan diduga menyembunyikan alat perekam di dalam ruang rapat pimpinan perusahaannya untuk menyadap percakapan sensitif seputar teknologi kecerdasan buatan canggih," ujar Direktur FBI Kash Patel, dilansir CBS News.

2. Pengungkapan bukti digital yang menjerat pelaku

ilustrasi logo OpenAI, AI, perusahaan teknologi, ChatGPT (unsplash.com/Mariia Berezovsky)

Pria berusia 35 tahun ini diketahui memimpin tim teknis platform data di OpenAI sejak Juli 2025. Hasil pemeriksaan internal menunjukkan bahwa pelaku menyalahgunakan akses pencarian internal kantor untuk memetakan lokasi pertemuan rahasia para pimpinan sebelum beraksi.

Tim teknis perusahaan kemudian memanfaatkan sistem kecerdasan buatan untuk memeriksa data digital hingga berhasil memastikan identitas pelaku. Selain itu, penyelidik menemukan riwayat percakapan istri tersangka mengenai panduan merakit perekam dan nomor identitas perangkat tersebut. Pihak OpenAI segera memberhentikan tersangka dan menyerahkan seluruh bukti ke aparat federal.

"Saat ini, kami tidak menemukan indikasi bahwa pelaku sempat mengakses atau membocorkan data model kecerdasan buatan, kode program, maupun data pelanggan secara tidak sah," tutur Juru Bicara OpenAI, Liz Bourgeois.

3. Peningkatan ancaman spionase di industri kecerdasan buatan

ilustrasi OpenAI, AI ChatGPT (unsplash.com/BoliviaInteligente)

Peristiwa penyusupan fisik ini menunjukkan kerentanan perusahaan teknologi terhadap ancaman mata-mata. Persaingan yang kian ketat antarnegara dan sektor swasta memperbesar risiko pencurian rahasia kekayaan intelektual oleh pihak internal.

Pemerintah Amerika Serikat pun menempatkan perlindungan teknologi strategis sebagai prioritas utama keamanan nasional. Aparat penegak hukum bersama badan intelijen kini mempererat koordinasi guna mencegah penyusupan fisik maupun siber, sekaligus melindungi riset penting dari pencurian data demi keuntungan ekonomi atau geopolitik.

"Situasi serius ini menegaskan pentingnya memenangkan persaingan teknologi kecerdasan buatan di tingkat dunia demi menjaga keamanan nasional," ujar Direktur Intelijen Nasional AS, Jay Clayton.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article