Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Israel Deportasi Jurnalis Prancis karena Kritisi Perang Gaza

Israel Deportasi Jurnalis Prancis karena Kritisi Perang Gaza
bendera Israel (pexels.com/Leonid Altman)
Intinya Sih
  • Israel mendeportasi jurnalis Prancis Alice Froussard karena kritiknya terhadap operasi militer di Gaza, memicu kecaman dari Kedutaan Besar Prancis di Israel.

  • Media dan asosiasi jurnalis Prancis mengecam keputusan Israel yang dianggap menghambat kebebasan pers serta menyoroti meningkatnya pembatasan terhadap peliputan di Gaza.

  • Dalam beberapa bulan terakhir, Israel sering mendeportasi jurnalis dan aktivis asing yang kritis, sementara laporan menunjukkan ribuan korban sipil akibat serangan di Gaza sejak Oktober 2023.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Israel menolak masuk seorang jurnalis Prancis dan mendeportasinya atas kritik terhadap perang genosida Israel di Jalur Gaza. Keputusan ini mendapat kecaman dari Kedutaan Besar Prancis di Israel.

Menurut Kementerian Urusan Diaspora dan Pemberantasan Antisemitisme, Alice Froussard tiba di Israel untuk bekerja pada Kamis (11/6/2026) pagi, tapi kemudian dicegat dan diterbangkan kembali ke Prancis. Kementerian tersebut menuduh Froussard telah membuat serangkaian pernyataan yang dianggap bermusuhan terhadap Israel, termasuk menggambarkan operasi militer di Gaza sebagai pembantaian dan menuduh Israel menerapkan apartheid.

“Dengan senang hati saya mengumumkan bahwa Alice Froussard, jurnalis Prancis yang pro-Hamas dan meyakini bahwa pembantaian 7 Oktober harus dilihat dalam konteks tertentu, sedang meninggalkan Bandara Ben Gurion untuk kembali ke Paris,” tulis Menteri Urusan Diaspora dan Pemberantasan Antisemitisme, Amichai Chikli, di media sosial X.

1. Froussard telah beberapa tahun tinggal dan bekerja di Yerusalem

bendera Prancis (pexels.com/Atypeek Dgn)
bendera Prancis (pexels.com/Atypeek Dgn)

Dilansir The Times of Israel, Froussard telah tinggal dan bekerja di Yerusalem dan Ramallah selama 6 tahun terakhir. Ia bekerja untuk beberapa media Prancis, termasuk Radio France Internationale (RFI), France Culture, Le Figaro, TV5 Monde dan Mediapart.

Laporan menyebutkan bahwa Kedutaan Besar Prancis di Israel menyuarakan ketidakpuasan mendalam terhadap keputusan tersebut. Sementara itu, Froussard hingga kini belum memberikan komentar terkait deportasinya maupun tuduhan yang ditujukan kepadanya.

2. Media Prancis kecam keputusan tersebut

ilustrasi wartawan (pexels.com/Redrecords ©️)
ilustrasi wartawan (pexels.com/Redrecords ©️)

Lembaga penyiaran RFI mengecam keputusan Israel yang melarang masuk Froussard. Pihaknya menyebut langkah itu sebagai hambatan terhadap kebebasan pers.

“Jurnalis RFI Alice Froussard ditolak masuk ke wilayah Israel meskipun ia memiliki izin perjalanan yang diperlukan dan telah mengajukan visa pers untuk bekerja di Tepi Barat. Pihak berwenang Israel tidak memberikan alasan apa pun kepada RFI atas keputusan ini,” kata RFI dalam sebuah pernyataan.

Asosiasi jurnalis France 24, yaitu Société des Journalistes (SDJ), juga mengecam keras keputusan Israel tersebut. Pihaknya menyebut insiden ini terjadi di tengah tren meningkatnya pembatasan terhadap jurnalis yang meliput berita di Gaza.

3. Israel kerap deportasi jurnalis dan aktivis asing yang kritisi kebijakan mereka

ilustrasi jurnalis perang (Mstyslav Chernov/Unframe/http://www.unframe.com/, CC BY-SA 3.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/3.0>, via Wikimedia Commons)
ilustrasi jurnalis perang (Mstyslav Chernov/Unframe/http://www.unframe.com/, CC BY-SA 3.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/3.0>, via Wikimedia Commons)

Dalam beberapa bulan terakhir, Israel telah mendeportasi dan melarang masuk sejumlah jurnalis dan aktivis asing karena kritikan mereka terhadap kebijakan dan tindakan Israel.

Dilansir Anadolu, militer Israel telah membunuh hampir 73 ribu orang dan melukai lebih dari 173 lainnya selama serangan besar-besaran di Gaza yang dimulai pada Oktober 2023. Sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak. Serangan tersebut juga menyebabkan kerusakan luas pada 90 persen infrastruktur sipil di wilayah tersebut.

Menurut Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) pada Juni 2025, sedikitnya 258 jurnalis dan pekerja media telah tewas dibunuh oleh pasukan Israel selama perang di Gaza.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella

Related Articles

See More