Menurut laporan Haaretz pada April 2026, milisi yang didukung Israel di Jalur Gaza telah meningkatkan aktivitas mereka dan mengeluarkan pernyataan-pernyataan agresif sebagai upaya memposisikan diri sebagai alternatif kelompok Hamas. Akibatnya, bentrokan antara kelompok-kelompok milisi tersebut dan Hamas semakin meningkat.
Milisi yang Didukung Israel Culik 7 Paramedis di Gaza

- Tujuh paramedis Palestina diculik oleh milisi yang didukung Israel di Gaza tengah saat menjalankan misi kemanusiaan, lima dibebaskan setelah interogasi sementara dua lainnya masih ditahan.
- Kementerian Kesehatan Gaza mengecam penculikan tersebut dan memperingatkan bahwa penargetan tenaga medis dapat melemahkan sistem layanan kesehatan serta menghambat upaya tanggap darurat di wilayah konflik.
- Analis menilai kemunculan kelompok bersenjata yang melakukan operasi keamanan di Gaza menunjukkan perubahan serius dalam situasi keamanan, dengan aktivitas milisi pro-Israel meningkat dan bentrokan dengan Hamas makin sering terjadi.
Jakarta, IDN Times - Sedikitnya tujuh paramedis Palestina diculik oleh milisi yang didukung Israel di Gaza tengah pada Selasa (9/6/2026). Insiden ini terjadi saat mereka sedang menjalankan misi kemanusiaan.
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, ketujuh anggota Perhimpunan Bulan Sabit Merah Palestina itu ditahan di sebuah pos pemeriksaan yang didirikan di Jalan Salah al-Din, dekat Jembatan Wadi Gaza. Lima di antaranya dibebaskan setelah menjalani interogasi, sementara dua lainnya masih ditahan.
Kementerian mengecam tindakan tersebut dan menyerukan pembebasan segera terhadap paramedis yang masih ditahan. Pihaknya memperingatkan bahwa penargetan terhadap tenaga medis dapat semakin melemahkan sistem layanan kesehatan di Gaza dan menghambat upaya tanggap darurat.
1. Milisi periksa kendaraan dan pejalan kaki yang lewat

Dilansir The New Arab, saksi mata mengatakan bahwa milisi yang didukung Israel mendirikan pos pemeriksaan dan memasang penghalang di jalan Salah al-Din untuk memeriksa kendaraan dan pejalan kaki. Adapun jalan tersebut merupakan jalur utama yang menghubungkan wilayah utara dan selatan Jalur Gaza serta menjadi salah satu rute terpenting bagi warga sipil, pekerja kemanusiaan, dan layanan darurat.
Warga setempat bernama Mohammed mengatakan bahwa pria bersenjata tampak melakukan melakukan tugas keamanan yang mirip dengan militer Israel.
“Mereka bertindak seolah-olah mereka adalah pasukan keamanan resmi. Kendaraan digeledah, identitas diperiksa, dan orang-orang diinterogasi sebelum paramedis ditahan," ujarnya.
Warga lainnya, Sameh, mengatakan bahwa para kru ambulans sedang menjalankan tugas kemanusiaan rutin ketika mereka dihentikan.
"Para paramedis diperiksa di pos pemeriksaan itu, lalu dibawa pergi. Banyak orang terkejut karena mereka jelas sedang menjalankan tugas medis," tuturnya.
2. Kemunculan kelompok bersenjata di Gaza merupakan perkembangan yang mengkhawatirkan

Menurut analis Palestina yang berbasis di Gaza, Mustafa Ibrahim, keberadaan kelompok bersenjata yang melakukan penggeledahan, interogasi dan penahanan menandai perubahan signifikan dalam lanskap keamanan di Gaza.
"Kemunculan kelompok bersenjata lokal yang menjalankan operasi keamanan merupakan perkembangan yang mengkhawatirkan. Kelompok-kelompok ini berupaya membangun kehadiran di wilayah tertentu dengan mengambil alih tugas yang sebelumnya menjadi tanggung jawab eksklusif militer Israel," ujarnya.
Ibrahim mengatakan bahwa keberadaan pos-pos pemeriksaan semacam itu menimbulkan pertanyaan penting mengenai identitas kelompok tersebut, mandat yang mereka miliki dan perlindungan yang mereka terima. Ia juga menegaskan bahwa penahanan terhadap tenaga medis memiliki implikasi hukum berdasarkan hukum humaniter internasional.
“Tenaga medis mendapat perlindungan khusus berdasarkan Konvensi Jenewa dan hukum humaniter internasional. Pekerjaan mereka harus dilindungi dan difasilitasi, terutama di zona konflik,” tambahnya.
3. Milisi yang didukung Israel terus meningkatkan aktivitas mereka di Gaza

Kelompok-kelompok bersenjata itu dikenal sebagai Milisi Abu Shabab, merujuk pada Yasser Abu Shabab, seorang rival Hamas yang mendirikan milisi bernama Popular Forces dengan dukungan Israel. Kelompok tersebut beroperasi di wilayah selatan Jalur Gaza selama berlangsungnya perang di Gaza, yang meletus pada Oktober 2023. Abu Shabab tewas dalam bentrokan antarkelompok milisi pada Desember 2025.
Milisi-milisi tersebut biasanya beroperasi di sepanjang Garis Kuning, yakni perbatasan sementara yang memisahkan wilayah yang dikuasai Hamas dan zona yang dikendalikan militer Israel, di Gaza selatan.


















