Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jinping bertemu di Kremlin pada 8 Mei 2025 untuk melakukan pertemuan dan membahas berbagai isu penting. (Kremlin.ru, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)
Laporan The Independent menyebut dokumen tersebut menempatkan China sebagai tantangan strategis terbesar bagi Tokyo karena terus memodernisasi kekuatan militernya dan meningkatkan aktivitas di sekitar wilayah Jepang, termasuk Laut China Timur serta kawasan Taiwan. Dokumen itu juga menyoroti operasi gabungan China dan Rusia melalui patroli laut serta penerbangan bersama pesawat pembom.
Salah satu insiden memperlihatkan pesawat pembom China dan Rusia terbang mendekati Tokyo serta melintasi pulau-pulau selatan Jepang untuk pertama kalinya sehingga direspons dengan pengerahan pesawat tempur Pasukan Bela Diri (SDF) Jepang.
“Penerbangan bersama pesawat pembom China dan Rusia serta latihan angkatan laut jelas dimaksudkan sebagai unjuk kekuatan terhadap negara kita dan mewakili kekhawatiran serius bagi keamanan nasional,” isi dokumen itu, dikutip The Independent.
Kemitraan Rusia dengan China dan Korut juga disebut meningkatkan ketegangan kawasan karena kerja sama militer Moskow dikhawatirkan memperkuat kemampuan militer Pyongyang dalam jangka menengah hingga panjang, terutama melalui pengembangan sistem rudal hipersonik canggih. Dokumen tersebut turut mencatat kemunculan Presiden China Xi Jinping, Presiden Rusia Vladimir Putin, dan Pemimpin Tertinggi Korut Kim Jong Un yang berdiri berdampingan dalam parade militer di Beijing.
Korut tetap dipandang sebagai ancaman mendesak karena terus mengembangkan senjata nuklir dan rudal balistik yang mampu menjangkau wilayah Jepang. Berdasarkan data operasional periode April 2025 hingga Maret 2026, Pasukan Bela Diri Udara Jepang mencatat 595 kali pengerahan darurat (scramble), terdiri atas 366 intersepsi terhadap pesawat China dan 214 terhadap pesawat Rusia.