Kesepakatan Damai 90 Persen, Perang Rusia-Ukraina Berakhir di 2026?
.jpg)
- Ukraina ingin damai tanpa mengorbankan kedaulatannya
- Zelenskyy menegaskan penarikan dari Donbas berarti kehilangan segalanya
- Rusia menguasai sebagian besar wilayah Donetsk dan Luhansk di Donbas
- Ketegangan meningkat setelah tuduhan serangan drone ke kediaman Putin
- Uni Eropa menyebut klaim Rusia sebagai pengalihan perhatian
- Kremlin menyatakan insiden tersebut akan memengaruhi sikap Rusia dalam perundingan damai
- Zelenskyy menekankan pentingnya jaminan keamanan yang konkret dan mengikat secara hukum
- Washington menawarkan jaminan keamanan selama 15
Jakarta, IDN Times - Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan, kesepakatan damai untuk mengakhiri perang dengan Rusia kini telah mencapai sekitar 90 persen. Pernyataan itu disampaikan Zelenskyy dalam pidato Tahun Baru yang menyoroti hampir empat tahun perlawanan Ukraina terhadap invasi besar-besaran Rusia.
Menurut Zelenskyy, 10 persen sisanya justru menjadi bagian paling krusial karena akan menentukan masa depan perdamaian, kedaulatan Ukraina, dan stabilitas Eropa. Ia menegaskan, Ukraina menginginkan perdamaian, tetapi bukan dengan mengorbankan eksistensi negaranya.
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan diplomatik, termasuk tuduhan Moskow bahwa Ukraina menyerang kediaman pribadi Presiden Rusia Vladimir Putin menggunakan drone. Tuduhan itu langsung dibantah keras oleh Kyiv.
Di sisi lain, Rusia tetap mengirimkan sinyal perang. Dalam pidato Tahun Barunya, Presiden Putin menyampaikan keyakinannya pada kemenangan Rusia dan dukungan penuh kepada pasukan militer yang terlibat dalam apa yang disebut Moskow sebagai ‘operasi militer khusus’ di Ukraina.
1. Ukraina ingin damai bukan menyerahkan kedaulatan

Dalam pidato berdurasi sekitar 20 menit, Zelenskyy menegaskan Ukraina tidak menginginkan perdamaian dengan harga berapa pun. Ia menekankan, tujuan utama Kyiv adalah mengakhiri perang, bukan mengakhiri Ukraina sebagai negara berdaulat.
Zelenskyy secara khusus menyoroti wilayah Donbas di Ukraina timur sebagai titik paling sensitif dalam perundingan. Ia menegaskan, penarikan Ukraina dari kawasan tersebut akan berarti berakhirnya segalanya, merespons tuntutan maksimal Rusia yang ingin menguasai penuh wilayah itu.
Saat ini, Rusia menguasai sekitar 75 persen wilayah Donetsk dan hampir seluruh wilayah Luhansk. Kedua wilayah itu dikenal sebagai kawasan Donbas, yang sejak awal menjadi pusat konflik dan hambatan utama dalam setiap upaya perundingan damai.
Zelenskyy menegaskan, Rusia sejauh ini tidak menunjukkan kesediaan untuk berkompromi terkait Donbas. Sikap Moskow inilah yang membuat sisa 10 persen kesepakatan damai menjadi sangat menentukan dan penuh risiko politik.
2. Serangan drone ke kediaman pribadi Putin

Ketegangan meningkat setelah Rusia merilis apa yang disebut sebagai bukti serangan drone Ukraina ke kediaman pribadi Putin di Danau Valdai, Rusia barat laut. Moskow menyebut drone tersebut diluncurkan dari wilayah Sumy dan Chernihiv di Ukraina.
Rusia juga merilis video yang menunjukkan puing-puing drone di area berhutan bersalju, dengan seorang personel militer mengklaim itu adalah drone Ukraina jenis Chaklun. Namun, rekaman tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Ukraina dengan tegas membantah tuduhan tersebut. Uni Eropa melalui diplomat utamanya, Kaja Kallas, menyebut klaim Rusia sebagai pengalihan perhatian yang disengaja. Kallas menudingnya sebagai upaya untuk menggagalkan proses perdamaian yang sedang berlangsung.
Kremlin menyatakan, insiden tersebut akan memengaruhi sikap Rusia dalam perundingan damai. Pernyataan ini semakin mempertebal keraguan internasional terhadap komitmen Moskow untuk benar-benar menghentikan perang.
3. Jaminan keamanan bagi Ukraina usai perdamaian

Zelenskyy juga menekankan pentingnya jaminan keamanan yang konkret dan mengikat secara hukum. Ia menyatakan niat baik saja tidak cukup tanpa ratifikasi resmi yang dapat menjamin keamanan Ukraina dalam jangka panjang.
Usai bertemu Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Florida, Zelenskyy mengungkapkan, Washington menawarkan jaminan keamanan selama 15 tahun. Namun, ia mengakui belum ada kejelasan mengenai jadwal dan mekanisme penerapannya.
“Penandatanganan perjanjian yang lemah hanya akan memicu perang baru,” kata Zelenskyy, dikutip dari BBC, Kamis (1/1/2026).
Ia menegaskan, dunia dihadapkan pada dua pilihan, yakni menghentikan perang Rusia atau membiarkan Rusia menyeret dunia ke dalam konfliknya.
Sementara itu, Putin dalam pidato Tahun Barunya yang jauh lebih singkat menegaskan dukungan kepada pasukan Rusia dan menyatakan keyakinan penuh pada kemenangan. Nada konfrontatif itu diperkuat oleh dukungan Korea Utara, yang kembali menegaskan aliansi militernya dengan Moskow.



















