Komandan Militer Hamas Tewas akibat Serangan Israel di Gaza

- Komandan militer Hamas, Izz al-Din al-Haddad, tewas bersama keluarga akibat serangan udara Israel di Gaza yang menghantam apartemen dan kendaraan yang ditumpanginya.
- Pemerintah Israel menuduh al-Haddad sebagai otak serangan 7 Oktober dan menyebut kematiannya sebagai keberhasilan besar dalam operasi militer melawan Hamas.
- Hamas mengonfirmasi kematian al-Haddad, mengecam tindakan Israel sebagai pelanggaran gencatan senjata, serta menegaskan pembunuhan itu tidak akan melemahkan perjuangan mereka.
Jakarta, IDN Times - Komandan sayap militer Hamas, Izz al-Din al-Haddad, dilaporkan tewas dalam serangan udara Israel di Kota Gaza. Serangan yang terjadi pada Jumat (15/5/2026) malam itu juga merenggut nyawa istri dan putrinya.
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) dan Hamas telah mengonfirmasi kematian al-Haddad pada hari Sabtu. Hamas menganggap ini sebagai pelanggaran serius terhadap kesepakatan gencatan senjata yang sedang berlangsung.
1. Kediaman al-Haddad dihantam tiga rudal Israel

Militer Israel meluncurkan tiga rudal secara bersamaan ke gedung apartemen Al-Mu'taz di lingkungan Remal, Gaza barat, yang dihuni Al-Haddad. Serangan ini sempat memicu kebakaran besar di lokasi kejadian.
"Komandan senior Ezzedine Al-Haddad dibunuh dalam sebuah serangan mematikan Israel. Operasi udara tersebut secara spesifik menargetkan sebuah apartemen perumahan dan kendaraan sipil di Kota Gaza kemarin," tutur seorang pejabat Hamas, dilansir France 24.
Tim penyelamat menghadapi kesulitan saat mengevakuasi para korban. Beberapa sumber medis menyatakan empat orang tewas akibat serangan di bangunan sipil tersebut.
Al-Haddad diduga terluka parah dalam serangan awal dan dievakuasi oleh anggota Hamas yang berpakaian sipil. Namun, jet tempur Israel kembali menyerang mobil yang sempat membawanya sejauh 1,5 kilometer dari lokasi apartemen.
Tiga orang tewas akibat serangan yang menyasar kendaraan tersebut. Israel mengaku telah melancarkan operasi penipuan di kawasan barat Negev sebelum meluncurkan serangan ini.
2. Israel tuduh al-Haddad sebagai arsitek serangan 7 Oktober

Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Katz menyebut al-Haddad sebagai arsitek serangan 7 Oktober. Mereka menuduh komandan Hamas itu menyandera ratusan warga Israel dengan perlakuan yang kejam.
Pemerintah Israel berdalih bahwa al-Haddad menolak menerapkan perjanjian damai dari Presiden AS Donald Trump. Perjanjian tersebut mewajibkan Hamas untuk segera menyerahkan seluruh senjatanya di Jalur Gaza.
Kepala Staf IDF Letnan Jenderal Eyal Zamir menganggap pembunuhan ini sebagai sebuah pencapaian yang signifikan. Ia menegaskan bahwa Israel tidak akan pernah berhenti memburu musuh-musuhnya di mana pun mereka berada.
"IDF akan terus mengejar musuh-musuh kita, menyerang mereka, dan meminta pertanggungjawaban semua orang yang mengambil bagian dalam pembantaian 7 Oktober. Kami tidak akan menyerah sampai kami menangkap semuanya," ujar Letnan Jenderal Eyal Zamir, dilansir The Jerusalem Post.
3. Al-Haddad telah selamat dari enam kali upaya pembunuhan

Al-Haddad yang berusia pertengahan 50-an tahun telah bergabung dengan sayap militer Brigade Qassam sejak awal pembentukannya pada 1987. Ia kemudian mengambil alih komando militer di Gaza pada bulan Mei 2025.
Sepanjang hidupnya, tokoh yang diketahui fasih berbahasa Ibrani ini pernah selamat dari enam kali upaya pembunuhan oleh Israel. Hamas kini menyatakan sangat berduka atas kehilangan salah satu pejuang terbesarnya dan mengecam tindakan Israel.
Kelompok perlawanan Palestina itu menganggap aksi pembunuhan ini sebagai upaya Israel memaksakan realitas politik baru. Hamas juga menegaskan bahwa agresi semacam ini tidak akan melemahkan perjuangan mereka.
"Hal ini menunjukkan pengabaian Israel terhadap semua hukum dan konvensi internasional, serta upaya gagalnya untuk memaksakan realitas politik dan militer yang tidak mampu dicapainya dengan kekerasan," kata perwakilan Hamas, dilansir Al Jazeera.
















