Korea Tetap Andalkan RI untuk Pasokan Energi di Tengah Krisis Global

- Korea Selatan menegaskan Indonesia sebagai pemasok energi utama, terutama LNG dan batu bara, di tengah ketidakpastian global yang memengaruhi stabilitas pasokan energi dunia.
- Kolaborasi Indonesia dan Korea Selatan melahirkan kendaraan listrik pertama di Indonesia, menandai kedalaman kerja sama ekonomi lintas sektor antara kedua negara.
- Kunjungan Presiden Prabowo ke Seoul menghasilkan peningkatan hubungan menjadi Kemitraan Strategis Komprehensif Khusus, membuka peluang besar bagi proyek energi dan ekonomi masa depan.
Jakarta, IDN Times - Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menyebut Indonesia sebagai pemasok energi yang sangat stabil di tengah ketidakpastian global. Kerja sama di bidang LNG, batu bara, hingga kendaraan listrik menjadi sorotan utama dalam kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo ke Seoul.
Presiden Lee menyampaikan apresiasinya atas peran Indonesia sebagai mitra energi yang andal. Ia mengungkapkannya saat Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan kenegaraan ke Seoul.
Dalam sambutannya, Lee menegaskan pentingnya hubungan energi kedua negara yang semakin krusial di tengah gejolak geopolitik global saat ini.
1. Korea Selatan andalkan pasokan dari Indonesia

Korea Selatan selama ini mengandalkan pasokan LNG dan batu bara dari Indonesia untuk memenuhi kebutuhan energinya. Di tengah ketidakstabilan pasar energi global yang dipicu berbagai krisis, ketergantungan ini menjadikan Indonesia mitra yang sulit tergantikan bagi Seoul.
“Kami sangat yakin mengetahui Indonesia menyediakan LNG dan batu bara secara sangat stabil kepada Korea,” ujar Lee dalam sambutannya.
Ia menekankan, situasi ini perlu dimanfaatkan lebih jauh dengan memperluas kerja sama di bidang pasokan energi dan keamanan sumber daya.
Lebih jauh, Lee menyebut perlunya memperkuat kerja sama ekonomi kedua negara sebagai langkah nyata menghadapi dampak krisis global.
“Guna meminimalkan dampak negatif isu-isu global tersebut, perlu bagi kita untuk terus meningkatkan kerja sama ekonomi antara kedua pihak,” katanya.
2. Mobil listrik pertama Indonesia lahir di kolaborasi dengan Korea Selatan

Hubungan ekonomi Indonesia dan Korea Selatan tidak berhenti di sektor energi. Lee turut menyinggung pencapaian penting di sektor otomotif yang menjadi bukti nyata kedalaman kerja sama kedua negara.
Ia mencatat, kendaraan listrik pertama Indonesia diproduksi bersama sebuah perusahaan Korea. Fakta ini ia jadikan contoh konkret bagaimana kedua negara kerap menjadi yang pertama dalam berbagai bidang kerja sama, lalu bersama-sama memperluas cakupannya.
“Indonesia adalah destinasi investasi pertama bagi perusahaan-perusahaan Korea dan mitra berharga yang telah membantu mewujudkan industri pertahanan Korea,” ungkap Lee, di Blue House, Seoul, Rabu (1/4/2026).
Pernyataan ini menegaskan hubungan ekonomi kedua negara telah berlangsung jauh sebelum tren kendaraan listrik global dimulai.
Lee mengungkapkan harapan besar atas hasil-hasil ke depan. “Seperti pepatah Indonesia, langkah pertama menentukan langkah berikutnya. Kedua negara kita telah mengambil langkah pertama bersama di banyak bidang dan terus memperluas cakrawala kerja sama kita,” tuturnya.
3. Kemitraan ditingkatkan, potensi kerja sama energi terbuka lebar

Kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo ke Seoul menghasilkan peningkatan status hubungan bilateral kedua negara menjadi Kemitraan Strategis Komprehensif Khusus status tertinggi yang hanya dimiliki Korea Selatan dengan satu negara di dunia.
Peningkatan status ini dinilai membuka peluang lebih luas bagi kerja sama energi dan ekonomi antara kedua negara. Lee menyebut momen ini sebagai kesempatan untuk menciptakan lebih banyak proyek masa depan yang bermanfaat bagi kedua bangsa.
“Berdasarkan hasil kerja sama yang telah berhasil sejauh ini, Presiden Prabowo dan saya akan berupaya menciptakan lebih banyak proyek masa depan yang akan sangat menguntungkan rakyat kita,” kata Lee dalam sambutannya.
Ia juga menekankan dalam situasi krisis seperti saat ini, kerja sama di bidang energi dan ekonomi bukan sekadar pilihan, melainkan keharusan.
“Untuk meminimalkan dampak krisis ini terhadap perekonomian dan kehidupan rakyat kita, kita perlu memperluas kerja sama antara kedua negara kita dalam pasokan energi yang stabil dan keamanan sumber daya,” seru Lee.



















