Wabah Hantavirus di Kapal MV Hondius, Ini Fakta Penyebaran dan Risikonya

- Wabah Hantavirus di kapal pesiar MV Hondius menewaskan tiga orang dan memicu penyelidikan global, dengan WHO melacak kontak erat untuk mencegah penularan lebih luas.
- Hantavirus berasal dari hewan pengerat dan dapat menyebabkan gangguan pernapasan atau ginjal; kasus di kapal dikaitkan dengan virus Andes yang endemik di Argentina.
- WHO menegaskan risiko publik tetap rendah, namun seluruh penumpang diwajibkan isolasi 45 hari sementara investigasi mencari sumber kontaminasi di dalam kapal.
Jakarta, IDN Times - Sorotan dunia kesehatan internasional tertuju pada kapal pesiar MV Hondius setelah wabah Hantavirus menewaskan tiga orang. Kapal berbendera Belanda itu membawa ratusan penumpang dalam perjalanan ekspedisi Atlantik Selatan dari Ushuaia, Argentina, menuju kawasan Antarktika.
Kapal tersebut kini diarahkan ke Kepulauan Canary untuk memulangkan penumpang yang sehat ke negara masing-masing. Namun, peristiwa ini memicu pertanyaan besar: Seberapa bahaya virus ini dan bagaimana ia bisa menyebar di kapal pesiar?
1. Korban wabah muncul sejak pelayaran berlangsung

Kasus kematian akibat wabah ini mulai tercatat sejak 11 April 2026. Tiga korban terdiri dari pasangan suami istri asal Belanda dan seorang perempuan asal Jerman, dengan korban pria meninggal di atas kapal sementara istrinya mengalami gejala saat penerbangan pulang lalu wafat setelah tiba di rumah sakit Johannesburg, Afrika Selatan.
Selain itu, sejumlah kasus positif lain juga telah dikonfirmasi. Seorang pria yang dievakuasi dari Ascension Island kini menjalani perawatan intensif di Afrika Selatan.
Tiga orang lain dipindahkan ke Belanda, termasuk pemandu ekspedisi asal Inggris, Martin Anstee, yang sekarang dirawat di Leiden. Sementara itu, seorang penumpang pria juga dinyatakan positif di Zurich, Swiss, setelah turun dari kapal di Saint Helena.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bersama otoritas kesehatan lainnya kini melakukan pelacakan kontak erat terhadap para pasien. Langkah itu dilakukan untuk membatasi potensi penularan yang lebih luas.
2. Apa yang perlu kamu ketahui tentang virus ini?

Hantavirus merupakan kelompok virus yang dibawa hewan pengerat, terutama tikus. Penularan pada manusia biasanya terjadi saat seseorang menghirup partikel debu yang tercemar urine, feses, atau air liur hewan tersebut.
Dilansir New Scientist, di kawasan Amerika, virus ini dapat memicu Hantavirus Cardiopulmonary Syndrome (HCPS), yaitu penyakit gangguan pernapasan berat dengan tingkat kematian mencapai 50 persen. Sementara di Eropa dan Asia, Hantavirus lebih sering menyebabkan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal dengan tingkat kematian sekitar 10 persen.
Hasil pemeriksaan laboratorium dari kasus di MV Hondius menunjukkan infeksi berasal dari virus Andes. Jenis tersebut diketahui sebagai strain endemik Argentina yang dibawa tikus padi kerdil berekor panjang.
3. Bagaimana Hantavirus bisa menyebar di kapal pesiar?

Berbeda dari kebanyakan virus pernapasan, Hantavirus umumnya tak mudah menyebar antarmanusia. Penularan lebih sering terjadi di ruangan tertutup atau area dengan ventilasi buruk seperti kabin kapal maupun tempat penyimpanan yang menjadi sarang tikus.
“Hantavirus umumnya tidak dianggap mudah menular antarmanusia,” ujar Roger Hewson dari London School of Hygiene & Tropical Medicine.
Hewson juga menjelaskan investigasi tetap diarahkan pada kemungkinan lingkungan yang terkontaminasi.
Virus Andes diketahui menjadi satu-satunya strain Hantavirus yang dapat menular melalui kontak dekat antarmanusia, walau kasusnya sangat jarang dan biasanya terjadi di lingkungan keluarga atau pasangan intim. Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengungkapkan pasangan Belanda yang menjadi korban pertama sempat melakukan perjalanan melewati habitat tikus pembawa virus di Amerika Selatan sebelum naik ke kapal.
4. WHO menyiapkan langkah penanganan wabah

WHO menegaskan masyarakat tak perlu panik menghadapi wabah ini. “Ini bukan Covid, ini bukan influenza; ini menyebar dengan sangat, sangat berbeda,” kata Maria van Kerkhove dari WHO, dikutip The Guardian.
Penumpang asal Inggris yang tak mengalami gejala akan dipulangkan menggunakan penerbangan charter dan diwajibkan menjalani isolasi mandiri selama 45 hari. Ketentuan itu diterapkan karena masa inkubasi virus dapat berlangsung hingga enam minggu.
Di sisi lain, laboratorium di Afrika Selatan, Swiss, dan Senegal sedang melakukan pengurutan genom virus untuk dibandingkan dengan wabah di Argentina pada 2018-2019. MV Hondius juga dijadwalkan tiba di Tenerife akhir pekan ini untuk penanganan lanjutan.
Adam Taylor dari Lancaster University menyatakan risiko terhadap publik tetap rendah karena penularan memerlukan kontak langsung dengan produk tubuh hewan pengerat. Otoritas kesehatan saat ini masih berfokus mencari sumber pasti kontaminasi di dalam kapal.


















