Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Menlu AS Ajak Warga Kuba Kerja Sama dengan CIA Gulingkan Pemerintah
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio (9364837@N06, Public domain, via Wikimedia Commons)
  • Menlu AS Marco Rubio mengajak warga Kuba bekerja sama secara rahasia dengan CIA untuk mendorong perubahan politik dan mengakhiri pemerintahan komunis.
  • CIA merilis panduan berbahasa Spanyol bagi calon informan, sementara Donald Trump kembali mengancam pengerahan kapal perang AS ke lepas pantai Kuba.
  • AS memperketat tekanan ekonomi, politik, dan hukum terhadap Kuba, di tengah krisis energi, pangan, inflasi, pemadaman listrik, serta penolakan keras pemerintah Havana.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika Serikat (AS), Marco Rubio, menyerukan warga Kuba yang menginginkan perubahan politik untuk bekerja sama dengan Badan Intelijen Pusat AS (CIA) pada Jumat (23/10/2026). Ajakan terbuka lewat media sosial X tersebut bertujuan mengakhiri kekuasaan pemerintah komunis di negara kepulauan itu.

Seruan ini muncul beberapa jam setelah Presiden AS, Donald Trump, kembali melontarkan ancaman intervensi militer terhadap Kuba dalam kampanye di Fort Myers, Florida. Sejak menangkap mantan Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada Januari lalu, pemerintah AS terus meningkatkan tekanan ekonomi, politik, dan hukum terhadap Havana. Maduro sendiri merupakan sekutu dekat pemerintah Kuba.

1. Rubio sebut sekarang waktu yang tepat untuk perubahan di Kuba

ilustrasi unjuk rasa di Kuba. (unsplash.com/Ricardo IV Tamayo)

Melalui unggahannya, Rubio menyoroti kekecewaan warga Kuba akibat janji pemerintah yang gagal, korupsi, serta kehidupan mewah segelintir elite. Putra imigran asal Kuba itu mendorong warga sipil memanfaatkan peluang saat ini demi menciptakan perubahan lewat kemitraan tersembunyi bersama CIA. Meski demikian, ia tidak merinci bentuk operasi maupun kerja sama intelijen yang dimaksud.

"Bagi mereka yang ingin menciptakan perubahan positif di Kuba, sekaranglah waktunya," tulis Rubio di platform X, dilansir Fox News.

Tak lama setelah unggahan Rubio, CIA merilis video berbahasa Spanyol di platform X yang berisi panduan pengiriman informasi bagi calon informan. Badan intelijen itu menyarankan warga mendatangi langsung kedutaan atau instalasi resmi AS jika situasi memungkinkan dan aman. Bagi warga yang menghubungi lewat jalur daring, CIA menginstruksikan pemakaian koneksi internet aman, peramban privat, serta akun surat elektronik sekali pakai.

Rubio selama ini dikenal sebagai pengkritik keras kepemimpinan komunis di Havana dan menentang normalisasi hubungan kedua negara tanpa reformasi politik. Mantan senator Florida itu menilai Kuba telah menjadi ancaman keamanan nasional selama bertahun-tahun karena menjalin hubungan dengan musuh-musuh AS. Dalam wawancara pada akhir September lalu, ia bahkan menyebut perekonomian Kuba sudah lumpuh dan revolusi di negara itu telah lama mati.

2. Trump ancam kerahkan kapal perang dan utus Rubio ke Kuba

Presiden AS, Donald Trump ( The White House, Public domain, via Wikimedia Commons)

Pernyataan Rubio sejalan dengan pidato Presiden Trump di hadapan pendukungnya menjelang pemilihan paruh waktu AS. Menjawab teriakan penonton soal Kuba, Trump menyebut kapal-kapal perang AS yang baru kembali dari perang di Iran bisa singgah di lepas pantai Kuba. Ia menggambarkan salah satu kapal militer itu akan berhenti sekitar 45 meter dari pesisir hingga membuat pihak Kuba menyerah.

"Kami akan melakukan persinggahan singkat di Kuba dalam perjalanan pulang dari Iran. Setelah mereka menyerah, kami akan mengirim Marco Rubio ke sana untuk menyelesaikan kesepakatan," kata Trump, dikutip dari The Guardian.

Pejabat pemerintah Kuba langsung mengejek seruan rekrutmen CIA dan ancaman militer dari para petinggi AS tersebut. Wakil Menteri Luar Negeri Kuba, Carlos Fernandez de Cossio, menilai langkah AS tersebut merupakan bentuk rasa putus asa. Lewat unggahan di X, ia menyindir badan intelijen AS kini terpaksa mengobral layanannya di ruang publik layaknya menjual pasta gigi.

Menteri Luar Negeri Kuba, Bruno Rodriguez, turut menepis ancaman pengerahan kapal perang Trump dan memperingatkan bahaya bagi pihak asing yang datang dengan niat bermusuhan. Ia menyatakan garis pantai Kuba memang memiliki pemandangan indah, tetapi juga dipenuhi batu kapur tajam yang tidak ramah bagi pihak yang memiliki tujuan jahat. Sebelumnya, Kuba juga mengecam potensi penggunaan kekuatan militer AS terhadap negara tetangga yang damai sebagai kejahatan internasional yang keji.

3. Tekanan berlapis AS di tengah krisis ekonomi dan energi Kuba

sudut Kota Havana, Kuba (unsplash.com/JF Martin)

Pemerintahan Trump terus memperketat sanksi setelah perundingan diplomatik antara pejabat AS dan Kuba dalam beberapa bulan terakhir gagal mencapai kemajuan. Sejak Januari lalu, Washington menerapkan blokade energi dengan mengancam sanksi terhadap negara-negara pemasok bahan bakar ke pulau berpenduduk sekitar 9,4 juta jiwa tersebut. Pakar hak asasi manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengecam blokade minyak itu sebagai pelanggaran hukum internasional, sementara kedua negara kembali bersitegang di PBB pekan ini menjelang pemungutan suara tahunan terkait embargo AS.

Selain tekanan ekonomi, ketegangan memuncak akibat langkah hukum AS terhadap mantan Presiden Kuba berusia 95 tahun, Raul Castro. Jaksa tinggi Florida pekan ini mengumumkan surat perintah penangkapan atas tuduhan pembunuhan terkait penembakan dua pesawat sipil milik organisasi Brothers to the Rescue pada 1996, menyusul dakwaan federal atas kasus serupa pada Mei lalu. Presiden Kuba, Miguel Diaz-Canel, menolak tuduhan yang dinilai tak berdasar tersebut dan menuding Washington sengaja mencari alasan untuk membenarkan agresi militer seperti saat menggulingkan Maduro di Venezuela.

Rangkaian tekanan AS ini memperparah krisis ekonomi dan energi berkepanjangan yang menghantam Kuba sejak 2020. Warga sipil kini harus bertahan hidup menghadapi pemadaman listrik bergilir, kelangkaan bahan bakar serta pangan, lonjakan inflasi, hingga kerusakan infrastruktur. Kondisi sulit di bawah embargo AS selama lebih dari 60 tahun telah memicu gelombang unjuk rasa dan mendorong ratusan ribu warga Kuba bermigrasi ke luar negeri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article