Gertak Kuba, Trump Ingin Parkir Kapal Perang AS Usai Perang Iran

- Donald Trump mengusulkan kapal perang AS yang pulang dari pertempuran Iran singgah dekat Kuba untuk menunjukkan kekuatan dan mendorong kesepakatan dengan Havana.
- Trump dan Menlu Marco Rubio mempertimbangkan intervensi militer, sambil mempertahankan tekanan politik; Rubio juga menyerukan warga Kuba yang ingin perubahan bermitra rahasia dengan CIA.
- AS memperketat sanksi setelah diplomasi mandek, ketika Kuba menghadapi krisis ekonomi-energi sejak 2020 yang memicu pemadaman, kelangkaan pangan, inflasi, demonstrasi, dan eksodus warga.
Jakarta, IDN Times – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengusulkan agar kapal perang AS yang kembali dari pertempuran di Iran singgah di perairan dekat Kuba. Gagasan tersebut disampaikan dalam rapat umum kandidat di Florida Selatan pada Jumat (23/10/2026), beberapa hari sebelum pemilihan paruh waktu yang berlangsung di tengah kekhawatiran pemilih terhadap kenaikan harga bahan pangan dan bensin.
Trump menggambarkan rencana itu sebagai langkah untuk menunjukkan kekuatan militer AS sekaligus mendorong tercapainya kesepakatan dengan pemerintah Kuba.
“Kami akan melakukan sedikit persinggahan. Sebenarnya, apa yang akan kami lakukan dengan Kuba adalah, kami akan kembali dari Iran. Kapal-kapal yang indah itu akan melewati Kuba. Kami akan membuat salah satunya berhenti sekitar 50 yard dari pantai. Mereka akan mengangkat tangan mereka. Dan kemudian kami akan mengirim Marco Rubio untuk menyelesaikan kesepakatan,” katanya, dikutip CBC News.
1. Trump dan Rubio pertimbangkan intervensi militer ke Kuba

ilustrasi militer (pexels.com/Somchai Komkamsri) Trump dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio terus mengambil sikap keras terhadap pemerintahan komunis Kuba. Laporan mengenai rapat di Ruang Oval pada Mei 2026 menyebutkan bahwa keduanya mempertimbangkan intervensi militer setelah administrasi AS mengumumkan tuntutan pidana terhadap mantan pemimpin Kuba, Raúl Castro.
Trump juga mengungkapkan bahwa sejumlah pemerintahan AS sebelumnya telah mempertimbangkan penggunaan kekuatan bersenjata terhadap negara tetangganya itu selama beberapa dekade. Sementara itu, Rubio menilai hubungan Kuba dengan pihak-pihak yang menjadi musuh Washington sebagai ancaman nyata bagi keamanan nasional AS.
Rubio menyatakan AS tetap menginginkan penyelesaian damai, tetapi meragukan kemungkinan tercapainya kesepakatan diplomatik dengan pemerintahan Kuba saat ini. Washington pun mempertahankan tekanan politik terhadap Havana di tengah upaya mencari penyelesaian atas ketegangan kedua negara.
2. Rubio ajak warga Kuba bermitra rahasia dengan CIA

Bendera Kuba (pexels.com/Matthias Oben) Dilansir Times of India, Rubio menyerukan masyarakat Kuba yang menginginkan perubahan politik untuk memanfaatkan kekecewaan terhadap janji-janji yang gagal, korupsi, serta hak istimewa yang hanya dinikmati segelintir orang dengan menjalin kemitraan rahasia bersama Badan Intelijen Pusat AS (CIA).
Menurutnya, saat ini merupakan kesempatan bagi masyarakat Kuba untuk mewujudkan perubahan positif yang mereka inginkan. Pernyataan itu disampaikan tak lama setelah rapat umum Trump berakhir.
Dalam wawancara bersama pembawa acara Fox News, Sean Hannity, Rubio mengkritik kondisi ekonomi Kuba yang dinilainya sudah tak berfungsi. Ia juga menyebut jajaran pimpinan negara tersebut masih mempertahankan doktrin revolusi yang usang selama dua dekade.
Rubio mendorong Kuba mengambil arah politik baru dan menyatakan AS tak akan membiarkan negara itu menjadi basis operasi yang merugikan kepentingan Amerika. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah tekanan Washington terhadap pemerintahan Havana.
3. Trump perketat sanksi saat Kuba hadapi krisis ekonomi

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (The White House from Washington, DC, public domain, via Wikimedia Commons) Upaya pejabat AS dan Kuba untuk memperbaiki hubungan diplomatik dalam beberapa bulan terakhir belum menghasilkan kesepakatan yang memuaskan Washington. AS kemudian memilih memperketat sanksi ekonomi terhadap negara tersebut.
Saat berpidato di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bulan lalu, Trump mengungkapkan bahwa Rubio terlibat langsung dalam negosiasi dengan Kuba. Ia juga menyatakan AS tak akan membiarkan negara tetangganya menjadi tempat perlindungan bagi musuh asing.
Trump menyebut Kuba sebagai negara gagal hingga memicu aksi walkout delegasi negara tersebut dalam sidang PBB. Beberapa hari kemudian, ia mengklaim kesepakatan dengan Havana masih dapat dicapai tanpa pengerahan kekuatan militer.
Di sisi lain, Kuba menghadapi krisis ekonomi dan energi yang berlangsung sejak 2020 hingga menyebabkan kontraksi tajam pada produk domestik bruto (PDB). Sekitar 10 juta penduduk terdampak pemadaman listrik berkepanjangan, kelangkaan bahan pangan, dan inflasi tinggi.
Kondisi tersebut turut memicu gelombang demonstrasi serta eksodus ratusan ribu warga Kuba yang bermigrasi secara massal, terutama ke AS. Krisis berkepanjangan itu membebani kehidupan masyarakat di negara tersebut.






















