Moldova Selidiki Dugaan Intervensi Rusia di Negaranya

Jakarta, IDN Times - Kejaksaan Agung Moldova pada Senin (31/10/2022), mengungkapkan pembukaan investigasi kemungkinan intervensi Rusia di negaranya. Tindakan ini setelah adanya kabar bahwa Badan Keamanan Federal Rusia (FSB) tiba di Moldova untuk menginisiasi kudeta.
Hubungan Rusia dan Moldova terus memanas selama delapan bulan berkecamuknya perang Rusia-Ukraina. Kondisi ini diperparah adanya pengusiran duta besar Rusia dari Chisinau setelah serpihan misil Rusia dari Laut Hitam jatuh di pedesaan Moldova pada Senin pagi.
1. Selidiki dugaan bantuan finansial Rusia ke politisi di Moldova
Keterangan di atas disampaikan Kantor Kejaksaan Agung Moldova pada Senin dengan merangkul Badan Intelijen Moldova (SIS). Sedangkan investigasi ini akan dilakukan dengan meneliti bantuan finansial FSB kepada sejumlah politisi pro-Rusia di negara Eropa Timur tersebut.
"Lebih tepatnya, ini tentang dugaan penyaluran sejumlah uang dari agen FSB dalam membantu aktivitas politisi di Moldova. Kedua pihak diduga bekerja sama untuk menggulingkan rezim pro-Barat dan mengembalikan Moldova ke dalam satelit Rusia," tutur Kantor Kejaksaan Agung, dilansir Balkan Insight.
Pekan lalu, surat kabar The Washington Post mengabarkan bahwa Rusia terus memberikan pendanaan kepada eks Presiden Igor Dodon dan Partai Sosialis Moldova. Namun, Rusia kini beralih ke Ilan Shor untuk meneruskan kepentingannya di negara pecahan Uni Soviet itu.
Di sisi lain, Shor yang melarikan diri ke Israel, dituding membayar demonstran di depan gedung pemerintahan Chisinau. Bahkan, terdapat dugaan Shor dan pendukungnya akan terus menganggu stabilitas pemerintahan pro-Barat Moldova.
2. Sandu berjanji akan mempertahankan pro-Barat Moldova
Pada Selasa (1/11/2022), Presiden Maia Sandu berjanji kepada rakyatnya untuk tetap mempertahankan negaranya ke arah Barat. Hal ini disampaikan di tengah sejumlah ancaman dan tekanan dari Rusia dalam bidang energi dan politik.
"Saya ingin semua tahu bahwa Moldova memilih untuk menjadi bebas dan terus melanjutkan jejaknya ke arah Eropa tanpa memerdulikan situasi yang sedang meliputi kita saat ini," tutur Sandu ketika berkunjung ke Rumania, dikutip dari Associated Press.
"Kami bersedia membayar harga mahal untuk kebebasan kami," tambahnya.
Tak lupa, Sandu juga mengutarakan bahwa Moldova sepenuhnya bergantung terhadap gas alam Rusia. Alhasil, Rusia memanfaatkan kemiskinan Moldova dalam bidang energi untuk menghalangi kami beraliansi dengan Barat.
"Menyediakan listrik di negara kami sekarang adalah tantangan besar. Keluarga di Moldova harus mengeluarkan 75 persen pendapatannya hanya untuk energi. Kami beresiko tidak dialiri listrik dan gas selama musim dingin nanti," katanya.
3. Sandu tegaskan Rusia di balik demonstrasi besar di Chisinau
Pada hari yang sama, Presiden Maia Sandu juga menuding FSB memcoba merusak situasi di dalam negaranya. Lewat wawancaranya dalam saluran televisi Digi24, ia menuding Rusia memanfaatkan partai politik pro-Rusia untuk melancarkan aksinya.
"Kami punya bukti yang menunjukkan koalisi politisi korup yang sudah mencuri uang rakyat Moldova, Badan Keamanan Federal Rusia (FSB), dan partai pro-Rusia di Moldova punya tujuan bersama merusak stabilitas Moldova. Mereka menggunakan kesulitan warga untuk kepentingan mereka, Namun, kami akan tetap mempertahankan demokrasi," tegas Sandu, dilansir dari Odessa Journal.
Sandu juga menekankan bahwa upaya Kremlin mengintervensi urusan dalam negeri Moldova bukanlah hal baru. Maka dari itu, ia menyebut bahwa agen FSB ada di balik demonstrasi besar di negaranya dalam beberapa bulan terakhir.


















