Negosiasi Alot, Trump Pertimbangkan Serangan Baru ke Iran

- Donald Trump dan penasihatnya mempertimbangkan serangan baru ke Iran setelah negosiasi damai di Islamabad gagal mencapai kesepakatan.
- Trump menyatakan siap menyerang fasilitas listrik dan air Iran jika perang berlanjut, namun tetap mengutamakan jalur diplomasi.
- Gencatan senjata dua pekan antara AS, Israel, dan Iran telah disepakati, tetapi Lebanon tidak termasuk dalam perjanjian tersebut.
Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan para penasihatnya dikabarkan sedang mempertimbangkan serangan baru ke Iran. Kabar tersebut dilaporkan oleh Wall Street Journal (WSJ) berdasarkan info dari sumber internal Pemerintah AS pada Minggu (12/4/2026).
Menurut laporan WSJ, AS berencana melakukan serangan baru ke Iran karena proses negosiasi perdamaian berjalan alot. Sebab, negosiasi perdamaian kedua negara yang dihelat di Islamabad, Pakistan, berakhir nihil tanpa kesepakatan damai. Padahal, Trump sangat berharap negosiasi tersebut berhasil.
1. Trump bakal menyerang pembangkit listrik dan fasilitas air milik Iran

Dalam kesempatan terpisah, Trump mengatakan, dirinya akan menyerang pembangkit listrik dan fasilitas desalinasi air milik Iran jika perang berlanjut. Kendati begitu, ia menegaskan akan tetap mengutamakan jalur damai untuk mengakhiri perang dengan Iran.
Trump mengatakan, semua opsi yang terkait dengan Iran kini masih dipertimbangkan. Ia juga tidak mau sembrono dalam mengambil langkah karena hal tersebut bisa menjadi senjata makan tuan bagi Negeri Paman Sam.
“Aku akan membenci untuk melakukannya (menyerang Iran),” ujar Trump saat diwawancara media di lapangan golf pribadinya di Florida, seperti dilansir Anadolu Agency pada Senin (13/4/2026).
2. Perang antara Iran dengan AS dan Israel sudah mereda

Sebagai informasi, perang antara Iran dengan AS dan Israel kini sudah mereda. Sebab, Trump sudah menyepakati gencatan senjata dengan Iran selama dua pekan pada 7 April lalu. Gencatan senjata ini akhirnya disepakati usai AS dan Israel menggempur Iran selama lebih dari satu bulan.
Gencatan senjata ini lantas disambut baik oleh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Netanyahu mengatakan, keputusan tersebut sangat berguna bagi AS, Israel, dan Iran untuk mengakhiri perang.
Sayangnya, AS dan Israel menegaskan, Lebanon tidak terlibat dalam kesepakatan gencatan senjata yang sudah disetujui dengan Iran. Oleh karena itu, Israel hingga kini masih terus menyerang Lebanon. Padahal, menurut pemerintah Iran, dokumen kesepakatan gencatan senjata yang diberikan AS secara eksplisit melibatkan Lebanon.
3. AS dan Iran sudah menggelar negosiasi damai

AS dan Iran juga sudah menggelar negosiasi damai di Pakistan selama 21 jam. Negosiasi ini dilakukan untuk membuat perang antara AS, Israel, dan Iran berakhir secara permanen. Namun, upaya tersebut mengalami kebuntuan. Sebab, AS dan Iran sama-sama belum mencapai kesepakatan damai.
“Kabar buruknya adalah kita belum mencapai kesepakatan. Saya pikir, itu merupakan kabar buruk bagi Iran jauh lebih besar daripada kabar buruk bagi Amerika Serikat,” kata Wakil Presiden AS, JD Vance, usai menggelar pertemuan dengan perwakilan Iran.
Namun, seorang sumber internal Pemerintah Pakistan mengatakan, proses negosiasi antara AS dan iran akan dilanjutkan. Hal ini merupakan upaya agar perang antara Iran dengan AS dan Israel bisa berakhir permanen.















