Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Negosiasi Damai Rusia-Ukraina Berakhir Nihil, Konflik Kian Alot!

Negosiasi Damai Rusia-Ukraina Berakhir Nihil, Konflik Kian Alot!
ilustrasi perundingan damai Rusia dan Ukraina (unsplash.com/Zulfugar Karimov)
Intinya Sih
  • Negosiasi damai tahap ke-3 antara Rusia dan Ukraina di Jenewa berakhir tanpa kesepakatan, meski Amerika Serikat turut menjadi mediator dalam perundingan tersebut.
  • Pihak AS dan Ukraina menilai ada progres positif dari negosiasi, namun keduanya mengakui masih dibutuhkan pembahasan lanjutan untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata.
  • Presiden Zelenskyy menuduh Rusia sengaja mengulur proses negosiasi, sementara konflik yang telah berlangsung hampir empat tahun terus memakan banyak korban jiwa di Ukraina.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Negosiasi damai tahap ke-3 antara Rusia dan Ukraina berakhir nihil. Sebab, usai negosiasi tersebut, tidak ada kesepakatan berarti untuk segera mengakhiri perang di antara kedua pihak.

Berbeda dengan tahap ke-1 dan ke-2 yang digelar di Abu Dhabi, negosiasi tahap ke-3 kali ini digelar di Jenewa, Swis. Perundingan tersebut dihelat selama dua hari, yakni dari Selasa (17/2/2026) dan Rabu (18/2/2026).

Perundingan tersebut merupakan perundingan trilateral. Sebab, bukan hanya Rusia dan Ukraina saja yang hadir di sana, melainkan juga Amerika Serikat yang berfungsi sebagai mediator.  

1. AS dan Ukraina menganggap ada progres dari negosiasi di Jenewa

Progres pekerjaan.
ilustrasi progres (unsplash.com/Gaelle Marcel)

Meski belum berhasil menghasilkan perdamaian antara Rusia dan Ukraina, Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengatakan proses negosiasi yang digelar di Jenewa kemarin berjalan lancar. Leavitt bahkan mengklaim ada progres signifikan dalam upaya perdamaian Rusia dan Ukraina setelah negosiasi tersebut. Namun, ia tidak merinci progres apa saja yang berhasil dicapai.

Lebih lanjut, Leavitt mengatakan, Rusia dan Ukraina akan terus bekerja sama untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata. Itu berarti, perundingan perdamaian antara Rusia dan Ukraina masih akan berlanjut sampai kesepakatan diraih oleh kedua pihak.

Salah satu perwakilan Ukraina yang hadir dalam perundingan di Jenewa, Rustem Umerov, juga mengatakan hal serupa. Umerov menganggap proses negosiasi berjalan intensif sehingga bisa menghasilkan progres. Meski begitu, ia mengaku negosiasi lebih lanjut antara Rusia dan Ukraina masih dibutuhkan.  

"Ini adalah pekerjaan kompleks yang membutuhkan keselarasan di antara semua pihak dan waktu yang cukup," kata Umerov, seperti dilansir BBC.

2. Presiden Volodymyr Zelenskyy menyebut Rusia sengaja mengulur negosiasi

Volodymyr Zelenskyy sedang berpidato.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy (flickr.com/Houses of the Oireachtas via commons.wikimedia.org/Houses of the Oireachtas)

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, yang juga hadir dalam perundingan di Jenewa ikut bersuara. Ia menyebut perundingan tersebut berjalan lancar, tetapi tidak mudah. Sebab, hingga kini, Rusia masih belum mau menyetujui gencatan senjata dengan Ukraina. 

“Kita dapat melihat bahwa kemajuan telah dicapai. Namun, untuk saat ini, posisi masih berbeda karena negosiasi berjalan sulit,” ujar Zelenskyy dilansir Al Jazeera.

Imbas hasil nihil tersebut, Zelenskyy menuduh Rusia sengaja mengulur-ngulur negosiasi damai dengan Ukraina. Sebab, menurutnya, negosiasi damai tahap ke-3 yang dihelat di Jenewa kemarin bisa berakhir dengan kesepakatan gencatan senjata di antara kedua pihak.

"Rusia berusaha mengulur-ulur negosiasi yang seharusnya sudah mencapai tahap akhir," kata Zelenskyy.

3. Konflik Rusia dan Ukraina kian alot

Tentara sedang mengendarai tank baja.
ilustrasi konflik Rusia dan Ukraina (unsplash.com/Kevin Schmid)

Nihilnya hasil negosiasi antara Rusia dan Ukraina yang digelar di Jenewa membuat konflik di antara kedua negara kian alot. Sebab, perundingan tersebut tadinya diharapkan bisa segera mengakhiri konflik Rusia dan Ukraina dengan kesepakatan gencatan senjata.

Pada Selasa (24/2/2026) pekan depan, perang Rusia dan Ukraina akan genap berusia 4 tahun. Sejak pertama kali meletus pada 24 Februari 2022 hingga saat ini, sudah ada puluhan ribu korban jiwa imbas perang tersebut. Korban paling banyak ada di pihak Ukraina karena Rusia terus menyerang mereka.

Serangan terbaru Rusia ke Ukraina terjadi pada Selasa lalu. Serangan yang terjadi pada malam hari tersebut dilaporkan telah menewaskan 4 orang dan melukai 30 lainnya. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ernia Karina
EditorErnia Karina
Follow Us

Latest in News

See More