Lonjakan Penyalahgunaan, Korsel Resmi Tetapkan Etomidate sebagai Narkotika

- Pemerintah Korea Selatan menetapkan etomidate sebagai narkotika mulai 13 Februari 2026 untuk menekan penyalahgunaan, dengan pengawasan ketat melalui Sistem Manajemen Informasi Narkotika di seluruh rantai distribusi.
- Penetapan ini dipicu oleh pengungkapan sindikat besar yang menjual ilegal 316 ribu ml etomidate, melibatkan distributor farmasi, geng kriminal, dan klinik kecantikan ilegal di distrik Gangnam.
- Komunitas medis khawatir regulasi baru dapat memperlambat penanganan darurat karena etomidate penting untuk sedasi tanpa menurunkan tekanan darah, sementara kasus penyalahgunaannya meningkat di kawasan Asia Pasifik.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Korea Selatan (Korsel) resmi menetapkan etomidate, obat anestesi intravena kerja pendek, sebagai narkotika mulai 13 Februari 2026. Langkah ini diambil untuk menekan angka penyalahgunaan obat yang kerap digunakan sebagai pengganti propofol tersebut.
Dengan klasifikasi baru ini, seluruh produk etomidate kini wajib dipantau melalui Sistem Manajemen Informasi Narkotika (NIMS). Pengawasan ketat akan ditetapkan pada setiap tahap, mulai dari: impor dan distribusi, pembelian dan administrasi medis, hingga pemusnahan limbah obat.
Sejak 2020, etomidate telah masuk dalam radar pengawasan, setelah propofol diperketat. Obat ini sering disalahgunakan karena efek sedatifnya yang serupa, tetapi tanpa pengawasan narkotika yang ketat, dilansir Korea Herald.
1. Pembongkaran sindikat terkait penyalahgunaan etomidate
Penetapan tersebut menyusul pengungkapan kasus besar oleh Badan Kepolisian Metropolitan Seoul. Polisi menahan 17 tersangka, termasuk direktur distributor farmasi, anggota geng, dan pengelola klinik ilegal di distrik Gangnam.
Adanya modus operandi, di mana distributor farmasi memperoleh etomidate secara ilegal dan memalsukan laporan pengiriman sebagai ekspor ke sejumlah negara, termasuk Vietnam. Padahal barang tersebut dijual di pasar dalam negeri. Sebanyak 316 ribu ml etomidate dijual secara ilegal, dengan volume yang diperdagangkan disebut cukup untuk menyediakan dosis bagi sebanyak 63.200 orang.
Dari perdagangan terlarang, sindikat tersebut meraup keuntungan ratusan juta won dengan menjual obat ke klinik kecantikan ilegal yang menyamar sebagai pusat perawatan kulit. Polisi juga menyita barang bukti uang tunai senilai 49 juta won (sekitar Rp571,6 juta), yang diduga hasil kejahatan. Para tersangka kini menghadapi jeratan Undang-Undang Urusan Farmasi, dan regulasi narkotika yang baru saja diperketat.
2. Reaksi komunitas medis terhadap regulasi baru

Dilansir Asia Business Daily, meskipun langkah tersebut dimaksudkan untuk mengekang penyalahgunaan, tetapi terdapat kekhawatiran yang meningkat di antara komunitas medis. Penetapan etomidate sebagai narkotika dapat menyebabkan masalah dalam perawatan darurat bagi pasien yang tanda-tanda vitalnya tidak stabil dan nyawanya berisiko.
Berbeda dengan propofol, etomidate dihargai di ruang gawat darurat karena memberikan sedasi tanpa menurunkan tekanan darah pasien. Obat ini diberikan dalam berbagai situasi darurat, termasuk ketika pasien terlalu kesakitan untuk menjalani CT scan atau MRI scan.
Beberapa dokter khawatir bahwa beban administratif dalam menanganinya sebagai narkotika dapat menunda penggunaannya dalam prosedur kritis yang menyelamatkan nyawa, seperti intubasi cepat.
3. Meningkatnya kasus penyalahgunaan etomidate di Asia Pasifik

Menurut Dewan Penasihat tentang Penyalahgunaan Narkoba (ACMD) Inggris, etomidate, turunannya, dan senyawa terkait saat ini tidak tercantum dalam Konvensi Obat PBB. Etomidate biasanya dikendalikan oleh masing-masing negara melalui undang-undang obat nasional atau internasional karena hanya merupakan obat resep.
Dalam beberapa tahun terakhir, bukti penyalahgunaan etomidate dan senyawa terkait dalam jumlah signifikan telah muncul di kawasan Asia Pasifik, khususnya melalui penggunaan perangkat vape. Akibatnya, penerapan kontrol yang lebih ketat. Penggunaan vape sebagai metode konsumsi narkoba berkembang pesat di kalangan dewasa muda di Australia dan Selandia Baru, menawarkan cara mudah untuk terpapar etomidate.
Penyalahgunaan serupa melalui rokok elektrik dan perangkat vaping mulai dilaporkan di Hong Kong, Taiwan, dan Singapura. Produk yang dapat dihisap itu disebut secara lokal sebagai 'space oil' atau 'kpods'. Sementara, di Thailand mereka menyebutnya sebagai 'rokok zombie'. Pada Desember 2024, sebuah fasilitas skala besar untuk sintesis ilegal etomidate diidentifikasi di Bangkok, dengan kemampuan memproduksi lebih dari setengah juta rokok elektrik.
Seoul Economic Daily melaporkan, China menetapkan etomidate sebagai zat yang dikendalikan pada 2023. Ini setelah muncul laporan tentang disfungsi adrenal dan gangguan endokrin pada pasien berusia 15-20 tahun yang telah menggunakan rokok elektrik yang mengandung etomidate dalam jangka waktu lama.
Di sisi lain, Amerika Serikat, Inggris, dan banyak negara Eropa masih mengklasifikasikannya sebagai obat resep non-narkotika, meskipun organisasi internasional seperti UNODC telah mengeluarkan peringatan tentang penyebarannya di pasar gelap.















