Netanyahu Sebut Perang Lawan Iran Tak Akan Berlarut-larut

- Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan perang melawan Iran tidak akan berlangsung lama, meski tetap membutuhkan waktu hingga situasi kembali stabil.
- Presiden AS Donald Trump memprediksi konflik dengan Iran hanya empat sampai lima minggu, namun siap memperpanjang jika diperlukan demi menghentikan program nuklir Iran.
- Perang telah meluas ke Timur Tengah, dengan Iran menyerang beberapa negara dan fasilitas energi, sementara Israel menggempur Hizbullah di Lebanon.
Jakarta, IDN Times - Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyebut perang Israel dan Amerika Serikat melawan Iran tidak akan berlarut-larut atau berlangsung sampai bertahun-tahun. Meski begitu, ia mengaku bahwa perang melawan negara mayoritas Islam Syiah itu bakal memakan waktu sampai situasi kembali normal.
“Saya katakan itu bisa cepat dan menentukan. Mungkin butuh waktu, tetapi tidak akan sampai bertahun-tahun. Ini bukan perang tanpa akhir,” kata Netanyahu dalam program Hannity di Fox News pada Senin (2/3/2026).
1. Donald Trump menyebut perang lawan Iran bakal berlangsung empat sampai lima minggu

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, juga menyatakan hal serupa. Trump memprediksi bahwa perang melawan Iran hanya akan berlangsung selama empat atau lima minggu saja. Namun, ia menegaskan perang dengan Iran bisa jadi lebih lama jika memang dibutuhkan.
“Kami memperkirakan (perang melawan Iran akan berjalan) empat hingga lima minggu. Namun, kami memiliki kemampuan untuk bertahan jauh lebih lama dari itu. Kami akan melakukannya,” ujar Trump dalam konferensi pers pada Senin dilansir The Guardian.
“Seseorang dari media mengatakan, 'Saya pikir Anda akan bosan setelah sekitar satu atau dua minggu'. Tidak, kami tidak bosan. Saya tidak pernah bosan. Jika saya bosan, saya tidak akan berdiri di sini sekarang. Saya berani jamin itu,” lanjut Trump.
2. AS dan Israel masih melakukan serangan terhadap Iran

AS dan Israel sendiri memulai perang dengan Iran pada Sabtu (28/2/2026) lalu. AS mulai menyerang Iran karena mereka tidak kunjung menyetujui kemauan Trump untuk menghentikan program senjata nuklir. Sementara itu, Israel menyerang Iran karena ingin menumbangkan rezim Ayatollah Ali Khamenei.
Hingga saat ini, AS dan Israel masih melakukan serangan ke Iran. Bahkan, Trump menyebut telah melakukan serangan besar-besaran ke Iran selama 36 jam non-stop lewat operasi militer yang disebut Epic Furry. Lewat operasi militer tersebut, Trump juga berjanji akan menyerang Iran dengan kekuatan yang lebih besar.
“Kita menghancurkan mereka. Saya pikir semuanya berjalan sangat baik. Ini sangat ampuh. Kita memiliki militer terhebat di dunia dan kita menggunakannya,” kata Trump kepada jurnalis CNN, Jake Tapper, dalam wawancara yang dihelat pada Senin pagi.
3. Perang sudah meluas ke negara Timur Tengah lainnya

Saat ini, perang antara AS, Israel, dan Iran sudah meluas ke beberapa negara di Timur Tengah. Sebab, Iran mulai melakukan serangan ke Arab Saudi, Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab. Langkah ini dilakukan karena Iran ingin melakukan serangan balasan ke markas militer Negeri Paman Sam yang ada di negara-negara tersebut.
Pada Senin lalu, Iran menyerang perusahaan energi asal Arab Saudi dan Qatar, yakni Aramco dan QatarEnergy. Imbas serangan tersebut, harga minyak global mengalami kenaikan. Terbaru, Iran menyerang Kedutaan Besar AS di Riyadh, Arab Saudi, pada Selasa (3/3/2026) pagi waktu setempat. Serangan itu merusak dan menyebabkan kebakaran di komplek kedutaan AS di Saudi.
Di sisi lain, Israel juga mulai melancarkan serangan udara ke Lebanon. Serangan tersebut ditujukan kepada kelompok milisi Hizbullah karena mereka membantu Iran untuk melawan AS dan Israel.














![[QUIZ] Tes Seberapa Luas Wawasan Kamu Tentang Sejarah Kenabian, Bisa Jawab?](https://image.idntimes.com/post/20250330/kusi-kisah-nabi-cover-7d0b3b2b4abad8912775212d324e6661.jpg)



