Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Netanyahu Tolak Tarik Pasukan Gaza Sebelum Hamas Melucuti Senjata
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu (Avi Ohayon, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons)
  • Benjamin Netanyahu menolak menarik pasukan Israel dari posisi saat ini di Gaza sebelum Hamas melucuti senjata, sekaligus mengembalikan draf demiliterisasi Gaza dari AS dengan sejumlah catatan.

  • Rancangan gencatan senjata mengharuskan Hamas melucuti senjata dan Israel menarik pasukan dari sekitar 60 persen Gaza, tetapi kedua pihak berselisih soal urutan pelaksanaannya.

  • Penolakan Israel memicu tekanan dari utusan AS dan mediator internasional, sementara tekanan politik domestik menjelang pemilu turut memengaruhi sikap Netanyahu terhadap penarikan pasukan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu menyatakan pasukannya tak akan ditarik dari posisi yang kini dikuasai di Jalur Gaza sebelum Hamas benar-benar melucuti senjata. Sikap itu disampaikan melalui video di media sosial pada Selasa (4/8/2026) sekaligus menjadi penolakan terhadap usulan tahap baru gencatan senjata dari Amerika Serikat (AS).

Pemerintah AS telah menyerahkan draf pelucutan senjata Hamas dan demiliterisasi Gaza kepada Israel untuk ditelaah, tetapi Netanyahu mengaku telah mengembalikannya disertai sejumlah catatan.

“Presiden (Donald) Trump dan timnya berpikir mereka bisa membuat Hamas melucuti senjata dan demiliterisasi Gaza, kami sedang memeriksa ini, mereka mengirimkan draft kepada kami, kami tidak setuju, itu bukan draft kami, kami mengirimkan komentar kami,” katanya, dikutip Euro News.

1. Usulan gencatan senjata mengatur pelucutan Hamas

ilustrasi perang (pexels.com/Beyzanur K.)

Rancangan baru tersebut disusun berdasarkan kesepakatan gencatan senjata Oktober 2025 yang mengakhiri operasi militer besar sekaligus membebaskan sisa sandera di Gaza. Dalam skema itu, Hamas diwajibkan mulai melucuti senjata, sedangkan Israel harus menghentikan serangan dan menarik pasukan dari sekitar 60 persen wilayah Gaza yang dikuasainya.

Pengawasan keamanan serta rekonstruksi Gaza selanjutnya direncanakan berada di bawah Pasukan Stabilisasi Internasional bersama pemerintahan independen Palestina. Di sisi lain, situasi di lapangan masih diwarnai saling tuding pelanggaran gencatan senjata antara kedua pihak.

Israel tetap berpendapat seluruh tahapan penarikan pasukan hanya bisa dilakukan setelah Hamas menyerahkan senjatanya. Sebaliknya, Hamas meminta penghentian serangan dan penarikan militer Israel lebih dulu sebelum memenuhi kewajiban pelucutan senjata.

2. Israel menyampaikan penolakan terhadap perjanjian baru

ilustrasi perang (pexels.com/Mohammed Ibrahim)

Penolakan resmi Israel disampaikan melalui pejabat anonim, juru bicara luar negeri, serta sekutu politik setelah Trump mengumumkan perjanjian pelucutan senjata tersebut. Pada saat yang sama, Gaza sempat dilanda lonjakan serangan udara yang menewaskan 28 orang sebelum kondisi mereda selama 24 jam berikutnya.

Utusan Utama Dewan Perdamaian Trump, Nickolay Mladenov, kemudian mengecam eskalasi tersebut melalui unggahan di platform X. Ia memperingatkan tewasnya warga sipil dan rusaknya pasokan medis dapat mengganggu diplomasi pelucutan senjata sekaligus melanggar janji dalam kesepakatan Oktober 2025.

Menurut dua sumber tepercaya, teguran terbuka itu mencerminkan kekecewaan dari pihak AS dan para mediator internasional. Setelah itu, Mladenov bersama Penasihat Senior AS untuk Dewan Perdamaian, Aryeh Lightstone, bertemu langsung dengan Netanyahu di Israel.

Ringkasan resmi Dewan Perdamaian menyebut kedua utusan mendesak penghentian serangan Israel dalam pembahasan yang berlangsung konstruktif dan terperinci. Meski memiliki tujuan yang sama mengenai pelucutan senjata serta pembentukan pemerintahan sipil, mekanisme pelaksanaannya masih menjadi perdebatan.

Israel kembali menolak mundur ke garis demarkasi awal dalam perjanjian Oktober 2025 yang telah bergeser lebih jauh ke wilayah Gaza. Seorang pejabat Israel menyatakan pasukan akan tetap berada di garis saat ini untuk menumpas segala bentuk ancaman, sedangkan Hamas menegaskan pelucutan senjata hanya dilakukan jika Israel menarik pasukannya dari wilayah tambahan tersebut.

3. Tekanan politik memengaruhi sikap Netanyahu

bendera Israel (pexels.com/Leon Natan)

Sikap Netanyahu juga dipengaruhi tekanan politik domestik menjelang pemilu. Menteri Keuangan Bezalel Smotrich dan Menteri Permukiman Orit Strouk mengirim surat resmi yang mendesak kabinet keamanan dipanggil untuk memblokir masuknya Pasukan Stabilisasi Internasional ke zona percontohan Gaza. Sementara itu, Anggota Parlemen Partai Likud, Amit Halevi, meragukan efektivitas perjanjian itu.

Pandangan Halevi disampaikan melalui sebuah wawancara kepada CNN.

“Anda bisa membungkus ikan besok dengan perjanjian ini; itu tidak berarti apa-apa. Tidak ada satu pun tentara yang akan bergerak dari Beit Hanoun atau Khan Younis,” katanya.

Sejumlah sumber internal menilai Netanyahu tak akan menjalankan penarikan pasukan sebelum pemilu karena masih meragukan niat Hamas. Menurut laporan, ia memilih berhati-hati agar tak berbenturan langsung dengan Trump sembari berharap Hamas melanggar aturan sehingga memberi pembenaran bagi serangan balasan Israel.

Seorang pejabat senior pemerintahan AS mengatakan Trump akan sangat kecewa apabila Israel gagal mematuhi perjanjian baru tersebut. Sumber diplomatik juga menyebut keberlangsungan kerangka kerja itu sangat bergantung pada besarnya tekanan politik yang akan diterapkan pemerintah AS kepada Netanyahu.

Peneliti Senior Pusat Dayan Universitas Tel Aviv sekaligus mantan pejabat intelijen militer Israel, Michael Milstein, menilai lonjakan korban jiwa merupakan manuver Israel sebelum ruang gerak militernya dibatasi. Ia memperkirakan Netanyahu akan lebih memilih strategi mengulur waktu daripada menolak rencana Trump secara terbuka sampai pemilu selesai karena belum adanya peta jalan dengan jadwal yang konkret.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article