PBB: Tahun 2025 Jadi Paling Mematikan bagi Warga Sipil Ukraina

- 97 persen warga tewas di area yang dikontrol Ukraina
- Serangan Rusia terburuk pada Juli 2025
- Rusia bantah serangan menargetkan warga sipil Ukraina
Jakarta, IDN Times - Misi Pengawas Hak Asasi Manusia (HAM) PBB (HRMMU) pada Rabu (14/1/2026), mengatakan bahwa 2025 menjadi tahun paling mematikan bagi warga sipil Ukraina. Lembaga itu melaporkan terdapat lebih dari 2.500 warga sipil yang tewas di Ukraina.
Beberapa bulan terakhir, Rusia masih melanjutkan serangan ke sejumlah kota di Ukraina. Alih-alih menargetkan militer, serangan itu disebut menyasar sejumlah infrastruktur sipil di Ukraina, termasuk area permukiman warga.
Sehari sebelumnya, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy berencana memperpanjang darurat militer di negaranya. Ia juga menyatakan akan melanjutkan serangan ke dalam teritori Rusia.
1. Sebanyak 97 persen warga tewas di area yang dikontrol Ukraina
HRMMU menyatakan, 97 persen dari warga sipil yang tewas berada di bawah kontrol pemerintah Ukraina. Totalnya ada 2.514 orang tewas dan 12.142 orang lainnya terluka imbas serangan Rusia.
Dilansir Ukrinform, jumlah warga sipil yang tewas pada tahun ini melampaui rekor pada 2024 yang mencapai 2.088 warga sipil yang tewas. Setahun sebelumnya, hanya terdapat 1.974 orang tewas.
“Berdasarkan pantauan kami, kenaikan korban warga sipil yang tewas tidak hanya karena kekerasan di garis depan, tapi juga didorong ekspansi penggunaan senjata jarak jauh yang membuat warga sipil di seluruh Ukraina berisiko terdampak,” ungkap HRMMU.
2. Serangan Rusia terburuk pada Juli 2025
HRMMU mengungkapkan bahwa serangan terburuk Rusia terjadi pada 31 Juli 2025. Saat itu, Rusia melancarkan serangan jarak jauh di Kiev yang menyebabkan 32 warga sipil tewas, termasuk 5 anak kecil dan membuat 170 orang terluka.
Dilansir United24, HRMMU memperingatkan bahwa Rusia masih berfokus pada serangan skala besar pada infrastruktur energi Ukraina. Serangan tersebut berpotensi menimbulkan krisis energi dan pemadaman di sejumlah area di Ukraina.
“Serangan jarak jauh yang menargetkan infrastruktur energi Ukraina berarti akan membuat perang ini berdampak langsung kepada warga sipil meski berada jauh dari garis depan,” ungkapnya.
3. Rusia bantah serangan menargetkan warga sipil Ukraina
Menanggapi temuan ini, Duta Besar Rusia di PBB, Vasilii Nebendzia membantah Rusia menargetkan serangan ke warga sipil Ukraina. Ia menyebut, korban tewas disebabkan oleh serpihan dan ledakan dari sistem pertahanan udara Ukraina, dikutip dari Politico.
Di sisi lain, tentara Rusia masih mengupayakan untuk merebut sejumlah teritori di Ukraina bagian timur dan selatan pada 2025. Serangan ofensif ini diduga menimbulkan semakin banyaknya warga sipil yang tewas dan maraknya gelombang pengungsi dari Ukraina.


















