Populasi Merosot, Bhutan Beri Bantuan Tunai untuk Kelahiran Anak

- Pemerintah Bhutan meluncurkan program bantuan tunai bagi keluarga dengan anak ketiga dan seterusnya, sebesar 10 ribu ngultrum per bulan hingga anak berusia tiga tahun.
- Kebijakan ini muncul akibat penurunan angka kelahiran sekitar 26 persen sejak 2015, yang menimbulkan kekhawatiran terhadap ketersediaan tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi negara.
- Tingginya migrasi anak muda ke luar negeri turut memperburuk krisis demografi, sehingga pemerintah berharap insentif ini dapat menciptakan lingkungan keluarga yang lebih stabil dan sejahtera.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Bhutan resmi meluncurkan program bantuan tunai bagi keluarga yang memiliki anak ketiga dan seterusnya, pada Sabtu (6/6/2026). Kebijakan ini diambil sebagai langkah mengatasi masalah penurunan jumlah penduduk di negara tersebut.
Langkah ini menyasar langsung masalah rendahnya angka kelahiran dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintah Bhutan menilai masalah demografi ini harus segera diatasi karena berdampak pada ketersediaan tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi pada masa mendatang.
1. Bantuan tunai diberikan hingga anak berusia tiga tahun
Pemerintah akan memberikan bantuan sebesar 10 ribu ngultrum (Rp1,9 juta) per bulan. Dana ini diberikan khusus untuk setiap kelahiran anak ketiga dan anak berikutnya.
Insentif ini berlaku untuk anak yang lahir mulai Kamis (4/6/2026). Bantuan uang tersebut akan terus disalurkan setiap bulan hingga anak berusia tiga tahun.
Aturan ini juga berlaku bagi anak ketiga atau seterusnya yang lahir sebelum 4 Juni 2026. Syarat utamanya, anak tersebut belum genap berusia tiga tahun pada saat tanggal penerapan kebijakan.
"Masyarakat bebas untuk memiliki tiga, empat, lima, enam, atau tujuh anak dan tetap mendapatkan bantuan ini," kata Sekretaris Kabinet Bhutan, Kesang Deki, dilansir The Straits Times.
2. Angka kelahiran di Bhutan turun 26 persen
Pemberian insentif ini dilatarbelakangi oleh jumlah kelahiran bayi di Bhutan yang terus menurun. Pada tahun 2015 tercatat ada 11.001 kelahiran, lalu angka ini turun menjadi 8.153 kelahiran pada tahun 2024.
Penurunan sekitar 26 persen tersebut terjadi saat tingkat kesuburan penduduk semakin rendah. Saat ini, angka kesuburan di Bhutan terus menurun menjauhi tingkat penggantian populasi ideal, yakni 2,1 anak per perempuan.
Pemerintah memandang tren kelahiran yang rendah serta bertambahnya penduduk lanjut usia sebagai tantangan jangka panjang bagi stabilitas negara.
"Penurunan angka kelahiran ini bukan berarti masyarakat sudah tidak ingin lagi membangun keluarga," kata Menteri Kesehatan Bhutan, Lyonpo Tandin Wangchuk.
3. Dipicu juga oleh tingginya angka migrasi anak muda
Selain rendahnya angka kelahiran, krisis kependudukan di Bhutan turut dipengaruhi oleh tingginya angka migrasi. Banyak anak muda yang memilih pindah dan menetap di luar negeri.
Sebagian besar warga usia produktif memilih pergi ke Australia untuk mencari pekerjaan. Hal ini dipicu oleh tantangan ekonomi di dalam negeri.
Melalui bantuan tunai ini, pemerintah berupaya mendukung terwujudnya lingkungan keluarga yang lebih sejahtera dan stabil.
"Jalan keluarnya adalah memberikan lebih banyak pilihan hidup bagi masyarakat. Ini berarti kita harus memberi layanan kesehatan reproduksi yang lebih mudah dijangkau dan membangun lingkungan yang mendukung keluarga," ucap Kepala Kantor Dana Kependudukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNFPA) Bhutan, Phuntsho Wangyel.

















