Prabowo ke Jepang-Korsel, Legislator: RI Tak Lagi Sekadar Pasar

- Kunjungan Presiden Prabowo ke Jepang dan Korea Selatan menandai perubahan posisi Indonesia dari sekadar pasar menjadi pemain utama di kancah global.
- Indonesia dan Jepang menyepakati kerja sama strategis senilai Rp380 triliun yang berfokus pada energi bersih, kendaraan listrik, serta infrastruktur masa depan.
- Di Korea Selatan, Prabowo menghasilkan 10 nota kesepahaman lintas sektor termasuk AI dan energi bersih, memperkuat langkah Indonesia menuju peran global yang lebih strategis.
Jakarta, IDN Times – Anggota DPR RI, Azis Subekti, menilai kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Jepang dan Korea Selatan menjadi penanda penting perubahan posisi Indonesia di kancah global.
Menurutnya, lawatan pada 29 Maret hingga 1 April 2026 itu bukan sekadar agenda diplomasi biasa, melainkan refleksi arah baru Indonesia yang tak lagi cukup hanya menjadi pasar, tetapi mulai tampil sebagai pemain utama.
1. Bukan sekadar seremoni diplomatik

Azis mengatakan, kunjungan ke Jepang yang dimulai di Tokyo membuka kembali hubungan lama dengan tafsir baru. Pertemuan Prabowo dengan Kaisar Jepang, Naruhito, hingga Perdana Menteri Sanae Takaichi, dinilai tidak hanya bersifat simbolik, tetapi juga mencerminkan kesinambungan hubungan bilateral yang semakin strategis.
Ia menyebut, dialog antara Indonesia dan Jepang kini bergerak dari simbol menuju substansi. Dalam pertemuan bilateral, kedua negara mulai menegaskan kepentingan bersama yang lebih konkret, terutama dalam sektor masa depan.
“Indonesia tidak lagi sekadar membuka pintu. Ia mulai menentukan bagaimana dan untuk siapa pintu itu dibuka,” ujar Azis dalam keterangannya.
2. Kerja sama strategis bernilai ratusan triliun

Salah satu capaian penting dalam kunjungan tersebut adalah kesepakatan kerja sama strategis senilai 23,63 miliar dolar AS atau sekitar Rp380 triliun antara pelaku usaha Indonesia dan Jepang.
Azis menekankan, nilai besar itu bukan satu-satunya hal penting. Menurutnya, perubahan karakter kerja sama jauh lebih krusial karena kini berfokus pada energi bersih, kendaraan listrik, serta pembangunan infrastruktur masa depan.
Ia juga menyoroti pertemuan antara pelaku bisnis kedua negara sebagai faktor kunci yang memperkuat hubungan bilateral. Dalam konteks ini, negara tidak lagi menjadi satu-satunya aktor, melainkan berjalan beriringan dengan sektor swasta.
3. Dari Tokyo ke Seoul, RI masuk peta pemain global

Setelah dari Jepang, kunjungan berlanjut ke Korea Selatan dengan ritme yang berbeda. Azis menyebut Korea sebagai representasi percepatan teknologi dan arah masa depan.
Dalam pertemuan di Seoul, Prabowo bertemu Presiden Lee Jae-myung dan menghasilkan 10 nota kesepahaman lintas sektor, mulai dari ekonomi, pertahanan, hingga pengembangan kecerdasan buatan.
Kerja sama tersebut mencakup kemitraan mineral kritis, energi bersih, hingga teknologi digital dan AI untuk sektor kesehatan. Menurut Azis, hal ini menandakan Indonesia mulai masuk ke ruang strategis yang sebelumnya didominasi negara maju.
“Bagi Indonesia, ini bukan sekadar perluasan kerja sama, tetapi langkah masuk menjadi pemain,” katanya.
Azis juga menyinggung kisah pekerja migran Indonesia di Korea Selatan yang menunjukkan nilai kemanusiaan dalam hubungan antarnegara. Ia menilai, kepercayaan sejati tidak hanya dibangun melalui perjanjian, tetapi juga melalui tindakan nyata masyarakatnya.
Di akhir refleksinya, Azis menegaskan bahwa kunjungan ini membawa pesan penting: Indonesia tidak lagi cukup menjadi pasar, melainkan harus mengambil peran sebagai kekuatan yang ikut menentukan arah masa depan global.


















