Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Somalia Sebut Israel Mau Pindahkan Warga Gaza ke Somaliland

Presiden Somalia Hassan Sheikh Mohamud
Presiden Somalia Hassan Sheikh Mohamud (Chatham House, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)
Intinya sih...
  • Somaliland menerima tiga syarat dari Israel sebagai imbalan atas pengakuan tersebut
  • Pengakuan Israel terhadap Somaliland berisiko tingkatkan eskalasi di kawasan
  • Israel terus melanggar ketentuan dalam gencatan senjata
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Presiden Somalia, Hassan Sheikh Mohamud, menyebut Israel memiliki niat buruk di balik pengakuan resminya terhadap Somaliland, wilayah yang memisahkan diri dari Somalia 34 tahun silam. Ia menuding negara Yahudi tersebut berencana merelokasi paksa warga Palestina dari Gaza ke Somaliland.

“Israel tidak memiliki niat damai dalam kehadirannya di Somalia. Ini merupakan langkah yang sangat berbahaya, dan seluruh dunia—terutama bangsa Arab dan umat Muslim—harus memandangnya sebagai ancaman serius,” kata Mohamud dalam wawancara dengan Al Jazeera.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah Israel, pekan lalu, menjadi negara pertama di dunia yang secara resmi mengakui Somaliland. Somalia dan negara-negara lain mengecam langkah tersebut, menyebutnya sebagai pelanggaran hukum internasional sekaligus ancaman terhadap stabilitas regional.

Somalia tetap mengklaim kedaulatannya atas Somaliland, meski wilayah tersebut telah membentuk pemerintahan sendiri sejak memerdekakan diri secara sepihak pada 1991.

1. Somaliland disebut terima tiga syarat dari Israel sebagai imbalan atas pengakuan tersebut

Mohamud mengungkapkan bahwa menurut informasi dari intelijen Somalia, Somaliland telah menyetujui tiga syarat dari Israel sebagai imbalan atas pengakuan tersebut. Syarat-syarat itu meliputi pemukiman kembali warga Palestina dari Gaza, pendirian pangkalan militer Israel di pesisir Teluk Aden, dan bergabungnya Somaliland dalam Abraham Accords.

Abraham Accords merupakan serangkaian perjanjian yang bertujuan menormalisasi hubungan antara Israel dan sejumlah negara Arab. Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, Maroko, dan Sudan telah lebih dulu menandatanganinya.

Intelijen Somalia juga menemukan bahwa Israel sebenarnya sudah lama hadir di Somaliland. Oleh karena itu, pengakuan resmi terhadap wilayah tersebut dinilai hanya sebagai legitimasi atas hubungan yang sebelumnya telah berlangsung secara tertutup.

Lebih lanjut, Mohamud menambahkan bahwa Israel tengah berupaya menguasai jalur-jalur perairan strategis yang menghubungkan rute perdagangan penting, termasuk Laut Merah, Teluk, dan Teluk Aden.

2. Pengakuan Israel terhadap Somaliland berisiko tingkatkan eskalasi di kawasan

Dikutip dari Anadolu, kehadiran Israel juga dianggap dapat memicu kembali konflik di sejumlah wilayah Somalia dan negara-negara tetangga di sekitar Teluk Aden dan Teluk Arab. Pasalnya, kelompok Houthi di Yaman dan Iran sama-sama memusuhi Israel.

"Jika Israel menjadikan suatu wilayah sebagai proksi untuk menyerang kepentingan pihak lain, maka pihak-pihak tersebut juga akan melakukan serangan balik di Somaliland dan Somalia. Ini tentu bukan pengalaman yang baik,” kata Mohamud memperingatkan.

Pemimpin Somalia itu menambahkan bahwa pendirian pangkalan militer di Somaliland dan relokasi paksa warga Palestina akan semakin meningkatkan konflik, sebuah langkah yang, menurutnya, secara tegas ditolak oleh pemerintah dan rakyat Somalia.

3. Israel terus melanggar ketentuan dalam gencatan senjata

Berdasarkan rencana perdamaian Gaza yang dirilis oleh pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, ditegaskan bahwa tidak ada seorang pun akan dipaksa meninggalkan Gaza. Selain itu, warga yang memilih pergi juga bebas melakukannya dan bebas untuk kembali.

Meski demikian, Israel dilaporkan terus mencari cara untuk mengusir warga Palestina dari Gaza, termasuk melalui penerbangan misterius ke Afrika Selatan. Warga Palestina juga telah lama menyuarakan kekhawatiran bahwa Israel tidak mematuhi ketentuan gencatan senjata dan berupaya memindahkan mereka secara permanen.

Sejak gencatan senjata terbaru diberlakukan pada Oktober, Israel telah membunuh lebih dari 400 orang dalam sejumlah serangan di Gaza. Baru-baru ini, Israel juga menghentikan operasi puluhan organisasi kemanusiaan di Gaza, ketika para pengungsi di wilayah tersebut berjuang menghadapi kedinginan, kelaparan, dan penyakit yang mematikan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us

Latest in News

See More

Wajah Baru Taman Heulang Bogor Usai Direvitalisasi, Kolam Air Mancur Ditutup

07 Jan 2026, 00:05 WIBNews